Bapakku, Lelaki Teristimewa

Ahmad Kharis
Karya Ahmad Kharis Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Desember 2016
Bapakku, Lelaki Teristimewa

Engkau adalah idola meski hanya aku yang menganggapnya. Seorang lelaki yang setiap hari biasa kutatap di awal hari dan sore hari. Yang selalu membuatku menunggu setiap sore, mengintip dari balik jendela ruang tamu memandangi pelataran rumah yang lumayan luas. Dan ketika engkau mengetuk pintu aku langsung menghambur ke arahmu meminta digendong tanpa peduli engkau sedang capek dan juga lapar.  Dan engkau pun selalu tersenyum di balik rasa letihmu usai mencari penyambung hidup keluarga. Engkau adalah kisah yang tak akan pernah terpisah dari perjalanan hidupku...Bapak...

Habis isya’, ketika umurku baru berjalan lima tahun. Engkau selalu berada di sampingku ketika mas usil padaku. Engkau menyuruhnya keluar dari kamarku, agar aku merasa aman dari keusilannya. Dan ketika mataku sudah terasa berat dan hendak terpejam engkau selalu mengipasiku agar tak kepanasan dan agar tak diganggu oleh nyamuk-nyamuk yang bisa membangunkanku dari tidur pulasku. Padahal aku tahu engkau sudah begitu kecapean sehabis bekerja seharian. Engkau selalu tersenyum menatapku sembari membelai kepalaku agar aku lekas tertidur.

*****

Bakda maghrib, dan ketika itu baru kurasakan enam tahun hidup bersamamu. Area persawahan sudah sepi. Hanya suara serangga malam dan kodok yang saling bersahut-sahutan. Rumput-rumput yang tadinya hijau menjadi kehitam-hitaman terbungkus gelapnya malam yang mulai menyapa. Udara juga sudah terasa mulai agak dingin menusuk kulit dan tak bersahabat. Engkau menggendongku di atas punggungmu menyusuri area persawahan. Melewati desa kosong yang katanya angker dan berhantu, yang semakin membuatku mempererat peganganku pada pundakmu. Aku tak tahu apa alasan engkau memilih pulang di waktu senja akan segera sirna. Padahal kutahu rumah mbah cukup besar untuk kita menginap. Namun engkau tetap memutuskan untuk pulang ke rumah bersamaku jalan kaki yang jaraknya beberapa kilo meter dari rumah mbah.

*****

Pagi yang ramah di hari libur, ketika umurku menginjak tujuh. Engkau meminta ijin kepada emak untuk membawaku bekerja. Tentu aku merasa senang sekali. Jarang-jarang bisa menemani bapak bekerja. Duduk di sampingmu, di bangku depan angkot yang selalu engkau gunakan untuk mencari nafkah.  Aku selalu merasa terhibur dengan ajakanmu meski pun jika siang yang panas datang melelehkan keceriaanku. Di saat itulah aku selalu tertidur di pangkuanmu. Dan ketika terbangun hari sudah sore dan saatnya kita pulang ke rumah.

*****

Suatu sore yang hangat di bulan ramadhan saat umurku mencapai delapan tahun. Engkau mengajakku ke pasar agar aku bisa melupakan rasa lapar dan dahagaku. Engkau mengajakku berkeliling melihat-lihat sekeliling pasar dan membeli beberapa makanan untuk berbuka nanti di rumah. Tangan kananmu mencengkeram tanganku erat-erat agar aku tak lepas di tengah-tengah kerumunan pasar. Menjelang maghrib aku dan engkau pulang berjalan kaki. Dan ketika aku sudah nampak lelah engkau meyakinkanku bahwa anak laki-lakimu ini pasti kuat sampai di rumah.

*****

Pagi yang hangat dan cerah, ketika telah lewat sembilan tahun kelahiranku. Sebelum berangkat sekolah aku merengek padamu. Tas hijau kesayanganku putus talinya dan tentunya aku tak bisa membawanya ke sekolah. Engkau yang mungkin sudah mau berangkat menarik angkot segera masuk  ke rumah dan membuka almari. Mencari jarum dan benang untuk menjahit tali tasku yang putus. Karena keributanku engkau jadi tak konsentrasi ketika menjahit tasku. Dan akhirnya jarum itu sudah menusuk salah satu jarimu dan membuatnya berdarah. Aku langsung terdiam menatap wajahmu yang meringis menahan sakit. Maafkan aku bapak, membuatmu terluka sepagi ini...

*****

Sehabis isya, ketika umurku telah mencapai sepuluh tahun. Di saat kenakalanku sudah mulai nampak. Aku ketakutan setengah mati, pasalnya sore tadi aku dan teman-temanku bermain sepak bola dan tak sengaja memecahkan salah satu kaca jendela sekolah. Uang dua ribu rupiah untuk ganti rugi kenakalanku entah harus kudapat dari mana. Jika aku meminta pada emak tentu aku akan dimarahi habis-habisan dahulu, dan itu yang membuatku takut. Aku tak ingin emak tahu kenakalanku sore tadi. Tapi jika tak memberi tahu aku juga tak tahu harus minta uang kepada siapa.

