Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Proses Kreatif 12 Maret 2018   17:30 WIB
Baik-baik Saja

Selamat Pagi. Ah salah, aku juga tak tahu pagi, siang, sore, atau malam kau akan baca tulisan ini. Sudah lama sekali sepertinya aku tak pernah menulis surat lagi. Terakhir kali mungkin dua tahun lalu, itupun surat ijin sakit salah seorang teman yang tiba-tiba tak bisa masuk kuliah.

Emmm...halo

Mungkin karena ketidak-biasaanku dengan surat menyurat, aku mulai gagu untuk memulai kalimat pertama. Haruskah aku tetap mengawalinya dengan sapaan formalitas semacam itu? Ah, bahkan menuliskannya pun aku tak yakin.

Kamu... apa kabar?

Apa harus kuawali dengan tempat dan tanggal hari ini di pojok kanan serta 'dengan hormat' sebagai pembukanya? Atau bahkan haruskah kutulis sendiri dengan huruf latin yang hampir tak terbaca agar kau percaya? Ah, itu terlalu formal untuk sekedar teman macam kita ini.

Hei, kamu... apa kabar?
Eh, gimana kabarmu?
Hmm... kabarmu?

Ah lupakan saja, sepertinya aku memang tak pandai memulai. Sama sepertimu.
Aku tak ingin banyak berbasa-basi lagi, aku yakin kau pun tak suka membaca kalimat bertele-teleku juga. Bersama datangnya surat ini, aku hanya ingin memastikan: aku baik-baik saja dan kamu juga demikian. Sebenarnya masih banyak tanda tanya yang tak punya jawab sejak saat itu, tapi bukankah tak elok bila aku terus mencerca tanpa pernah menerima. Kau tak perlu menjelaskan apa-apa. Aku baik-baik saja sudah sejak lama.

'Kamu' dalam sajakku tak melulu tentang dirimu. Maka jika kamu menemukanku termenung, bukan berarti hatiku sedang mendung. Jika kamu melihatku terdiam saja, bukan berarti pula aku sedang mencerna cerita lama. Berhentilah bersikap berlebihan menanggapi ke'diam'anku selama ini. Berpetuanglah ke hati lain saja, milikku sudah terkunci.
Aku baik-baik saja, semoga kau juga demikian. (Untuk semuanya,) cukup sekian dan terima kasih. Maaf telah mengganggu pikirmu. Tanpa perlu bertukar tanya, semoga kita akan tetap baik-baik saja.
 

P.S. Mungkin sesekali kita harus bertemu lagi, untuk menunjukkan bahwa perpisahan tak musti dirayakan dengan dendam. Mari bertemu seperti kawan lama tak jumpa, yang menertawakan kegalauan silam, menghargai tawa masa lalu, dan menjadikan kenangan hanya sebagai kenangan tanpa dendam.

Karya : Elfitrieni