Aku dan Pria Berkalung Sorban

Ahmad Kharis
Karya Ahmad Kharis Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 24 Desember 2016
Aku dan Pria Berkalung Sorban

Dia pria yang begitu bersahaja...

Dia adalah salah satu pelita di tengah temaramnya dunia. Dia adalah sang pendidik sejati generasi. Dan dia adalah sang pendakwah tanpa lelah.

Aku mengenal pria itu untuk pertama kalinya sekitar sembilan belas tahun yang lalu. Waktu itu aku baru duduk di bangku kelas satu madrasah ibtidaiyah. Sekolah yang sederhana gedungnya juga para pendidiknya. Dan pria bersahaja itu, dia adalah wali untuk kelasku, kelas satu dan sering kami panggil ‘pak guru’ waktu itu.

Beliau adalah pria yang sederhana. Dulu sering aku melihatnya memarkirkan sepeda onthelnya di halaman sekolah. Rumahnya terletak sekitar satu kilo meter dari sekolah tempat ia mengajar, sekolah tempat aku belajar. Tiap pagi beliau harus mengayuh sepedanya untuk dapat bertemu dengan wajah-wajah polos kami. Mendidik kami dan menanamkan nilai-nilai islam pada jiwa kecil kami.

Masih teringat dengan jelas sekali bagaimana dulu cara beliau mengajar dan mendidik. Selalu beliau tulis di papan tulis judul dan diikuti beberapa point penting. Dengan bahasa yang begitu sederhana dan mudah dipahami. Juga dengan tulisan yang bagus dan jelas hingga anak-anak kecil seperti kami tak kesulitan untuk membacanya. Seusai menulis kami akan diajak mengikuti beliau membaca tulisan itu berulang-ulang hingga kadang tanpa kami sadari kata-kata itu telah tersusun rapi melekat di otak kami. Setelah kami bisa membaca dan menulis beliau tak lagi menuliskannya di papan tulis tapi mendektekannya, agar kami terbiasa menulis apa yang kami dengar. Begitulah cara beliau mengajar murid-murid seperti kami di dalam kelas.

Kadang beliau juga mengajak kami keluar kelas. Mengajari kami tata cara shalat dhuha. Teringat akan kisah di suatu pagi yang hangat. Ketika itu beliau mengajak kami sekelas menuju langgar terdekat. Mengajari kami tata shalat dhuha yang merupakan hal baru bagi jiwa-jiwa polos kami. Waktu itu beliau dan teman-temanku sudah melepas sepatu, menata rapi berbaris di teras langgar dan bergegas menuju tempat wudlu. Dan aku masih mencoba melepaskan tali sepatuku. Entah bisikan dari setan mana tiba-tiba muncul akal usilku. Sepatu yang sudah berbaris rapi kuobrak-abrik, kulempar sana-sini. Dan tanpa sepengetahuanku beliau sudah berdiri di belakangku dengan muka geram dan berdesis, “bocah nakal.” Dan sejurus kemudian cubitannya sudah mendarat di lengan kecilku. Kejadian itu sedikit mengurangi keusilan masa kecil. Mengingatnya akan membuatku sedikit menyimpulkan senyum.

Beliau adalah orang yang lemah lembut, tetapi jangan salah sangka di balik sikap lemah lembutnya beliau juga orang yang tegas dalam mendidik. Bila ada kenakalan murid-muridnya yang agak melewati batas beliau pasti akan bertindak tegas, memarahi kami dan menghukum. Namun aku tahu di balik hukumannya beliau bermaksud mendidik kami agar tidak melenceng terlalu jauh.

Aku masih ingat betul ketika dulu beliau memanggilku dengan panggilan yang tak biasa. Panggilan yang tak pernah diketahui orang lain. Dan sepertinya hanya beliau dan aku saja yang tahu panggilan itu. Aku juga tak lupa ketika beliau sering tiba-tiba menangkapku dan mengangkat tubuh kecilku untuk dibawa ke kantor beliau. Di sana selalu aku didoakan oleh beliau agar kelak menjadi anak yang sholeh dan kemudian dilepaskan kembali sambil tersenyum. Seketika aku pun lari keluar dari kantor beliau.

