Suara MIsterius di Pagi Buta

Ahmad Kharis
Karya Ahmad Kharis Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Oktober 2016
Suara MIsterius di Pagi Buta

Kisah ini kutulis karena ada seorang sahabat yang meminta untuk menuliskannya. Kebetulan juga lagi pengen corat-coret tapi tak ada ide yang muncul untuk dituangkan menjadi tulisan. Sebenarnya kisah ini sudah tak teringat lagi, berhubung sudah lama kisah ini terjadi yaitu sekitar delapan tahun silam. Tentunya memori lama akan terus tertumpuk dan tertumpuk dengan memori yang lebih baru dan lebih segar. Tapi dengan perkataan seorang sahabat tadi aku jadi bergumam, “Oh ya cerita itu ada dalam lembaran masalaluku.”

Kisah ini berawal di pagi buta. Ketika itu aku masih nyantri di pondok Kliwon. Suasana masih gelap dan sepi waktu itu.Udara dingin yang menyeruak masuk dari ventilasi asrama serasa menusuk-nusuk kulitku. Selimut tipis lorek-lorek yang warnanya mirip kaos nara pidana itu tak berdaya mengusir hawa dingin yang menyentuh tubuhku. Kubalikkan tubuhku, kiri kanan beberapa kali, tetap saja ujung kaki dan tanganku dingin dan beku.

Tak beberapa lama kemudian lantunan suara adzan bergema. Itu suara khas pamanku. Tanda bahwa sudah jam 3 dini hari dan waktunya untuk shalat tahajjud. Di kampung Kliwon adzan pagi dikumandangkan dua kali, yaitu jam 3 pagi dan ketika shubuh. Adzan jam 3 untuk membangunkan orang yang mau tahajjud atau orang yang mau sahur bagi yang paginya menjalankan puasa. Dan penduduk kampung sudah terbiasa dengan hal itu. Untuk orang yang baru pertama bermalam di kampung Kliwon mungkin akan mengira bahwa itu adalah kumandang adzan shubuh.

Adzan telah usai, sepi kembali. Aku mulai mengerjap-ngerjapkan mataku, mengusir rasa kantuk yang masih menempel di pelupuk mata. Sejurus kemudian aku berdiri melihat sekeliling. Gelap. Sahabat-sahabat seperjuanganku masih tidur memeluk mimpi. Terdengar juga suara dengkuran yang saling bersahutan. Aku meninggalkan mereka untuk mengambil air wudlu di bawah.

Bangunan besar bertingkat milik pondok masih gelap. Sepagi itu hanya ada dua lampu yang dinyalakan untuk penerangan. Di dekat tangga dan di dekat pohon duren menuju ke masjid. Lantai pertama terdiri dari tiga ruangan, dua untuk kelas dan satunya lagi disekat untuk kantor juga ruang komputer. Semuanya gelap karena lampu tak dinyalakan. Lantai ke dua adalah asrama yang terdiri dari enam ruangan namun hanya dua yang digunakan dan yang lainnya masih kosong karena santri masih sedikit.

Selesai berwudlu aku bergegas ke asrama kembali untuk melipat selimut dan ganti pakaian. Tujuanku selanjutnya adalah masjid yang masih satu komplek dengan asrama. Shalat tahajjud di sana dan kemudian menunggu sampai shubuh tiba. Selasai tahajjud aku jarang sekali kembali ke asrama. Aku hanya khawatir jika ketiduran di asrama dan melewatkan shalat shubuh.

Bangunan masjid itu lumayan megah untuk ukuran masjid di sebuah kampung. Bertingkat dua dan dapat menampung kira-kira dua ratusan jama’ah di lantai bawah. Lantai ke dua kosong. Hanya ada karpet dan tak pernah digunakan untuk apa-apa kecuali kalau sholat tarawih saat bulan Ramadhan tiba.

 Masjid megah yang semuanya bercat puih itu memiliki beberapa kisah seram yang pernah aku dengar. Pertama yaitu dari pamanku sendiri. Dia pernah berkisah bahwa suatu ketika setelah selesai adzan jam 3 dini hari dia mendengar suara dari lantai ke 2 mirip suara orang yang sedang berdehem, “Ehm...ehm,” kira-kira seperti itu bunyinya. Kisah ke dua dari seorang ustadz yang katanya pernah melihat seorang wanita di lantai dua, dan ketika beliau mengejarnya wanita itu tak ada di sana. Kisah-kisah itu tak mengurungkan niatku untuk tetap shalat tahajjud di masjid. Toh tak pernah ada apa-apa selama ini shalat di sana.

Pagi itu suasana di masjid masih gelap dan sepi. Pamanku sudah pulang kembali ke rumahnya usai mengumandangkan adzan. Hanya ada satu penerangan yaitu di teras pojok utara. Aku memang sengaja tak menyalakan lampu dalam masjid. Aku lebih suka agak gelap. Karena di kegelapan dan kebutaan  pagi itu tak akan ada orang yang melihat, dan tentunya akan lebih khusyu ketika melakukan shalat.

Shalat kulaksanakan beberapa rekaat. Kubaca surah al fatihah dan beberapa ayat al qur’an dengan jahr atau dengan mengeraskan bacaan. Selesai kubaca beberapa ayat aku langsung ruku’ kemudian i’tidal. Nah di saat itulah gangguan mulai datang. Di tengah-tengah sholat aku mendengar suara, “Ehm...ehm..ehm.” Persis seperti apa yang di ceritakan oleh pamanku. Suara itu berasal dari lantai dua. Tentu jantungku mulai berdetak lebih cepat. Agak takut juga rasanya. Dan akhirnya selesai sholat langsung kembali ke asrama.

Kejadian itu tak menyurutkanku untuk shalat di masjid. Hari-hari kemudian aku masih sering shalat tahajjud di masjid. Hingga suatu ketika selesai sholat tahajjud aku duduk untuk berdoa. Bermunajat kepada-Nya. Tiba-tiba ada suara seseorang dari lantai dua membaca al fatihah, suara parau orang tua. Suara itu tak aku kenal jadi tak mungkin santri pondok Kliwon. Dan akhirnya aku kembali lagi ke asrama karena merasa merinding.

Itulah kisahku, bukan seperti kisah-kisah fiktif yang selama ini aku tulis. Memang belum semua kisah yang aku ceritakan. Tidaklah orang yang melihat itu seperti orang yang mendengar. Orang yang membaca cerita atau mendengarkannya tidaklah sama seperti orang yang telah melihat dan mengalaminya sendiri. Silakan buktikan sendiri. Dan tak usah khawatir. Para pengganggu itu tak seperti yang diceritakan dalam film-film seperti menghisap darah dan mencekik manusia hingga meninggal dunia. Mereka hanya ingin menunjukan eksistensi mereka di antara kita...

_________________________

Sore menjelang adzan Maghrib.

Jakarta, 25 Oktober 2016

Oleh: Kharis el Grabagy

  • view 183