Aku berdiri termenung di belakang rumah memikirkannya. Di bawah temaram sinar lampu jalan menuju sungai. Dan tiba-tiba engkau sudah berdiri di belakangku.

“Bapak tahu apa yang kamu pikirkan. Tak usah khawatir uangnya dah bapak bayar. Dan ingat jangan diulangi lagi,” katamu padaku. Aku kaget entah dari mana engkau tahu tentang apa yang terjadi tadi sore. Aku belum bercerita apa-apa pada siapa pun. Namun terimakasih bapak...telah menyelesaikan masalahku malam ini.

*****

Senja kelabu, dan kini usiaku sebelas tahun. Emak tak bisa menyembunyikan wajah cemasnya. Sudah sesore ini engkau belum juga pulang dari ngangon bebek di sawah. Tak biasanya engkau belum pulang jam segini. Terlebih lagi emak sudah mencarimu tapi tak ketemu. Aku pun ikut cemas, kucari engkau di kebun-kebun sekeliling, siapa tahu engkau ada di sana.

Aku hanya takut hujan turun sebelum enkgau sampai rumah. Mengingat usiamu yang sudah semakin sepuh dan tubuhmu yang sudah melemah karena sakit yang engkau derita setahun lalu. Yang juga membuat engkau harus pensiun dari profesi sopir angkot, dan membuat mas harus menggantikan posisimu menarik angkot. Bila kedinginan terkena hujan penyakitmu bisa kambuh lagi dan aku tak akan tega melihat engkau terbaring lemah.

Pelataran langit semakin kelabu dan angin mulai bertiup kencang tanda hujan sudah begitu dekat. Di tengah pencarian aku melihat engkau dengan wajah lesu dan tubuh loyo menggiring bebek-bebekmu. Aku segera ke arahmu dan menuntun tanganmu. Aku agak tenang menemukanmu dalam keadaan baik-baik saja.

*****

Adzan shubuh bergema, usiaku hampir dua belas tahun kurang dua bulan. Emak membangunkanku dari mimpi, “Nang bangun, bapakmu telah tiada.” Kukerjap-kerjapkan mataku yang masih mengantuk. Kulihat emak terisak dalam tangisnya. Kulihat mas dan mbak di samping emak juga menangis. Seketika itu aku pun tak dapat menahan air mata yang mau tumpah.

Pagi ini rumahmu hujan air mata di saat adik-adikmu juga keponakan-keponakanmu berkumpul di rumah. Terlihat mata mereka berkaca-kaca menahan kesedihan karena harus kehilanganmu secepat ini.

Aku hanya duduk termenung di belakang rumah di bawah temaram lampu lima watt. Memandangi langit yang masih gelap. Pagi ini masih seperti mimpi, dan setengah kupercaya. Mataku basah. Aku harus kehilanganmu di saat kebersamaan kita belum genap dua belas tahun. Dan artinya mulai saat ini kehidupanku akan terus berlanjut tanpa keberadaanmu di sisiku.

Aku terisak dalam doa subuhku.

*****

Hujan selalu membawaku mengingat kenangan-kenagan masa lalu. Telah tiga belas tahun lebih berlalu semenjak duka pagi itu. Sepeninggal engkau, emak mengurus kami sendiri. Aku tamat dari madrasah ibtidaiyah dan melanjutkan di MTs Negeri. Sementara mbak setamat dari MTs Negeri tak melanjutkan sekolah. Dia kursus menjahit di kampung sebelah. Dan mas menjadi tulang punggung keluarga menggantikanmu menarik angkot yang pernah engkau bawa.

Engkau tak tahu, delapan tahun silam aku masuk pesantren dengan niatan suci menghafal al qur’an. Dan tiga tahun kemudian tak ada yang menyangka aku bisa merantau ke Jakarta, melanjutkan pendidikanku di bangku kuliah dan mendapat beasiswa full sampai lulus.

Tiga belas tahun telah berlalu semenjak terakhir kali aku melihatmu. Sungguh aku merindukanmu. Kini putera terakhirmu bukanlah putera terakhirmu yang kalau disuruh mengaji harus di jewer dulu. Kini bahkan aku ingin sekali engkau mendengar suaraku ketika mengaji melantunkan kalam ilahi.  Dan juga aku ingin sekali engkau berdiri di shaf paling depan ketika aku menjadi imam tarawih setiap ramadhan tiba.

Namun semua itu tak akan pernah bisa terjadi. Aku hanya berharap dan selalu berdoa kita bisa saling bertatap muka di surga-Nya bersama keluarga kita.

اللهم اغفرلي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

Yaa Allah Ampunilah aku dan juga kedua orang tuaku dan sayangilah mereka berdua seperti mereka mengasuhku ketika masih kecil. Amiin

 

Ditemani semilir angin pagi yang ramah...

Jakarta, 31/12/2016

Yang merindumu...

Kharis El Grabagy

 

  • view 194