Aku Malu Ber-Organisasi

Elfa Muhammad Ihsan Al Aufa
Karya Elfa Muhammad Ihsan Al Aufa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Juli 2016
Aku Malu Ber-Organisasi

          Ahad sore adalah jadwalku dan teman-teman mengelola salah satu kegiatan kami, yaitu sanggar jalanan. Idenya sederhana, kami ingin bermakna dan bermanfaat bagi umat, memberantas buta huruf al-Qur’an, serta berbagi bahagia bersama mereka yang berjuang di jalanan setiap hari. Kenapa? Agar kami sadar bahwa ada orang-orang yang tidak seberuntung kami, hingga kami bersyukur pada Rabb semesta alam, dengan berbagi sebagian rezeki yang kami dapatkan. Walaupun kadang tak sesuai dengan rencana, atau malah lebih sering tak sesuai rencana. Ya begitulah mungkin, dinamika organisasi.

            Sore ini, seperti biasa aku datang paling awal, bukan tepat waktu! Tapi lebih banyak yang terlambat daripada aku, atau mungkin yang lain tidak datang lagi. Langit mulai muram, mendung hitam menghiasinya sore ini. “Untung aku bawa payung” gumamku dalam hati. Aku duduk di bangku taman, tepat dibagian ujung taman kota. Aku memilih pojokan agar tak terlalu banyak orang lalu lalang di depanku, aku sedang ingin menyendiri sore ini. Satu persatu anak didik kami menghampiriku, mengucap salam sambil menciumi tanganku, lantas duduk bersamaku menanti yang lain. “kak, kakak yang lain mau datang?” Tanya seorang anak bernama Nita. “InsyaAllah, mungkin mereka sedang dijalan menuju kemari” jawabku sambil tersenyum. Tiga anak sudah duduk bersamaku, sama-sama menanti ditemani mendung diatas langit.

            Anak didik yang lain ikut berdatangan, genap sudah tujuh orang yang datang, atau seluruh anak yang kami bina di sanggar jalanan. Aku bingung, teman-temanku sendiri belum ada yang terlihat batang hidungnya seorang pun, sementara anak-anak sanggar jalanan telah berkumpul semua. “kriing, kriiing” handphone-ku berbunyi, ada beberapa pesan masuk. “yas, maafin aku lagi ada keperluan, belum bisa ke sangggar” satu pesan dari aldi. “yas, maaf banget yah, sebenarnya aku pengen sekali-kali ke sanggar, tapi aku ada acara keluarga, maaf banget yah yas” satu pesan dari Nova. Tiga pesan lainnya pun masuk, dengan isi pesan yang serupa meski dengan redaksi yang berbeda. Lagi-lagi, sore ini aku mengajar anak-anak sendirian. Entahlah, kenapa setiap hari ahad setiap orang mendadak jadi sibuk. “Apa aku pengangguran jadi tidak ada kesibukan lain?” gumamku dalam hati.

            “anak-anak, hari ini belajarnya sama kak yasfa ya, kebetulan kakak-kakak yang lain sedang ada kesibukan dan tidak bisa kesini” jelasku pada anak-anak sambil berusaha tersenyum. “gapapa kak, kami senang ko’ walau berlajar sama kak yasfa saja” teriak salah seorang anak bernama avi sambil tersenyum tulus kepadaku. Ah iya, senyum anak-anak inilah yang selalu jadi penyemangatku setiap ahad, membuat ahadku lebih bermakna dan menyenangkan.

            “Sekarang belajar apa kak?” Tanya nita. “kita mulai dari baca iqro dulu ya” jawabku sambil tersenyum. “ayo siapa yang mau duluan?” tanyaku. “aku kak!” jawab serempak sambil saling berebut ingin jadi yang pertama. Satu persatu anak membaca iqro dihadapanku, sebenarnya bukan buku iqro seperti anak-anak lain punya. Kami hanya mengandalkan kertas-kertas kosong di rumahku, lantas anak-anak menulis huruf-huruf hijaiyah dan kalimat-kalimat bahasa arab. Hmmm, jadi entahlah ini bisa disebut iqro atau bukan. Tapi, keterbatasan yang kami miliki tidak pernah melunturkan semangat belajar kami. Kami tetap bahagia dan ceria, bisa belajar bersama serta berbagi cerita satu sama lain.

