Ini Namanya Rindu

Elfitrieni
Karya Elfitrieni  Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 02 November 2016
Ini Namanya Rindu

Mungkin ini yang orang sebut rindu. Ketika langit kamar sesak akan kenangan dan yang bisa kau lakukan hanyalah menontonnya sambil sesekali tersenyum riang. Ada sesak yang menggumpal dalam dada, namun tak ada ruang untuk mengungkapkannya. Ada monster besar bernama rindu yang ingin segera pergi dan lepas dari kurun waktu yang membelenggu dirinya sendiri. Ya, rindu.

------

Ibu bilang, ayah juga ingin pipinya dicium. Tapi gadis kecil berumur tiga tahun itu tak pernah suka dekat-dekat kumis ayah. Geli, katanya. Saat ayah memasang wajah cemberut tanda protesnya, gadis kecil itu berlari ke pangkuan ibu kemudian mencium kedua pipi ibu seolah ingin membuat ayah semakin cemberut lagi.

Ayah bilang, gadis kecilnya paling cemen kalo soal air. Disaat anak lain suka Hari Minggu dengan kartun kesayangannya, gadis ini sangat benci minggu karna hari itu adalah hari keramasnya. Entah apa yang dia takuti dari derasnya air yang mengguyur helai rambutnya. Berkali-kali gadis kecil ini merajuk karna ayah yang berjanji tak akan menuangkan shampo di atas kepalanya kemudian tiba-tiba mengguyurnya habis. Ibu selalu menjadi sosok mujarab penghilang takut dengan menggenggam jari-jari mungil si gadis yang gemetar kedinginan, kemudian menyisir rambut si gadis yang kini sudah tampak lembut dan lebih wangi.

Ibu bilang, ayah tak suka anak yang membangkang, tapi gadis kecilnya susah menurut. Seperti kebanyakan anak, gadis kecil yang masih duduk TK ini suka bermain. Sepulang sekolah, dia berlari ke luar untuk memulai petualangannya lagi. Tapi ‘tak kenal waktu’ dan ‘meninggalkan sholat berjamaah di rumah’ bukanlah hal yang bisa ditolerir ayah. Suaranya tegas dan berat, nada bicaranya terlalu tinggi untuk sekedar mengucap nasehat. Si gadis kecil takut, menangis di dalam pelukan hangat ibu yang menentramkan.

Ayah bilang, senyuman itu yang tak pernah membuatnya lelah untuk selalu pulang di antara segala kesibukan. Gadis kecil ini tak pernah suka rumah sepi yang tanpa ayah. Tidak ada lagi yang ribut menyuruh gadis kecil ini berlari membeli rokok dengan segenggam permen sebagai upahnya berlari-lari. Hari pulangnya ayah dari kota perantauan adalah hari yang ditunggu-tunggunya. Semalam apapun ayah pulang, si gadis kecil merasa harus yang pertama kali menyambut ayah datang.  Pastinya dengan senyuman yang merekah dari sepasang bibir mungilnya.

Ibu bilang, menangis sesekali tak apa, tapi merengek berkali-kali itu dilarang keras!

Ayah bilang, sholat dan mengaji itu bukan hal yang bisa ditinggalkan hanya dengan alasan sakit.

Ibu bilang, nasi tak boleh dibuang-buang. Memang ia tak akan menangis jika tak kau habiskan dari piring kecilmu, tapi ada hati yang menangis ketika jerih payah memasaknya tidak kau indahkan.

Ayah bilang, jatuh adalah hal biasa. Yang luar biasa itu ketika kau berdiri dari jatuhmu kemudian melanjutkan jalanmu dengan tegak kembali (pastinya dengan topangan ayah sebagai salah satu penyemangat sejati).

------

Waktu tak pernah berkompromi untuk sejenak bertahan di saat kau merasakan bahagia sebahagia-bahagianya. Jam bergerak lebih cepat dari yang kau coba hitung. Ada tahapan selanjutnya yang harus ditapaki dan tak bisa ditunda lagi: kedewasaan. Tak ada lagi ciuman untuk pipi ibu, tak ada lagi rengekan atas sikap ayah, tak ada lagi pelukan hangat keduanya yang membawa gadis kecil ibu tidur lelap. Namun yakinlah kasih sayangnya tak akan pernah berada di ujung penghabisan walau tak pernah lagi ditunjukkan dengan bentuk kemanjaan.

Ayah, Ibu, gadis kecilmu rindu...

  • view 486