Menunggu Cinta Yang Berlabuh

Ahmad Kharis
Karya Ahmad Kharis Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Desember 2016
Menunggu Cinta Yang Berlabuh

Pagi, hujan rintik-rintik turun di kampung kecil yang berada di bawah kaki gunung ini. Menimpa dedaunan, membuatnya mengkilap dilapisi air hujan. Suara tetesan hujan yang menimpa dedaunan dan kemudian terjatuh di genangan air menjadi simfoni pagi yang indah mengagumkan. Udara dingin berhembus lewat celah-celah ventilasi ruang tamu, membuat ujung jari terasa kaku membeku dan gigi bergemeretak saking dinginnya. Harum rumput basah yang bercampur dengan bau asap masakan dari dapur menyengat indra penciumanku. Aku begitu rindu akan suasana ini. Suasana yang tak akan pernah kujumpai jika aku berada di kota metropolitan, Jakarta.

Masih kupandangi butir-butir air yang turun dari balik jendela ruang tamu. Sesekali kupandang uap yang mengepul dari segelas teh panas yang dihidangkan ibuku untukku di atas meja. Katanya untuk menghangatkan badan dan mengusir hawa dingin. Tapi entah, sedikitpun aku tak ingin menyentuhnya, kehilangan selera tepatnya. Aku pun tak tahu sudah berapa lamakah aku duduk di kursi kursi kayu berwarna cokelat tua ini. Seakan waktu terhenti tak bergerak. Aku masih terbawa suasana hati. Perasaanku kacau, membunuh semua keindahan yang ada di sekitarku.

Kekacauan perasaanku bermula pada suatu malam, dua minggu yang lalu tepatnya. Pukul delapan adalah waktu makan malamku bersama teman-temanku satu kontrakan. Sambil makan biasanya kami saling berbagi cerita tentang hal-hal menarik yang kami temui di hari itu. Hingga suara nada dering handphoneku berbunyi nyaring, memecah suasana kebersamaan. Ada panggilan masuk.

 ‘Diana call’ begitulah kira-kira tulisan yang sekilas terbaca di layar handphone bututku. Deg! Hatiku berdesir menatap layar handphoneku dan perlahan berdetak semakin cepat berirama. Diana, aku sangat mengenal nama itu. Pemilik nama itu adalah seorang gadis yang sudah lama kukenal. Temanku semasa kecil dulu. Dulu sebelum aku pindah ke kampung yang kini kutinggali rumah kami berdampingan. Maka aku sangat mengenal dirinya juga keluarganya.

Dia adalah gadis lugu yang cantik. Masih teringat bayang-bayang wajahnya yang kadang bisa membuatku tersenyum-senyum sendiri. Kenangan waktu kecil dulu masih jelas melekat, hari-hari di mana aku bermain bersamanya menuliskan kenagan indah masa kecil, dan diam-diam aku mengaguminya. Hingga kepindahanku bersama orang tuaku ke desa sebelah memisahkan kami berdua. Semenjak saat itu aku sangat jarang sekali bertemu degannya. Dan terakhir aku dengar bahwa dia masuk di sebuah pesantren di daerah Bogor Jawa Barat setelah lulus SD.

Tahun-tahun berlalu berputar bagai roda pedati, sampai takdir mempertemukan kami kembali di sebuah masjid di kota Magelang. Peristiwa itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Gadis berkerudung hitam lebar dan bergamis hijau lumut itu menyita pandanganku. Merasa diperhatikan, ia menoleh ke arahku. Dan alangkah terkejutnya diri ini, ternyata dia adalah gadis yang dulu menjadi teman bermainku, Diana. Aku masih begitu ingat wajahnya. Kini dia telah menjelma menjadi sesosok bidadari yang turun dari surga. Dia mendekatiku, ternyata dia mengenalku. Akhirnya kami saling berbagi cerita tentang pengalaman kami hingga kami seperti ini. Dan di akhir pembicaraan kami saling bertukar nomor handphone, meskipun selama dua tahun itu aku atau pun dia tak pernah sekali pun saling mengirim sms apalagi telpon.