            Anak-anak ini sebenarnya tak seberuntung diriku. Avi misalnya, ayah dan ibunya meninggal dunia dalam kecelakaan, saat itu Ia masih sangat kecil. Kondisi keluarganya yang dapat dikatakan miskin, membuat avi luntang-lantung di jalanan, berpindah dari satu terminal ke terminal yang lain. Tidur beralas kardus, tanpa selimut hangat apalagi segelas coklat panas sebelum tidur. Ia sehari-hari makan dari mengamen, malah lebih sering tidak makan. Nita, tak jauh berbeda dengan Avi. Ia tak tahu siapa ayah dan ibunya, yang Ia ingat hanya sejak kecil hidup di jalanan, mengamen, berjualan seadanya, agar bisa tetap hidup meski penuh dengan derita jika dilihat dari kacamata kita. Anak-anak yang lain bagaimana? Tak jauh berbeda! Mereka harus bersusah payah demi sesuap nasi, melawan terik matahari, menembus hujan, tak jarang dicaci dan dimaki oleh para pengendara bermotor.

            Satu persatu anak selesai membaca “iqro”, -jangan bayangkan iqro seperti kalian-. Sedikit-sedikit, aku perbaiki bacaan mereka semampuku. Yah, aku pun sadar bacaanku tak semerdu Syeikh Sudais, Imam Masjidil Haram, malah mungkin tak semerdu bacaan Qur’an nenekku di kampung, tapi setidaknya aku lebih fasih membaca al-Qur’an dibanding anak-anak ini. Aku tersenyum bahagia, anak-anak sudah mulai baik bacaannya. Sudah hafal huruf hijaiyyah, bahkan sebagian sudah siap untuk membaca al-Qur’an langsung. Selesai membaca iqro, kami lanjut dengan me-muraja’ah hafalan surat-surat pendek, mulai dari surat an-Nas hingga at-Takasur. Alhamdulillah, hafalan mereka pun mulai bertambah sedikit demi sedikit. Tak apa, batu jika dihujani air setetes demi setetes, lama-lama juga akan terkikis.

            Gerimis tipis mulai turun, tampias menghujani wajahku, membasahinya sedikit-sedikit. “anak-anak ayo kita pindah ke sana!” ajakku sambil menunjuk kolong jalan. Kebetulan, di kotaku banyak taman kota, salah satunya taman-taman kota dibawah kolong jalanan, cocok sekali bagi kami para pembelajar jalanan agar memiliki tempat berteduh. Hari ini, aku masih mengajar membaca dan menulis. Yah, di sanggar ini kami hanya belajar hal-hal sederhana, utamanya apa yang mampu aku ajarkan kepada mereka. Hari ini, mereka belajar menuliskan kisah mereka saat di jalanan. Ada yang menulis “Aku sang Pejuang jalanan”, adapula yang menulis judul “Pelangi di sudut lampu merah”. Ah judul-judul yang unik, menggambarkan kisah mereka selama berjuang di jalanan. Tak terlihat sedikit pun raut kesedihan di wajah mereka, mereka bahagia membuat pena menari-nari diatas kertas.

            “Ayo, siapa yang mau menceritakan kisahnya di hadapan teman-teman?” tanyaku. Semua saling melirik malu-malu, sampai akhirnya salah seorang anak berdiri dan berkata “Aku kak yasfa!”. Avi pun maju ke depan, menceritakan kisahnya di hadapan kami semua. “Aku memberi judul kisahku ini Pelangi di sudut lampu merah” ucapnya. “Aku sebenarnya tak tahu seperti apa pelangi itu, pelangi yang kata orang begitu indah, dengan tujuh warna-warni yang menghiasinya. Entahlah, aku hanya tahu tiga warna, merah, kuning dan hijau. Tiga warna yang selalu menghiasi hari-hariku di jalanan. Tapi….” Avi agak tercekat, matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar berusaha melanjutkan ceritanya. “Tapi sore itu, aku benar-benar melihat pelangi di sudut lampu merah” ucapnya sambil tersedu-sedu menangis. “aku melihat pelangi, bukan sekedar pelangi. Atau mungkin lebih tepat ku sebut ia malaikat, malaikat yang berbagi senyum denganku. Seperti pelangi yang datang membawa bahagia setelah hujan. Pelangi itu tak terbentuk dari tujuh warna. Pelangi itu berbentuk seorang pria, dengan celana katun hitam, baju koko abu-abu dengan ransel di pundak. Ia berbagi ceria, bahagia, dan canda tawa bersamaku. Ia sesosok pelangi yang hadir di sudut lampu merah, mengulurkan tangannya, menggengam tanganku menuju bahagia. Muhammad Yasfa, Ialah pelangi di sudut lampu merah” ucapnya sambil tersenyum dan berderai air mata.

