Tangisan ke Dua

Ahmad Kharis
Karya Ahmad Kharis Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Agustus 2016
Tangisan ke Dua

Matanya sembab, merah dan menyiratkan kemarahan. Telinga kirinya juga memerah bekas jeweran. Anak kecil yang kurus kering itu meringkuk di pojokan kamar. Lututnya ditekuk dan kedua tangannya memegang erat kepala. Sepertinya anak yang malang ini sedang dimarahi habis-habisan. Di sisi kirinya sang kakak laki-laki hanya duduk dan menatap adiknya dengan tatapan agak jengkel. Dan di depannya sang ibu yang duduk di atas dipan menatapnya sambil berlinangan air mata.

“Mau jadi apa kamu kalau tak mau mengaji?” bentak ibunya, suaranya agak bergetar. Ruangan kamar yang tak begitu besar itu kini bergema dengan suara keras sang ibu. Kakak peremuannya yang mengintip di balik pintu hanya bisa menatap adiknya dengan iba. Kamar dengan ukuran tiga kali empat meter dan diterangi temaram lampu lima watt itu kini mendadak menjadi ruang interogasi.

“Ampun Mak! Faris gak akan mengulanginya lagi,” ucap anak kecil itu lirih sambil menangis.

“Faris Faris! Emak itu pengen kamu jadi anak yang pinter ngaji, disuruh ngaji malah main-main di jalanan, mau jadi preman apa?” kata ibunya sambil mengusap air mata yang mengalir di atas pipinya. Seketika suasana hening, hanya terdengar isak tangis Faris, si anak malang dan juga ibunya.

Mungkin malam itu adalah malam yang tak akan pernah terlupa di benak anak kecil itu hingga ia dewasa. Malam itu adalah malam di mana ia harus melihat ibunya menangis karena kebandelannya. Ia begitu menyesal dengan apa yang ia perbuat. Dalam hatinya ia telah bertekad, ia tidak akan membuat ibunya menangis karena kebandelannya untuk kedua kalinya. Bahkan ia berjanji akan membuat ibunya bangga padanya suatu hari nanti.

Sebenarnya Faris adalah anak yang baik dan penurut, tapi ia terpengaruh dengan teman-temannya yang agak nakal. Namun semenjak peristiwa malam itu ia mulai berubah. Ia tak ingin lagi melihat ibunya kembali menangis gara-gara kelakuan nakalnya. Ia menjadi anak yang rajin mengaji setiap bakda maghrib di rumah seorang kyai. Bukan hanya itu saja, ia menjadi rajin ke masjid untuk sholat berjama’ah lima waktu.

*******

Faris kini tumbuh menjadi seorang pemuda yang shalih. Ilmunya mungkin memang tak seberapa, tapi dialah salah satu pemuda yang paling rajin untuk datang ke masjid kampung. Dia juga muadzin termuda di masjid itu. Hatinya selalu rindu pada masjid, membuatnya sangat betah berlama-lama di dekatnya. Mungkin dia telah mendengar hadits yang keluar dari lisan yang tak pernah berdusta, baginda Rasulullah, tentang orang-orang yang akan mendapatkan naungan dari Allah di hari tiada naungan kecuali naungan-Nya. Dan salah satunya adalah seorang pemuda yang hatinya selalu terpaut oleh masjid. Mungkin dia termotivasi dengan hadits itu, mugkin saja.

Suatu pagi yang indah dengan pancaran mentari nan cerah. Masjid kampung itu kedatangan seorang tamu. Dia adalah seorang ustadz dari Jawa Timur yang katanya memiliki sebuah pondok pesantren di sana. Dia merupakan kawan dekat pak kyai Maimun yang menjadi imam tetap masjid Utsman ibn Affan, masjid kampung tersebut.

“Mun! Siapakah pemuda itu?” tanya sang ustadz pada kyai Maimun sambil menunjuk kepada seorang pemuda yang sedang mengepel lantai masjid.

“Oh, itu anak kampung sini,” jawab kyai Maimun sambil tersenyum.

“Apa ia tidak sekolah?” tanya sang ustadz keheranan.

Kyai Maimun menghela nafas, ia menatap prihatin kepada pemuda itu, dan mulailah ia bercerita, “Ia dari keluarga miskin, kedua orang tuanya hanyalah seorang petani, ia putus sekolah karena orang tuanya tak sanggup lagi untuk membiayai sekolahnya.”

“Berapa kira-kira usianya?”

“Sekitar lima belas tahunan,” jawab kyai Maimun agak ragu.

“Bisa engaku panggilkan ia kemari?”

“Faris kemari! Ada yang ingin berbicara denganmu,” panggil kyai Maimun sambil melambaikan tangannya menyuruh pemuda itu mendekat.

Pemuda itu menoleh dan menyambutnya, “Ya pak kyai!”

Mereka bertiga duduk di teras masjid. Sambil menikmati hangatnya sinar mentari pagi yang menyentuh kulit, mereka saling berkenalan dan berbincang-bincang dengan serius.

“Faris! Maukah engkau nyantri di pesantrenku?” tanya sang ustadz setelah sebelumnya saling berkenalan.

“Maaf ustadz, emak dan bapak saya hanya seorang petani, mereka tak akan punya cukup uang untuk biaya pesantren,” kata Faris tertunduk.

“Faris! Aku yang akan menanggung semua biayanya, kau tinggal ijin sama orang tuamu saja,” kata sang ustadz tersenyum padanya.

“Tapi ustadz...” ucap Faris agak ragu.

“Apakah engkau tak mau menjadi penghafal al qur’an? Apa engkau tak mau menghadiahkan mahkota cahaya kepada kedua orang tuamu kelak di hari akhir?” tanya sang ustadz sambil mengelus kepala Faris.

Faris memandang sang ustadz, ia ingat, ia ingin sekali membanggakan kedua orang tuanya, matanya berkaca-kaca, “Terimakasih ustadz!”

Sore hari itu juga Faris berpamitan kepada kedua orang tua juga kakak-kakaknya. Ibunya tak kuasa menahan air mata yang tumpah. Suasana haru benar-benar menyelimuti acara perpisahan yang singkat itu. Kini Faris harus pergi meninggalkan keluarga demi sebuah cita-cita mulia juga demi, menjadi seorang penghafal al qur’an.

 

 

 

Lima tahun kemudian...

Seorang pemuda gagah berjenggot tipis, dengan peci putih, koko pendek warna coklat muda, dan celana hitam di atas mata kaki, berdiri di depan pintu sebuah rumah. Tatapannya menyiratkan rindu yang sudah menumpuk sekian lama. Pintu pun di buka.

“Faris! Kamu pulang nak...” suara ibunya yang telah tua itu bergetar.

Emak! Faris telah lulus dari pesantren Mak, Faris telah hafal 30 Juz Mak!” suaranya terisak ia memeluk ibunya. Ibu dan anak itu kini berpelukan melepas rasa rindu yang telah mengendap selama lima tahun tak berjumpa. Faris kembali membuat ibunya menangis untuk kedua kalinya, tapi kini menangis karena terharu dan bangga. Ia telah membuktikan tekad hatinya bahwa ia tak akan membuat ibunya bangga pada dirinya.

*Cerpen ini pernah lolos nominasi lomba cerpen bulan februari 2016, dan dibukukan dalam antologi cerpen berjudul “Cerita Sang Pecinta Al qur’an.” penerbit Naifa Pubhlising.

  • view 192