Lebih dan Lebih Lagi

Ahmad Kharis
Karya Ahmad Kharis Kategori Renungan
dipublikasikan 23 Oktober 2016
Lebih dan Lebih Lagi

Gubuk tanpa pagar itu kini masih berdiri kokoh di tengah-tengah persawahan. Gubuk yang hanya terdiri dari beberapa tiang bambu dan genteng di atasnya itu selalu menjadi persinggahan para petani yang lewat, sekedar berteduh dari sengatan sinar matahari siang yang memanggang kulit.

Di dalamnya ada bambu-bambu besar yang sering kami sebut ‘petung’ dibentuk menjadi kursi untuk peristirahatan kaki dan raga yang lelah.

Pagi itu aku termenung di gubuk itu. Menatap rumput hijau yang tumbuh di sekitar gubuk. Rumput basah itu bergoyang ketika sepoi angin menyapa. Dingin, air masuk ke sela-sela sepatuku yang sudah mulai basah karena embun. Yah aku selalu menyempatkan istirahat sejenak di gubuk itu setiap olah raga pagi. Sekedar ingin menikmati keindahan dunia ciptaan Ilahi ini.

Birunya langit, birunya pegunungan di arah timur yang dipandang dari kejauhan, juga hijaunya tanaman padi yang berkilauan tersepuh sinar mentari pagi menjadi komposisi warna yang masuk ke retina mata menjelma menjadi satu kata yang terucap. Indah. Aku tersihir, mataku tak berkedip sedikit pun menikmati keindahan yang ada di depan mataku itu.

Langit timur kekuningan bercampur dengan sinar mentari pagi. Aku termenung menerawang jauh ke arah langit bersama burung-burung yang bertasbih di sela-sela pohon jagung yang ada di belakangku. Alangkah menakjubkan keindahan dunia ini. Lantas bagaimanakah keindahan surga??? Tentunya lebih dan lebih lagi. Keindahan dunia ini tak ada apa-apanya dibanding dengan keindahan surga.

Baginda Nabi saw pernah bersabda tentang gambaran keindahan surga, “Belum pernah ada mata yang melihatnya, belum pernah pula ada telinga yang melihatnya, dan belum pernah terlintas di hati seseorang.”

Begitulah gambaran luar biasa dari salah satu kampung akhirat. Bila ada tempat yang seratus persen nyaman untuk di tempati di sanalah tempatnya. Jannah.

اللهم إنا نسألك رضاك والجنة والنجاة من النار

“Yaa Allah, kami memohon keridhaan-Mu juga jannah-MU, dan kami memohon keselamatan dari neraka.”

Dari kampung halaman menuju sketsa kota Jakarta raya…

Jam menunjukan pukul 12:00 siang. Udara panas, terik matahari membakar ubun-ubun. Aku berjalan menyusuri pinggiran jalan. Suara kernet Kopaja yang berteriak-teriak juga suara klakson mobil dan sepeda motor di tengah kemacetan itu menambah panas suasana. Bukan hanya tubuh mereka yang terbakar terkena sengatan matahari tapi hati mereka juga terbakar karena amarah. Entah kenapa mereka marah, yang kutahu kemacetan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Ah mungkin motor itu mengambil jalan bus mini yang berwarna hijau dan putih itu. Ah aku tak peduli.

Aku baru pulang dari kuliah siang itu. Dan harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan angkot. Sebenarnya bisa saja sih naik angkot dari depan kampus. Tapi aku urungkan niatku. Sebagai seorang perantau aku harus menghemat uang transportasi. Ya dengan memotong perjalanan berjalan kaki.

Perutku terasa lapar karena memang pagi tak pernah sempat untuk sarapan. Yang lebih tak tertahankan adalah rasa haus. Di suasana sepanas itu tenggorokanku kering, perih. Ingin segera menyiramkan air dingin di tenggorokan menghilangkan rasa dahaga yang mendera. Tetapi hal itu kadang tak segera kulakukan. Aku ingin menikmati sedikit lebih lama rasa dahaga ini. Hingga terlintas dalam benak sebuah pertanyaan, “Rasa panas ini, rasa perih ini, dahaga ini begitu menyiksa. Lantas bagaimana nanti suasana di neraka???” Tentunya lebih dan lebih lagi. Aku ketakutan, tak sanggup membayangkan kengeriannya. Dan bibirku berucap lirih sebuah doa…..

اللهم إنا نسألك رضاك والجنة والنجاة من النار

“Yaa Allah, kami memohon keridhaan-Mu juga jannah-MU, dan kami memohon keselamatan dari neraka.”

Sekian…

Catatan kecil seorang pendosa…

Sorem kelabu, Jakarta 23 Oktober 2016

  • view 187