Pena yang Tumpul

Ahmad Kharis
Karya Ahmad Kharis Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Oktober 2016
Pena yang Tumpul

            Ibarat katana apabila dibiarkan tak diasah dan tak dipakai maka ia akan menumpul juga mengarat. Dan tak dapat dipungkiri suatu hari nanti katana itu tak akan dapat memotong apa pun karena ketajamannya telah sirna, rusak, dan hilang tanpa sisa. Begtiulah sifat katana yang seharusnya setiap hari selalu diasah dan digunakan.

            Mungkin kini nasib pena yang kugenggam mirip seperti nasib katana yang tak pernah diasah, tumpul, dan bahkan mungkin hampir patah. Atau mungkin jari-jariku telah kaku untuk menggoreskan pena itu di lembar kertas putih? Pena yang jarang diserut, begitulah penaku kini. Warnanya tak lagi tajam untuk menggores tulisan merangkai makna, ada ragu di sana.

            Aku masih ingat terakhir kali aku masih rajin menyerut pena dan menggoreskannya tanpa ragu di atas kertas. Tak terasa sudah hampir satu tahun lamanya. Dulu yang dalam satu jam saja bisa merangkai sampai tiga ratusan kata sekarang mungkin tinggal puluhan atau bahkan hitungan jari saja.

            Yang namanya batu akik tak bisa bersinar seketika. Dia harus menjalani proses penggosokan yang tak sebentar agar menghasilkan batu akik yang bersinar dan bernilai jual tinggi. Begitu juga keterampilan tak akan datang dengan seketika. Dia adalah buah dari sebuah proses latihan dan pembiasaan yang memakan waktu lama. Singa podium awalnya bukanlah singa, bisa jadi dia dulunya adalah kucing bisu yang tak bisa bersuara. Dia singa karena dia berlatih mengaum dalam waktu yang lama.

            Aku ingin mengasah kembali penaku yang sudah agak tumpul. Menggoreskannya di lembar keras putih berdebu. Melemaskan jari-jari yang sudah mulai kaku dan beku oleh waktu. Hingga pena itu bisa kembali merangakai kata tanpa ragu.

اللهم الرقنا الإستقامة

Ya Allah rizkikanlah kami keistiqomahan. Amiiin

 

Bersama terik mentari pagi....

Jakarta 22 Oktober 2016

  • view 172