Tak terasa pertemuan itu bak air yang menyiram kuntum-kuntum rindu yang dulu telah layu oleh waktu. Diam-diam aku mulai menyukainya. “Inikah cinta?” bisik hatiku. Hari-hariku dipenuhi oleh warna-warni kerinduan yang mulai tumbuh.

Aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat di layar handphoneku. Tapi itu benar, Diana lah yang menelponku. Dan tak ada nama Diana di daftar kontakku selain dirinya. Aku mulai menerka-nerka, ada angin apa dia menelponku. Apakah dia memintaku untuk menikahinya? Ah mungkin aku terlalu percaya diri. Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan jika itu terjadi.

Sambil menangkat telpon, aku menjauh dari teman-temanku yang sedang makan malam. Menuju tempat tersepi di rumah kontrakan, tempat jemuran pakaian. Sambil mengobrol basa-basi aku mengamati jemuran-jemuran yang tertiup angin, menari-nari mengikuti irama alam. Indah sekali malam itu, aku tersihir oleh suara merdunya. Hingga kata-kata itu meluncur dari bibir sang pujaan hati.

“Aiman, aku mengundangmu untuk datang di hari pernikahanku?”

“Apa?” tanyaku untuk menyakinkan apa yang barusan aku dengar.

“Aku mengundangmu untuk datang di hari pernikahanku?” Diana kembali berkata.

Jantungku berhenti berdetak mendengar kata-kata itu, jiwaku seakan mau lepas dari raganya, dan bintang-bintang dari langit seperti berjatuhan menimbun tubuhku. Sesak dan sakit sekali rasanya dada ini. Beberapa saat kemudian kami terdiam. Tak ada jawaban dariku. Aku seperti membatu kena kutukan. Dan aku masih belum percaya, mungkin ini hanya sebuah mimpi atau semacamnya. Jika ini hanyalah sebuah mimpi, aku ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.

“Aiman! Aiman! Datang yaa?” suaranya yang lirih dari ujung telpon mengagetkanku.

Kuhela nafas dalam-dalam dan berkata,” Ya, Insya Allah.” Berat dan terpaksa.

Semangatku hilang seketika. Inilah akhir dari kisah cinta yang belum sempat kuungkapkan. Tak ada harapan lagi, dia akan segera menjadi milik orang lain. Aku menyesal karena dulu aku tak punya keberanian. Ah, mungkin dia memang bukan jodohku.

Pagi ini aku pulang, untuk memenuhi undangan pernikahannya yang akan dilaksanakan minggu depan. Sekalian aku ingin sejenak melepas kepenatan dari bisingnya ibu kota. Meski sebenarnya aku ingin melarikan diri dari dunia ini, menuju tempat terjauh menghindar dari hari pernikahannya, tapi aku sebagai seorang lelaki pantang untuk ingkar pada sebuah janji.

Suara langkah kaki yang mendekat membuyarkan lamunan. “Kak, ini kemaren ada undangan dari kak Fadhlan,” adikku menyodorkan sebuah undangan yang didesain apik warna keemasan itu. Sekilas dilihat pun aku sudah tahu kalau itu sebuah undangan pernikahan.

“Dari Fadhlan?” aku mengernyitkan dahi.

“Iya kak, emang kakak gak diberi tahu?” tanya adikku keheranan.

“Heh, dasar anak itu selalu diam-diam.”

Fadhlan adalah sahabat karibku. Lelaki tampan berkaca mata itu dulu sekelas denganku saat di pesantren. Pernah sama-sama daftar di Universitas Islam Madinah. Nasib kami berbeda, dia lolos sedang aku tidak. Maka kemudian dia meninggalkan negeri ini untuk menimba ilmu di negeri turunnya kalam Ilahi itu. Sementara aku masih setia di negeri tercinta, dan menimba ilmu di sebuah kampus arab di Jakarta. Kini kami telah sama-sama menjadi sarjana. Sudah lama memang tak berkomunikasi, ternyata kini dia akan menikah.  Aku jadi iri dengan mereka-mereka yang akan segera melangsungkan pernikah. Seminggu lagi Diana menikah, sekarang Fadhlan juga akan menikah.

