Cerita Pohon Kamboja

Ahmad Kharis
Karya Ahmad Kharis Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Desember 2016
Cerita Pohon Kamboja

Sore kelabu. Awan gelap menggantung di angkasa. Membawa tetes-tetes hujan yang akan segera membasahi rumput kering pemakaman. Angin bertiup menimpa dedaunan. Satu dua helai bunga kamboja yang mulai kering jatuh dari pucuk rantingnya. Aku tahu sang mentari akan segera kembali ke peraduannya meski aku tak melihatnya karena dia bersembunyi di balik awan tebal itu.

Suasana sekitar pemakaman sudah sepi. Hanya suara-suara belalang dan anak-anak burung yang mulai kedinginan yang saling bersahutan. Memang sudah seharusnya pemakaman ini sepi. Hanya ada beberapa peziarah saja yang dapat dihitung perharinya sekedar menengok makam keluarganya dan membersihkan rumput-rumput di sekitar pusara.

Pria itu kini masih duduk di samping pusara. Pusara dengan bau khas tanah yang masih basah. Pusara yang harumnya semerbak mawar. Putih dan merah kelopak bunga baru beberapa jam lalu disebar di atasnya. Aku yakin pusara itu masih baru. Dan aku yakin pula pria itu sedang menangis. Entah sudah berapa lama dia terduduk seperti itu. Kurasa sudah begitu lama.

Nak! Apa yang engkau tangisi? Apakah perpisahan dengan orang terkasihmu yang begitu cepat itu? Atau karena ketidak berdayaanmu untuk mencegah kematian? Ingatlah Nak, setiap perjumpaan yang indah itu di belakangnya selalu ada perpisahan yang menguras air mata,” kataku padanya. Namun ia hanya diam dan sedikit terisak tak bergeming dari tempatnya.

Nak! Barukah engkau tahu?” aku masih terus bicara meski pun suaraku tak sampai ke telinganya, “Di balik tubuh gagahmu itu sungguh engkau begitu lemah. Apa yang bisa engkau perbuat untuk orang terkasihmu itu? Sekali pun engkau tak akan mampu mencegah kematian yang menjemputnya. Dan juga cepat atau lambat giliranmu pun akan tiba.”

Pria itu masih tak bergerak dari tempatnya. Hanya tertunduk dengan mata sembab berkaca-kaca, tersirat dari pandangannya penuh kesedihan mendalam. Sementara langit semakin kelabu dan berat oleh air. Gelap merangkak pelan, dan akan segera menggantikan cahaya. Aku merasa iba padanya, sungguh kasihan nasib pria itu.

“Nak...bolehkah aku duduk disini? Menemani kesendirianmu yang menggelisahkan itu? Aku hanya ingin berbagi sedikit cerita denganmu. Cerita yang belum pernah kuceritakan pada seorang pun.” bisikku di dekat telinganya. Tangannya makin erat menggenggam sekuntum mawar merah yang sedari tadi di bawanya.

“Nak...ijinkan aku bercerita sedikit tentang tempat ini. Mungkin enam puluh atau lima puluh tahun yang lalu, entah aku tak begitu ingat karena itu sudah lama sekali, di mana pertama kali aku di tempatkan di tempat ini, yaa pas berdiri di sampingmu di sini, di mana dulu diriku masih hijau dan kecil, engkau tahu dulu hanya ada sekitar sepuluh atau belasan makam saja di tempat ini...

“Seiring waktu berjalan, penghuni pemakaman ini semakin berdatangan. Setiap pekan ada saja yang meninggal dan dikuburkan di tempat ini. Bahkan sebelum kuburan baru mengering dan bau mawar masih belum hilang, sudah ada kuburan baru yang lain... Nak! Setiap makhluk itu pasti akan merasakan mati. Kematian itu gelas berisikan racun yang harus diminum secara bergiliran. Tunggulah giliran gelas itu akan sampai di hadapanmu...

“Aku telah melihat banyak tentang kisah pemakaman ini Nak. Tentang pendatang-pendatang baru yang akan tinggal di sini. Kadang aku terkagum dan merasa haru dengan seorang yang diantarkan oleh ribuan peziarah yang sambil berdoa mendoakannya. Apa yang telah dia perbuat semasa hidupnya? Apakah dia orang penting? Apakah dia begitu berpengaruh hingga ribuan orang yang melepas kepergiannya dengan isak tangis tak rela. Namun kadang aku juga merasa iba dengan seorang yang hanya diantar segelintir orang dengan muka terpaksa. Bahkan terdengar umpatan dan bisik-bisik membisikan kejelekan si mayat. Apa yang telah dia lakukan semasa hidupnya? Apa dia banyak cela ketika di dunia? Tentu orang ini berbeda dengan orang yang sebelumnya...

“Kadang kutemui orang kaya mati, di kubur di tempat ini. Kadang juga kutemui orang miskin mati, juga sama di kubur di bawah sini. Kau tahu Nak? Apa pun kedudukanmu, tetaplah kau akan di kubur di bawah tanah sama dengan yang lain. Sama dengan orang yang engkau anggap kedudukannya lebih rendah darimu. Maka tak sepantasnya engkau menyombongkan dirimu dan merasa lebih tinggi kedudukannya dari orang lain toh  pada akhirnya engkau juga akan berada di tempat yang sama. Bawah tanah dan menjadi mayat busuk yang di makan oleh cacing tanah...

Nak...andai saja engkau mendengar bahwa tangis dan kesedihanmu itu tak ada apa-apanya dibanding dengan teriak kesakitan dan sedih penyesalan orang  yang sekarang menghuni tempat ini, tentu dirimu tak akan mampu hidup tenang...meski pun ada orang yang diberi nikmat juga di dalam kuburnya...

Nak! Jangan biarkan dirimu menyesal seperti orang-orang yang telah lalu itu. Mereka sudah tak punya kesempatan untuk kembali. Sedangkan dirimu, hari-hari esokmu akan segera datang membentang memberi kesempatan-kesempatan perubahan...

“Beranjaklah dari tempat ini!” suruhku. Tapi dirinya masih tak bergeming dari tempatnya.

“Nak! Pergilah dari tempat ini!” aku mulai geram dengan pria itu. Namun sesaat kemudian dia mulai bergerak. Apa dia mendengarku? Pria itu melepaskan genggaman sekuntum mawar merah itu dan meletakannya di atas pusara. Dia berdiri dan mengusap matanya yang basah karena air mata. Dan dia berbisik pelan, “Istirahatlah Cinta, namamu akan selalu ada dalam sujudku.”

Dia pun berlalu dan pergi. Seiring rinai hujan yang rintik-rintik dan suara adzan maghrib yang menggema di angkasa kelabu aku sendiri lagi di sini. Sebagai sebuah pohon kamboja tua di sudut pemakaman yang sebentar lagi di makan oleh gelapnya malam.

Hanya fiktif belaka...

Jakarta, 12/12/2016

Di tengah sibuknya ujian tengah semester fak. Syari'ah LIPIA Jakarta

  • view 232