            Hatiku luluh, meleleh mendengar kalimat terakhirnya. Aku tak memberikan apapun, tapi aku diumpakan bagai pelangi, yang memberi bahagia dan ceria bersama mereka. Sontak ku peluk Avi, dan mencium ubun-ubunnya. Wanita kecil berusia tujuh tahun, ibarat peri kecil yang berbagi bahagia denganku, mengajariku arti kehidupan yang sesungguhnya. Sore itu, satu persatu anak menceritakan kisahnya. Kami tertawa bersama, mendengar kisah-kisah lucu mereka saat di jalanan. Ada yang kecebur ke got, ada yang masuk kubangan, ada yang mengamen di depan mobil, dan ternyata mobil kosong yang sedang parkir. Sore itu, dibawah tampias hujan, menjadi sore yang begitu indah. Gemericik hujan disisi taman menjadi melodi yang amat merdu, menemani sore kami menanti senja.

            Langit di ufuk barat mulai memerah, perlahan senja menutupi langit, ditemani gerimis hujan yang ikut turun. Perlahan, gema adzan terdengar ke seluruh penjuru taman, menyeru orang-orang beriman untuk rukuk dan sujud kepada Rabb-nya. Aku pun mengajak anak-anak ke masjid di ujung jalan, untuk shalat maghrib berjama’ah. Kami pun mengambil wudlu, ku perbaiki beberapa anak yang belum benar berwudlunya. Dimanapun, dalam keadaan apapun, jadikanlah ia media pembelajaran yang baik, begitulah nasihat guruku saat di pondok dulu.

            Kami pun shalat berjama’ah, rukuk dan sujud, berdo’a memohon kebaikan pada Rabb semesta Alam, Allah Swt. selepas shalat dan dzikir, disertai shalat sunnah rawatib, kami pun menutup pembelajaran hari ini dengan berdo’a dan membaca kembali hafalan-hafalan surat pendek kami. Satu persatu anak pun menyalamiku, dan pamit pergi. Avi jadi anak yang terakhir menyalamiku, sambil tersenyum ia mengecup tanganku dan berkata “Kak Yasfa, makasih yah”. “makasih untuk apa?” jawabku sambil tersenyum. “Makasih karena kakak mau berkumpul bersama kami, mengajari kami banyak hal. Avi tahu, kakak mungkin sama sibuknya seperti teman-teman kakak yang lain. Tapi…. Kakak menjadikan kami sebagai bagian dari kesibukan kakak. Makasih yah kak, aku sayang kakak karena Allah” jawabnya sambil tersenyum. Pyaaarrrrr!!! Hatiku seakan diketuk begitu keras, kalimat Avi begitu menyentuh, tak kuasa aku membendung tangis. Tak terasa mataku berkaca-kaca, pelupuk mataku basah oleh bahagia. Aku memeluk Avi dan menciuminya. “kakak juga sayang Avi karena Allah”.

            Hari itu, aku duduk di selasar masjid, memandangi hamparan bintang ditengah gulita. Allahku, maafkan aku yang kadang tak sepenuh hati berjuang di jalan-Mu. Maafkan hamba yang penuh alfa, yang lebih banyak mengeluh daripada bersyukur….

            Aku Malu berorganisasi, jika tak sekuat tenaga mencurahkan dzikir dan fikir dalam berjuang.

            Aku malu berorganisasi, jika aku lalai pada setiap amanah yang tersemat di pundakku.

            Aku malu berorganisasi, jika tak bertotalitas dan loyalitas dalam jalan juang organisasi ini…

            Aku malu berorganisasi, jika tak berbagi makna dan manfaat terhadap sesama…

            Aku malu berorganisasi, jika diri masih kalah oleh hawa nafsu.

            “Allahku, Aku berjanji akan selalu mengemban amanah ini dengan penuh totalitas. Andai ada yang berjuang di jalan-Mu seribu orang manusia, maka aku akan memastikan bahwa salah satunya adalah aku. Bahkan jika hanya ada seorang yang berjuang di jalan-Mu, maka aku akan aku passtikan bahwa itu adalah aku. Dan jika tidak ada lagi yang berjuang di jalan-Mu, maka itu pertanda aku syahid di jalan perjuangan ini” tegasku dalam hati.

  • view 298