Kubuka pelan-pelan cover surat undangan yang indah itu, ketika kubaca tanganku sempat gemetar. Fadhlan Rizki dan Diana Shaliha. Aku terkejut, tak percaya. Ternyata Fadhlan yang telah memenangkan hatinya. Sesaat hatiku bertambah sakit. Sepi berhembus di relung hatiku.

“Eh, kakak tahu gak? Kak Diana itu yang dulu tinggal bersebelahan sama kita itu loh kak,” ucap adikku.

“Kakak juga tahu kok,” aku mengalihkan pandanganku ke jendela, mencoba menyembunyikan perasaan sedihku di depan adikku.

“Aiman! Aisyah! Ambil piring dan mangkuk, sayurnya sudah matang,” panggil ibuku dari dapur.

“Iyaa,” jawab kami serentak.

Hatiku gerimis seperti pagi ini. Harapan yang pernah kugantung di langit-langit impian, kini telah jatuh berserakan. Jalan yang kutuju harus berubah halauan. Dia laksana sebuah bintang yang menunjukiku jalan ke mana aku harus membawa perahuku berlayar. Namun kini bintang itu telah hilang, aku terombang-ambing di samudera kehidupan, hanya karena seorang teman yang telah mencuri sang bintang.

Alangkah sakitnya ketika cinta yang terpendam tak akan pernah bisa diungkapkan. Cinta itu butuh keberanian, lebih baik ditolak cintanya dari pada memendam sekian lama. Siapalah juga yang tak sakit hati jika pujaan hati direbut teman sendiri. Aku tahu itu bukan salahnya. Ini murni salahku yang memang kurang berani dan selalu ragu untuk melangkahkan kakiku. Alangkah bodohnya jika persahabatan yang telah terjalin sekian lama hancur hanya karena seorang wanita.

**********

Hari pun berlalu. Aku mulai berdamai dengan perasaan. Tak ada gunanya meringkuk dalam kesedihan. Semua itu tak akan mengubah keadaan. Tentu di langit malam tak hanya satu bintang yang mampu bersinar, bahkan ribuan. Aku pasti akan menemukan satu bintang yang mampu mencuri hatiku. Mewarnainya dengan bunga-bunga dari taman asmara.

Aku mengakui Fadhlan memang cocok untuknya. Bahkan dibandingan denganku, aku begitu jauh tertinggal di belakangnya. Sarjana lulusan fakultas ilmu hadits itu sangat cocok bila disandingkan dengan Diana yang kudengar-dengar telah hafal 30 juz itu. Mereka sudah ditakdirkan menjadi jodoh. Jodoh memang sebuah misteri kehidupan yang unik, tak tertebak dan tak terduga. Entahlah di mana kini jodohku sedang berada, di titik koordinat manakah ia sekarang sedang berdiri. Semuanya menjadi tanda tanya besar dalam hidupku.

Bakda isya’ di tengah keakraban makan malam keluarga kami. Aku duduk di samping kanan bapakku sendiri. Berhadap-hadapan dengan Aisyah, adik perempuanku yang duduk di samping ibuku. Di depanku tampak meja kayu yang ditutup dengan kain batik berwarna hijau. Di atasnya telah dipenuhi dengan makanan. Nasi panas yang masih mengepul menggelitik selera makanku. Ditambah dengan sayur lodeh khas ibuku, serta harum lele goreng kesukaanku. Malam ini di temani temaram lampu kuning lima watt satu keluarga terlihat khusyu menyantap sajian makan malam ala kadarnya ini.

“Man! Kini umurmu sudah dua lima, teman-temanmu juga sudah pada mau menikah,” kata bapakku tiba-tiba, sambil memegang pundakku. Aku tahu apa maksudnya.

