SUDAH MENDONGENG HARI INI?

Aulia A Muhammad
Karya Aulia A Muhammad Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Mei 2016
SUDAH MENDONGENG HARI INI?


Selasa, sepuluhan tahun lalu, pukul 08.52 malam. Ponsel Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berdering. Dia lihat nomor di layar, 024-84050XXX. Nomor Semarang. ''Ya, selamat malam...'' dia menyapa.

''Maaf Bu, saya Aulia, dari harian XXX. Bisa wawancara sebentar, Bu?''

''Jika satu jam lagi, masih mungkin tidak, Mas? Saya lagi mendongengi anak saya, nih.''

''Bisa, Bu. Bisa. Satu jam lagi saya telepon, Bu. Selamat mendongeng...''


*****


Di rumahnya yang sejuk di Multikarya, Utan Kayu, Pram mengisap rokoknya. Rokok Djarum, dengan logo Istana di bagian bungkusnya. Pram tergelak ketika menunjukkan bungkus rokok itu. ''Ini pemberian,'' katanya. Sore di tahun 1996 itu dia baru saja berkisah tentang masa-masa dia di Pulau Buru, cara dia mengekalkan ingatan agar cerita di dalam benaknya tak terlupa, dan tentu, hilangnya kepustakaan miliknya yang dirampas militer. Dia lalu berbicara tentang generasi muda.

''Saya selalu menaruh harapan pada anak-anak muda. Tahu sebabnya? Karena anak-anak muda penuh imajinasi. Banyak cerita di kepala mereka. Mereka dihidupi oleh harapan dan bertekad membangun kisah sendiri yang berbeda dari generasi kami. Hanya anak-anak muda yang tidak akan membebek!''


*****


''Dongeng itu penting. Kalau tidak karena dongeng dan cerita-cerita, tidak jadi seperti ini aku.'' Sutarji Calzoem Bahri mengakui itu, sembari menuangkan lagi teh ke dalam cangkir. Malam itu, dia berada di trotoar Simpanglima, Semarang, menikmati teh poci, dan berbagi gelak dengan para penjualnya. Siang tadi, dia sibuk menjadi pengisi sebuah acara di Fakultas Sastra Undip.

''Nanti, ketika kau seumuran aku, kau akan juga melihat masa mudamu seperti dongeng, atau cerita pendek. Jadi kau isilah itu dengan dongeng yang bagus.''


*****


''Lihatlah, di bawah lampu ini, kita tiba-tiba berubah. Warna bajumu, warna kulitmu, jadi berbeda. Begitu kita masuk ke dalam diskotik, kita dipaksa jadi sosok yang berbeda, kita pun melihat orang dengan cara yang berbeda.''

Seno Gumira Ajidarma menyesap minumannya. Dia ke Semarang untuk mengisi seminar ''Sastra dan Kekuasaan'' di Fakultas Sastra Undip, nyaris dua puluh tahun lalu. Tapi malamnya, dia terdampar di klub malam ini, di daerah Tanah Mas. Tangannya berkali-kali menunjuk sosok-sosok di bawah lampu. Dan memintaku membayangkannya sebagai sosok yang berbeda. Ketika kutanya mengapa dia seperti mudah sekali membangun dan menuliskan cerita, dia tertawa.

''Jika dibilang mudah, ya tidak. Semua ada prosesnya. Tapi, barangkali saya bisa menulis seperti ini karena saya juga suka membaca dan mendengarkan cerita. Saya suka dongeng, suka cerita silat, dan terkadang membayangkan cerita sendiri. Dari cerita dan dongeng-dongeng itulah imajinasi saya terbangun dan terbentuk.''

*****


''Kenapa selalu kisah nabi-nabi dan para sahabatnya terus yang Ibu ceritakan? Aku sudah hapal kok kisah Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, juga Khalid bin Ibnu Walid. Ibu nggak punya kisah yang lain?''

Ibu tersenyum. Di usap-usapnya kepalaku. ''Ibu punya kok banyak kisah dan dongeng lain. Tapi untuk Ia, ibu pilihkan kisah rasul dan sahabat dulu. Biar Ia tahu, bahwa yang paling penting dalam hidup itu adalah kesetiaan, kekukuhan dalam iman, keberanian dalam kebenaran. Dan itu hanya dimiliki para nabi dan sahabatnya. Ibu berharap, pekerti mereka akan jadi pondasi karaktermu. Adapun kisah-kisah yang lain, nanti Ia akan mendapatkannya sendiri.''

Dilihat 100