Diketuk Kenangan

Elfitrieni
Karya Elfitrieni  Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 18 Maret 2018
Diketuk Kenangan

Hari itu aku pulang selepas petang. Sudah hampir dua jam menunggu di balik meja kerja, namun hujannya tak kunjung reda. Akhirnya kuputuskan untuk pulang dengan berpayung ria. Ya... setidaknya hujannya tak sederas dua jam lalu. Jalanan masih belum ramai, belum banyak kendaraan merayap di bawah hujan. Rintiknya yang berkepanjangan menyisakan genangan di sudut-sudut jalan, membuat para pejalan kaki sepertiku sibuk mengintai jikalau ada lubang tak kasat mata.

Dari kejauhan, terlihat sepasang  muda-mudi menembus hujan dengan satu payung. Sesekali si lelaki  berseragam abu-abu itu menggoda dengan menggeser payungnya sedikit hingga si perempuan basah oleh rintik. Ah, romansa masa remaja. Sedang di pelataran toko seberang, pasang wanita-pria lainnya sedang berteduh sambil asik bertukar canda dan tawa. Ah, mungkin hujanku tak akan sepi bila kamu ada di sini.

Hari itu hujan membawaku pada kamu. Iya, tentang aku, kamu, dan hujan yang tak pernah akur, tapi kerap bertemu.


 

Aku masih ingat kamu yang kuyup diguyur hujan sore itu dan kita yang berdebat ala anak remaja lucu tentang siapa yang harus memakai satu-satunya jas hujan kala itu. Kamu tetap memaksaku memakainya, sembari berlari ke motor dan membuka bagasinya. Tapi ternyata kamu lupa mengambil jas hujan yang kau jemur malam kemarin, dan kita hanya bisa terbahak-bahak menertawakan perdebatan kosong yang kita lakukan sejak tadi.

Hujan di lain waktu, kita berteduh di bawah jembatan layang, sambil berharap hujan sedikit lebih reda agar kita bisa cepat-cepat mencari santapan. Kita terlalu lama memutari kota, menyusuri jalan raya tanpa tahu tujuannya kemana, hingga akhirnya (lagi-lagi) terjebak hujan. Ah kini aku menyesal, seharusnya aku punya planning tentang hari itu. Jadi kenanganku tentangmu tak melulu hanya punggungmu yang membelakangiku.

Di waktu lainnya lagi, kita sepakat untuk bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Meskipun window shopping jelas bukan favoritku maupun kamu, tapi setidaknya kita bisa terhindar dari rintik di musim penghujan. Aku memaksamu ikut ke toko buku untuk berburu buku rilisan terbaru penulis favoritku meskipun kamu enggan. Sementara aku tenggelam di antara buku-buku disana, kau hanya mengikutiku dan bertingkah seolah kau sama menikmatinya. Hahaha.

Pertemuan kita sepertinya tak begitu istimewa, ala kadarnya seperti selayaknya seorang kawan lama tak jumpa. Tapi entah kenapa, aku selalu menantikan hari itu tiba, sambil merencanakan hal baru apa yang akan kita lakukan bersama nanti.


 Tiin... tin...

Klakson kendaraan yang bersautan menyadarkanku dari lamunan. Ah, aku tak pernah tahu, bahwa rindu begitu sendu. Ia datang diam-diam di balik pintu, mengetuk kenangan lalu, kemudian merengek ingin bertemu.

  • view 88