“Eh, sudah lah Kang, anak kita ini kan sudah mulai dewasa. Biarlah dia yang memutuskan,” ucap ibuku. Aku menghela nafas terhenti dari aktivitas makanku.

“Insya Allah, Aiman akan segera mencari. Aiman mohon doanya bapak dan ibu,” aku memandangi mereka berdua.

“Horee! Aisyah akan punya kakak perempuan,” Aisyah riang.

“Anak kecil tak usah ikut campur!”

“Sudah, sudah, kalian jangan bertengkar kayak anak kecil!” lerai ibu. Aisyah cemberut.

“Tapi bapak,” aku menatap matanya, “Aiman bingung harus mulai dari mana.”

“Man! Taukah engkau bagaimana bapakmu ini bisa mendapatkan ibumu?” bapakku menatapku dalam-dalam. Aku menggelengkan kepala pelan.

“Awalnya begini,” bapak mulai bercerita. Kami memeperhatikan, “Dulu waktu bapak muda, bapak ya seperti kamu ini, bingung harus mulai dari mana. Akhirnya bapak di nasehati oleh Kiyai Zubair, kenal kan sama beliau? Kakeknya Fadhlan.”

“Iya,” aku megangguk pelan.

“Beliau menyarankan bapak agar sering-sering shalat tahajjud dan shalat dhuha, meminta kepada Allah Ta’ala, karena jodoh itu milik Allah. Dan jangan lupa diiringi pula dengan ikhtiyar. Eh suatu hari ketika bapak selesai shalat dhuha di masjid dekat pasar, bapak lihat seorang gadis yang sedang kebingungan karena motornya mogok tidak mau menyala. Untung bapak ini dulu lulusan otomotif jadi ya bapak bantu.”

Ibuku tersipu malu mendengar cerita bapak. Bapak melanjutkan cerita, “Sore harinya datang ibumu bersama kakekmu itu ke toko bapak, eh ternyata meminta bapak untuk jadi mantunya, begitulah Man! Mintalah pada Allah.” bapakku menepuk-nepuk pundakku.

Mendengar cerita bapakku aku tersadar, aku memang jarang sekali berdoa meminta jodoh. Aku rasa diri ini sombong sekali ketika tidak melibatkan Sang maha kuasa dalam urusanku. Tentu aku hanyalah hamba yang lemah di hadapan-Nya. Maka malam itu juga aku bangkit medirikan shalat malam, menengadahkan tangan meminta yang terbaik di sisi-Nya. Tak terasa air mata ini menetes, aku menangis di atas sajadah tahajjud. Menyelami kedekatanku dengan Sang Khaliq. Belum pernah aku merasa setenang ini. Aku yakin Dia tak akan menyia-nyiakan doa dari hamba-Nya yang meminta. Dia Maha mendengar dan Maha melihat.

 

Hari pernikahan pun tiba...

Pagi yang hangat, mentari bersinar cerah. Cahayanya menembus sela-sela dedaunan dari pepohonan rimbun yang ada di samping rumahku. Burung-burung kecil hinggap di ranting-ranting pohon jambu depan rumah, mereka saling berkicau. Mungkin pagi ini mereka menyempatkan untuk mengejekku. “Kau telah kalah hari ini,” barang kali seperti itu. Ah, aku sudah tak pedulikan hal itu lagi.

Aku masih berdiri di depan rumah, kesabaranku hampir habis. Sudah lima belas menit aku menunggu Aisyah masih belum selesai berdandan. Andai saja kami punya motor tiga tentu sudah kutinggal. Sayangnya keluarga kami cuma punya dua motor. Yang satu telah dipakai bapak dan ibu, mereka sudah duluan ke rumah Diana. Semantara aku harus menunggu Aisyah yang belum juga keluar dari kamarnya.