Seiring waktu berjalan bagai roda yang tak pernah berhenti berputar. Aku tumbuh remaja, tamat dari sekolah itu. Beliau hanya sering kulihat ketika hari libur di saat aku lari pagi. Berkalung sorban berjalan menyusuri dinginnya jalan persawahan menuju rumahnya yang lumayan jauh jika jalan kaki. Aku tahu beliau habis dari masjid kampung mengikuti kuliah subuh di masjid, karena beliau memang salah satu jama’ah veteran kuliah subuh yang masih aktif. Yang masih semangat menyempatkan waktunya di awal hari untuk menimba ilmu. Masih sama, beliau memanggilku dengan panggilan khususnya untukku. Menyapaku dengan sesungging senyum dan melanjutkan langkah kakinya menyusuri jalan.

Takdir membawaku, aku kembali menjadi anak didiknya untuk yang kedua kalinya. Beliau mengabdikan dirinya di SMA sekaligus pondok tempat aku menimba ilmu. Bertahun-tahun telah terlewati namun beliau masih tetap sama seperti pertama aku mengenalnya, bersahaja, sederhana, murah senyum, dan selalu tawadhu’. Hanya saja tubuhnya sudah tak sebugar dulu karena usia yang tak lagi muda. Dan rambutnya pun sudah memutih di sana-sini. Dari lisannya selalu keluar dzikir. Kadang kedua matanya juga berkaca-kaca jika beliau mengingat usianya yang sudah di ujung senja.

Beliau adalah seorang pendakwah tanpa lelah. Selain mengajar di pondok beliau juga aktif berdakwah mengisi ceramah di kampung sekitar tempat tinggalnya. Di rumahnya sendiri beliau pun mengajari anak-anak kecil sekitar membaca kalam ilahi setiap sore hari. Pernah suatu hari beliau bercerita ketika beliau berobat di rumah sakit karena penyakit yang telah menggerogoti tubuh tuanya. Di rumah sakit beliau bukan hanya berobat tapi juga mengajar pasien lain manasik haji. Sungguh waktu yang selalu beliau maksimalkan untuk menghamba kepada Allah dan menyebarkan agama-Nya. Selain berobat beliau juga dapat pahala dan menambah saudara.

Sudah menjadi kebiasaanku bersama beberapa sahabat jika libur kuliah dan pulang kampung selalu menyempatkan diri untuk sowan ke kediaman beliau. Sekedar mendengar wejangan-wejangan atau mendengar cerita-cerita menarik dari beliau. Dan di akhir majelis selalu diakhiri dengan hidangan makan yang tak mungkin bisa kami tolak.

Beberapa bulan menjelang wafatnya beliau pernah berkata padaku sembari matanya berkaca-kaca, “Mas! Bapake sampeyan niku sakumuranku lho, nanging bapake sampeyan wis suwe ndisiki aku. Dan sebentar lagi giliranku akan tiba juga.”

Sekitar satu tahun kemudian beliau dipanggil menghadap-Nya. Meninggalkan keluarganya, meninggalkan anak-anak didiknya, meninggalkan orang-orang yang mencintainya, meninggalkan ilmu yang telah ditanamnya dalam  jiwa anak-anak didiknya, dan meninggalkan dunia fana menuju dunia yang kekal abadi di sisi-Nya.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafiihi wa’fu ‘anhu.

Semoga apa yang diperbuat di dunia menjadi pemberat timbangan amal kebaikannya. Dan semoga ilmu yang beliau ajarkan menjadi ilmu yang bermanfaat sehingga menjadi amal jariyyah untuknya. Amiin

Tulisan ini untuk mengenang guru kami, ustadzuna Simhadi –rahimahullah-.

Glosari:

  1. Langgar: Mushola

 

Pagi menjelang siang

Jakarta, 24/12/16

Kharis El Grabagy

  • view 149