Menjadi Sebatang Laut

Aulia A Muhammad
Karya Aulia A Muhammad Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Mei 2016
Menjadi Sebatang Laut

"Marilah menjadi sebatang laut, yang rela menerima kekotoran air sungai tanpa harus ikut tercemar."

Empat atau lima tahun lalu, kalimat di atas selalu kubaca setiap pagi, ketika kantuk mulai tanggal. Aku tak tahu pasti, kapan berkenalan dengan kalimat itu. Mungkin ketika mahasiswa, atau bisa jadi, dalam sebuah seminar yang sudah tak tercatat lagi dalam ruas ingatan. Kalimat itu memesona, bukan karena indahnya, tapi menisbatkan tentang jiwa yang luas, yang membersihkan. Aku suka itu, dan mencoba menjadikan kalimat itu sebagai imamku.

Semula, kukira aku berhasil. Puluhan orang datang dan pergi, meninggalkan kesan dan tidak. Tapi satu hal, karena aku laut, aku melibatkan diri dengan mereka. Dan pelan kusadari, kalimat itu membentuk suatu naluri kepahlawanan di dalam diriku. Setiap teman datang, dan berkesah, aku selalu menyediakan diri, terlibat, bergubal. Sampai suatu ketika...

Seseorang muncul, terlibat denganku, dengan segala kompleksitas permasalahan yang tak pernah aku bayangkan. Tapi aku laut, dan aku tidak akan tercemar, juga tak hanyut.

Aku salah. Aku ternyata bukan laut. Bahkan empang pun tidak. Ketika dia memuntahkan semuanya, laut dalam diriku mengecil, mengering, sat. Aku menyerah, meninggalkannya. Dan dia marah, tak dapat menerima.

"Aku ternyata hanya penguji batas moralitasmu," dengungnya di sebuah subuh yang basah.

Kukira dia benar. Kalau moralitas punya batas, sepertinya aku telah sampai di sana, dan kakiku tak bisa melangkah melewati ambang itu. Ada lanskap ketaksadaran, yang selama ini kukira telah kutaklukkan, mengerem semua keberanianku. Buku ketaksadaran itu bahkan memutar semua biografi hidupku --masa kanak, kenalakan-kenalakan yang indah, pesan airmata mama-- sebagai bandul pengingat. Aku pun tunduk. Mungkin takluk.

Ya, aku bukan laut. Dan aku tercemar.

Barangkali, aku memang tak perlu menjadi laut.

Setahun yang lalu, saat membuka semua email usangku, tiba-tiba kusadari sesuatu: kemenyerahanku dulu ternyata bukan karena aku bukan laut, barangkali aku hanya takut tercemar. Dan karena takut cemar, aku pun menolak menjadi laut.

Aku lalu bertemu Nietzsche, manusia laut yang sesungguhnya itu. Aku lebih mengerti, "menjadi" ternyata berbeda dari "jadi". Bahasa Jawa punya cara yang ampuh untuk menerangkan ini: "jadi" adalah "dadi", sedangkan "menjadi" adalah "dumadi". Ada sisipan "um" di situ, yang menerakan proses, keberlanjutan, titik berangkat dan bukan titik tuju. "Menjadi" adalah proses menuju "jadi", menyatakan akan, transit dari yang bukan ke arah "sesuatu", tapi bukan berhenti. Dalam "menjadi" bukan "sesuatu" itu yang penting, tapi "um", itu, proseslah yang utama.

Menjadi laut, berarti bukan telah laut, tetapi akan laut. Dan akan ini, akanan yang abadi. Titik berangkat yang baqa, tanpa titik tuju yang kekal. Tanpa akhir, tak ada finis.

Dalam menjadi laut, ada amorfati: menerima nasib dengan sepenuh rasa cinta. Mirip apatisme, tapi apatisme yang bergerak, yang datang dari "um", dari proses tadi. Keberterimaan dari sebuah situasi yang telah diuji.

Setahun yang lalu, aku mencoba mengikuti "um" tadi, karena aku percaya, hakikat hidup adalah "dumadi", dan bukan "dadi". Aku kini menjadi sebatang laut, dan aku siap untuk menjadi tercemar, karena aku menerima nasib dengan sepenuh rasa cinta.

Tapi sayang, lama telah alir sungai tak lagi mengarah padaku.