Akhirnya Aisyah keluar juga dari kamarnya. Ia memakai gamis biru gelap dan kerudung lebar warna hitam, cocok sekali. Sementara aku memakai koko pendek warna cokelat tua di hiasi bordir hitam di ujung lengan dan kerahnya, di padu dengan celana panjang hitam. Tak lupa memakai sedikit parfum agar lebih wangi. Dan kami pun bergegas menuju rumah Diana untuk menghadiri acara pernikahannya. Rumahnya sekitar satu kilo meter dari rumah kami. Kami sudah telat.

Suasananya sudah ramai, orang-orang berlalu lalang sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri. Kursi-kursi sudah hampir penuh, aku harus mencari tempat duduk yang masih kosong. Bunga-bunga krisan warna-warni menghiasi panggung penganten. Sekilas kulihat Fadhlan dan Diana yang saling duduk berdampingan, mereka sangat serasi. Senyum mereka mengembang menandakan kebahagiaan melepas masa lajang. Suara nasyid burdah dari Mesut Kurtis membahana, melambung ke udara. Aku dibuat iri oleh mereka berdua. Siapakah yang tak akan iri melihat seseorang yang mampu membuktikan keseriusan cintanya dengan lamaran, dan menjaga kesucian dalam bingkai pernikahan.

Usai acara aku duduk di deret kursi paling belakang. Menunggu mereka berdua selesai sesi pemotretan ke-dua mempelai dengan keluarganya masing-masing. Aku hanya ingin mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Aku telah rela dia bahagia. Dan  tiba-tiba aku dibuat kaget oleh suara seorang yang sangat kukenal.

“Assalamualaikum Aiman,” pria itu menjulurkan tangan.

“Waalaikumsalam warahmatullah,” jawabku sambil menyalaminya. Dialah ustadz Muchlis. Ustadzku waktu di pesantren dulu. Dia tak pernah berubah, masih segar dan awet muda seperti dulu. Aku mempersilahkan duduk.

“Gimana kabarnya Man? Sudah lulus kuliah?” tanya beliau.

“Alhamdulillah baik Ustadz, saya lulus dua bulan lalu.”

“Kamu ini kok kalau dihubungi sulit sekali, saya sudah menghubungi kamu berkali-kali sejak saya dengar kamu lulus dari fakultas syariah. Tapi sayang nomer kamu tak aktif.”

“Wah, saya minta maaf, handphone saya yang dulu hilang jadi nomernya ganti,” aku menggaruk-garuk kepala dengan tangan kananku.

“Man,” ustadz Muchlis menatapku, “Bagaimana pendapatmu dengan gadis itu?” beliau menunjuk ke arah gadis berkerudung merah muda yang duduk sekitar sepuluh meter di depanku.

Aku tersipu malu, entah apa maksudnya. Aku tak berkata apa-apa. Sekilas kuamati gadis itu. Wajahnya cantik bagai bidadari. Dan sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi aku lupa di mana.

“Namanya Muyassaroh, dia satu kampus denganmu, dan juga lulusan kemaren. Dia cerita kalau kau pernah menemukan dompetnya yang terjatuh di depan kampus. Dia putri sulungku. Maukah engkau menjadikan dia isterimu?” kata ustadz Muchlis tanpa basa-basi.

Aku kaget, dan hatiku berdesir mendengar kata-kata itu. Secepat inikah doaku dikabulkan. Allah memang menjawab semua doa bagi yang meminta.

“Semenjak peristiwa itu dia menunggumu Man!” ucap ustadzku.

“Bismillah, Insya Allah saya bersedia,” ucapku yakin. Ustadz Muchlis berkaca-kaca, memelukku. Aku tak mampu menahan air mata yang tumpah.

Cinta, jika engkau gagal memenangkan hati sang pujaan, yakinlah di belahan bumi lain ada hati yang sedang menunggumu untuk melabuhkan cintamu.

Sekian...

*Cerpen pertama yang pernah mengikuti lomba dan lolos 15 besar. Dibukukan dalam sebuah antologi cerpen berjudul “Undangan merah muda,” penerbit kastara.

  • view 200