LELAKI LAIN DI HATI IBU

Aulia A Muhammad
Karya Aulia A Muhammad Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Mei 2016
LELAKI LAIN DI HATI IBU

 


Bertahun lalu, sebelum berangkat ke Jawa, kuhampiri ibu yang masih menyulam di teras belakang rumah. Kusorongkan kopi hitam ke meja di samping kirinya. Ibu tersenyum. ''Ada apa?" katanya, sambil meletakkan sulaman di pangkuan.

Aku tertawa. Ibu tahu betul kebiasaanku, yang membaiki dirinya tiap menginginkan sesuatu. Kugeser kursi lebih mendekatinya, sampai harum ruap kopi terasa menjamahi cuping hidungku. ''Ibu tak pernah bertengkar dengan Ayah, ya?" kataku membuka percakapan.

Ibu menggeleng. ''Tak mungkin pernikahan tidak disemarakkan pertengkaran, Ia. Pertengkaran itu justu penting."

''Penting?"

''Iyya. Ketika bertengkar, ketika kita dikuasai amarah, kadang semua yang mengganjal, semua yang tersimpan, keluar. Pertengkaran acap memancing kejujuran."

''Apakah dalam perkawinan tidak mungkin tercipta kejujuran utuh, Bu?"

kembali ibu menggeleng. Memindahkan sulaman ke atas meja, tangan kanannya mengambil cangkir kopi, menyesapnya. Cara ibu meminum kopi itu membuatku merasa bahwa ibu tengah menikmati kopi terbaik sedunia.

''Kadang Ia, dalam perkawinan, atau bentuk hubungan apapun, ada kejujuran yang tak dapat dikatakan, juga kebohongan-kebohongan kecil yang terpaksa diucapkan. Dengan itu kita merasa ikatan akan menjadi lebih baik, pengertian mudah dibangun.''

Aku mengangguk. Mencatat dalam hati. Tapi aku tetap merasa aneh jika ibu tadi mengatakan pernah bertengkar dengan ayah. Kapan? Di mana? "Jadi, benar Ibu pernah bertengkar dengan Ayah?"

''Iyya. Sering bahkan, Ia. Cuma, Ibu dan Ayah tidak pernah bertengkar ketika ada kamu. Semarah dan seemosi apa pun, Ayah tak pernah bisa menumpahkannya kalau ada kamu. Juga Ibu. Sebelum ada kamu Ia, Ayah dan Ibu sudah akad, untuk tak merawatmu dalam amarah, tak membiarkan telingamu mendengar bentak dan senggak, apalagi isak.''

''Apa sumber kemarahan Ibu? Ada perempuan lain?"

Ibu tertawa. Berderai. Diacak-acaknya rambutku sebelum menyesap lagi kopi hitam itu. ''Ibu tak pernah marah karena soal perempuan, Ia. Tak pernah."

"Apa Ayah tak punya teman perempuan?"

''Banyak, Ia. Kau tahulah ayahmu..."

''Lalu?''

''Ayahmu cuma tak pernah membicarakan perempuan lain di depan Ibu. Ayahmu tak pernah sekalipun memuji perempuan lain ketika ada Ibu. Kata ayah, ketika bersama Ibu, Ayah tak pernah punya ingatan tentang perempuan lain. Kata ayah, ketika bertemu perempuan lain, teman-temannya, ayah justru selalu ingat Ibu. Ayahmu tak pernah menduakan Ibu, Ia. Tak pernah mengecewakan Ibu. Ayah setia sejak dari pikiran. Kau juga harus begitu, kelak.''

Aku tertawa. ''Pasti Ibu juga seperti Ayah ya?"

Ibu menggeleng. Kopi yang kuteguk nyaris keluar lagi dari mulutku. ''Ibu tidak seperti Ayah?!" nada suaraku meninggi.

''Iyya, Ia, Ibu tidak seperti Ayah. Ibu punya lelaki lain..."

''Dan Ibu membicarakan lelaki itu ke Ayah?!"

Ibu mengangguk. ''Selalu, Ia. Ibu juga mencintai lelaki itu, seperti mencintai Ayahmu. Bahkan lebih... di mata Ibu, di dunia ini hanya ada dua lelaki, dia dan Ayahmu."

Aku benar-benar tercekat. Tak pernah kusangka, ibu ternyata tak sesetia ayah. Ibu ternyata menduakan ayah. Ibu menyakiti ayah. tanpa sadar aku telah berdiri dan memandang ibu dengan marah. Aku menjadi tambah emosi ketika melihat segantung senyum di bibir ibu. Ketika ibu ikut berdiri dan memegang tanganku, nyaris saja kutepiskan, jika seandainya telingaku tidak mendengar ibu mengatakan, ''Lelaki itu kamu, Ia. Lelaki selain Ayahmu di hati ibu itu kamu, hanya kamu...."