Layang-layang Perjuangan

Ahmad Kharis
Karya Ahmad Kharis Kategori Renungan
dipublikasikan 18 September 2016
Layang-layang Perjuangan

               Siapa yang tak kenal dengan layang-layang. Mainan yang terbuat dari kertas dan bambu ini sering dimainkan bukan hanya anak-anak namun juga orang dewasa. Dengan berbagai bentuk dan warna warni membuat terhibur mata yang memandang ketika layang-layang itu terbang di angkasa bergoyang-goyang tertiup angin. Begitulah gambaran layang-layang yang dari dulu sampai sekarang masih digemari jika sedang musim angin.

                Waktu itu hari Jum’at menjelang shalat Jum’at. Aku bersama dua orang tetangga berjalan di bawah teriknya sinar mentari yang membakar, beriringan sambil mengobrol ringan, memotong jarak perjalanan menuju masjid agung. Ditengah-tengah perjalanan kami berpapasan dengan seorang anak kecil yang membawa beberapa layang-layang yang baru dibelinya.

                “Nang, kuwi sijine pira?. Nak, itu satunya berapa?” tanya salah seorang dari kami.

                “Sewu pak. Seribu pak,” jawab anak itu sambil berlalu.

                Sosok anak kecil itu mengingatkan potret masa kecilku. Beberapa tahun silam ketika anak-anak masih buta akan game online, setiap datang musim angin pasti langit yang cerah membiru itu dihiasi puluhan layang-layang yang terbang di angkasa. Tak jarang di antara dua ‘navigator’ layang-layang saling adu tanding. Siapa pemilik benang paling tajam di antara mereka. Dua layang-layang  saling berdekatan dan benang –benang saling bergesekan satu sama lain itu mencoba memutus benang lawannya. Yang benangnya putus yang kalah. Dan yang layang-layangnya tetap terbang tegak di udara yang jadi juara.

                Duel antara dua layang-layang itu biasanya menjadi tontonan yang menegangkan. Pasalnya layang-layang yang jatuh akan menjadi incaran anak-anak lain. Kami sering menyebutnya ngolek (huruf O seperti mengucapkan kata ‘orang’ dan huruf E seperti mengucapkan kata ‘lele’). Layang-layang yang putus benangnya sudah lepas kendali dari ‘sang navigator’, meliuk-liuk terbawa angin dan jatuh. Setiap anak yang melihatnya pasti akan lari mengejar layang-layang jatuh itu. Kadang jarak yang harus ditempuh lumayan jauh. Ada yang sampai ke hutan di selatan kampung, ada pula yang sampai ladang di utara kampung, ada juga yang sampai kampung sebelah.

                Siapa cepat dia dapat. Yang berhasil sampai duluan di tempat layang-layang itu jatuh dan menangkapnya dialah pemenangnya, dan menjadi pemilik sah layang-layang tersebut. Terkadang medan yang ditempuh tak selalu mudah. Dari menyeberang jalan raya, menyeberang sungai, melompati parit, hingga naik pohon. Namun bagi para layang-layang hunter itu tak menjadi masalah. Kadang ada anak yang jatuh ke parit hingga terluka, ada juga yang jatuh ketika memanjat pohon sampai cedera dan sebagainya.

                Sungguh layang-layang pada waktu itu dapat dibeli siapa pun. Cuma dengan seratus perak sudah bisa dapat satu layang-layang berwarna putih dengan gambar pendekar yang berwarna merah dan hijau. Namun suatu kebanggaan tersendiri jika bisa memperoleh layang-layang hasil ngolek itu. Jadi tak heran apabila seorang anak lebih memilih untuk ngolek dari pada meminta uang dari orang tuanya untk membeli layang-layang. Itulah layang-layang perjuangan hasil lari-larian sampai beberapa ratus meter yang tentu berbeda dengan layang-layang hasil jalan santai ke warung seberang jalan.

                Segala sesuatu akan lebih berharga apabila itu adalah hasil dari jerih payah dan perjuangan kita. Seperti si kaya yang punya pundi-pundi harta akan menganggap sepele soal sepatu yang berhasil dibeli. Berbeda halnya dengan si miskin yang bisa beli sepatu setelah dua tahun memotong uang jajannya untuk ditabung, tentu bagi si miskin sepatu itu adalah sepatu hasil perjuangannya yang punya nilai tersendiri di hati.

                Maka berjuanglah tanpa lelah untuk mendapat apa yang kita citakan. Agar supaya yang kita citakan setelah kita dapatkan tak kita sia-siakan karena itulah buah perjuangan. Dan tentu akan ada satu atau dua kisah yang bisa kita ceritakan nantinya apabila kita memperjuangkan bukan mengharap gratisan.

Sekian...

Hanya tulisan dari seorang yang sedang memperjuangkan...

  • view 183