MARI MENEMPATKAN BAHAGIA

Aulia A Muhammad
Karya Aulia A Muhammad Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Mei 2016
MARI MENEMPATKAN BAHAGIA

Ketika kami bertemu pagi itu, yang tergaris di pikiranku adalah obrolan yang ringan dan jenaka, yang memancing banyak tawa. Maklum, kami jarang berjumpa. Berikutnya, kami dua jenis kelamin yang berbeda. Tentu tak asik jika yang lahir adalah keluhan, atau perbincangan yang mengernyitkan kening. Tapi harapan dan kenyataan acap bermusuhan. Ketika baru saja kusandarkan punggung ke sofa, dan bersiap menyesap kopi yang telah dia pesankan lebih dahulu sambil menunggu kedatanganku, pertanyaannya telah membuat rasa hausku bertambah.


''Bagaimanakah rasanya bahagia itu, Ia?''


Bayangkan. Bagaimana aku harus menjawab hal itu. Tapi melihat parasnya yang serius, aku tahu harus segera merumuskan jawaban. Jika tidak, bisa jadi dia akan menuntutku ke penghulu. Lho? :D

''Wah, aku nggak tahu, Ann. Bagiku, bahagia itu sifatnya personal. Jadi, sangat mungkin apa yang kurasakan pasti berbeda dengan yang engkau rasakan.''


''Personal? Hmm.. Oke deh. Tapi apa sih bahagia itu?''


''Nah, itulah rumitnya, aku tak pernah mendefinisikan bahagia. Jadi, maaf banget, aku tidak tahu makna otentiknya. Barangkali aku justru bahagia karena tidak pernah sibuk mencari-cari, apa itu bahagia.''

Kusesap kopi, dengan seruputan yang bersuara. Sengaja. Aku ingin dia mencela aksi itu, dan membuat percakapan ini berpindah jalur. Tapi, dia ternyata tak menyerah.


''Maksudmu tak mendefinisikan?''


''Begini ya, Ann, yang cakep... Daripada sibuk mendefinisikan bahagia, aku memilih cara yang lain: menempatkan bahagia. Jadi, aku bisa dengan gampang menamakan situasi yang sederhana sebagai kebahagiaan.''


''Misalnya?''


''Hujan-hujan begini, bercakap-cakap denganmu.''


''Hmm... terdengar indah. Tapi apakah sungguh itu yang namanya bahagia?''


''Mana aku tahu.'' Aku tertawa.


''Lho?''


''Kan sudah kubilang, ini sifatnya personal. Yang terasa bagiku, belum tentu berdenyut padamu. Aku menempatkan bahagia itu pada situasi yang temporal, kecil, sebentar: saat-saat ketakberhinggaan. Jadi, bukan bagaimana aku mencarinya, tapi seperti apa aku menempatkannya. Percaya deh, semakin engkau cari, bahagia itu akan kian tidak kamu temui. Bukan karena dia tak ada, atau sulit ditemukan, melainkan karena dia tak berada di mana-mana.''


''Kok jadi rumit, Ia?''


''Hahaha... Jadi terasa rumit kalau kamu masih mencari-cari. Lupakan saja. Tahu nggak, kalau kamu mencari sesuatu, biasanya kamu datangi tempat-tempat yang jauh, yang tersembunyi, yang sulit. Padahal, kalau kamu menempatkan bahagia, kamu tak perlu ke mana-mana, tak perlu merasa memiliki apa-apa, tak harus berusaha menjadi apa-apa. Bahagia itu --aduh, jadi kesannya mendefinisikan nih-- bukan sesuatu yang harus engkau lakukan untuk memenuhi hasrat orang lain. Untuk menyenangkan orang lain.''


''Aku mulai mengerti. Jadi, bahagia itu bisa bebas dari pemaknaan umum ya?''


''Seharusnya begitu.''


'' Kalau sekarang aku tiba-tiba keluar dan mandi hujan, apakah itu bisa dibilang bahagia?''


''Lha, engkau bahagia, nggak?''


''Barangkali aku akan senang. Merasa bebas, merasa lepas. Segar.... Eh, tapi apakah ini benar-benar kebahagiaan?''


''Kukira, ya! Engkau harus belajar mengatakan itu sebagai kebahagiaan!''


''Jadi, intinya bagaimana mengatakan sesuatu itu sebagai bahagia ya?''


''Nah, sudah pintar sekarang.''


''Waktu pertama kali aku punya ponsel, aku merasa senang. Itu juga bahagia?''


''Kalau kamu menempatkanya begitu, ya iya. Jadilah itu hal yang membahagiakan.''


''Tapi, kemudian aku merasa ponselku ketinggalan zaman. Aku jadi malu menggenggamnya. Apakah bahagia itu tak abadi?''


''Selain tergantung bagaimana kamu menempatkannya, bahagia itu juga tergantung di mana kamu menempatkannya. Kalau pada kebendaan, itu bahagia yang meminta pemenuhan. Nyaris sama dengan bahagia orang yang lapar, yang selesai sesaat ketika kenyang. Lalu lapar lagi, kan? Nah, kalau aku ya, kutempatkan dalam situasinya. Bukan ponselnya, tapi situasi saat merasa punya. Itulah situasi yang berbeda dari saat kamu belum punya ponsel. Bahagia dengan demikian dekat dan acap bersenyawa dengan rasa syukur. Dan dalam kebersyukuran itu, bahagia akan jadi abadi.''

Dia terdiam. Mengernyit, lalu tersenyum. Dan melihat senyumnya, aku percaya, percakapan ini akan jadi panjang lagi. Tapi untunglah, ketika kalimat berikut keluar dari bibirnya, ternyata adalah hal-hal yang pribadi di antara kami. Dan, pamali untuk dituliskan. :D