Halaqoh Empat Pemuda

Ahmad Kharis
Karya Ahmad Kharis Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Mei 2016
Halaqoh Empat Pemuda

“Janganlah berjalan di belakangku, karena mungkin aku tak bisa memimpinmu…
Jangan pula berjalan di depanku, mungkin aku tak bisa mengikutimu…
Berjalanlah di sampingku dan jadilah sahabatku.”

–Anonim–

Suatu sore…
Grabag, Magelang, di pertengahan Januari tahun 2021…

Kuedarkan pandangan di sekelilingku, hanya karpet hijau yang membentang. Masjid sudah kosong ditinggalkan jama’ah. Ah…diriku baru sadar, aku ketiduran sehabis wirid ba’da shalat ashar. Memang sore ini aku begitu capek dan agak mengantuk.
Rasa-rasa mata ini begitu berat untuk dibuka kembali. Dari pagi hingga siang tadi hanya berkutat pada tugas-tugas yang sudah mengantri untuk segera diselesaikan.

Sore ini langit begitu cerah. Mentari yang terus bersinar semenjak pagi tadi entah mengapa tak berdaya megusir hawa dingin di kampung kecil yang terletak tak jauh dari gunung Andong ini. Semilir angin yang menembus ke sela-sela jaket hitamku membuatku semakin merapatkan sedekap. Terlihat dahan pohon besiyah yang bergerak-gerak terkoyak angin, daunnya berguguran. Suara gemerisiknya menimbulkan nyanyian alami khas pedesaan yang indah di telinga. Ini sudah pertengahan Januari, tapi hujan enggan turun untuk sekedar membasuh kering kerontangnya kemarau panjang.

Sayup-sayup terdengar suara kegiatan belajar mengajar di sebuah boarding school di dekat masjid ini. Tepatnya masjid ini memang berada di komplek boarding school itu yang juga merupakan almamaterku dulu. Terdengar suara para santri sedang menghafal bait-bait alfiyah ibn malik, ah…aku masih ingat dengan nada itu, nada seperti nyanyian untuk mempermudah kita menghafal bait demi bait alfiyah. Suara itu begitu akrab di telinga kami semua, para santri dulu.

Kuarahkan pandanganku ke atas, terlihat bagian dalam kubah yang dicat seperti langit biru dengan sedikit awan putih di pojok-pojok. Kemudian kualihkan pandanganku ke sebuah jam yang menempel di tembok di atas pintu masuk masjid. Masih jam empat kurang seperempat. Ooh ternyata aku tak sendiri, di teras masjid nampak tiga pemuda yang sangat aku kenal sedang duduk-duduk sembari asyik bercengkerama, entah apa yang sedang mereka bahas. Aku pun beranjak untuk menyapa mereka bertiga.

“Assalamu’alaikum!” kataku sambil mengulurkan tangan, menjabat tangan mereka satu persatu.

“Wa’alaikumsalam warahmatullah!” jawab mereka kompak, sambil tersenyum padaku.

Mereka bertiga adalah adik kelasku. Yang sedang bersandar di sebuah tiang barnama Muchlis, ia memakai baju koko panjang berwarna kuning pucat bergaris-garis hitam dan celana hitam di atas mata kaki. Dan tidak ketinggalan peci berwarna abu-abu yang bentuknya mirip kantong doraemon yang selalu melekat di kepalanya. Kemudian di sebelahnya adalah Nuril yang terlihat sedang menggenggam smartphonenya di tangan kirinya. Seperti biasa ia memakai gamis kebesarannya yang berwarna putih bersih. Dan yang paling pojok adalah Isal, ia mengenakan koko pendek warna biru muda yang di ujung kerahnya bertuliskan huruf ra’ tiga buah.

“Gimana syaikh? Capek?” tanya Muchlis.

“Ya beginilah, hari ini banyak yang harus dikerjakan.” jawabku sambil duduk di antara Muchlis dan Nuril.

“Mimpi apa syaikh? Kok kelihatannya nyenyak banget tidurnya? He he he” tanya Nuril bercanda.

“Ah…gak mimpi apa-apa kok. Semenjak mimpiku jadi kenyataan aku gak pernah mimpi lagi. Ha ha ha.” Mereka tersenyum mendengar jawabankku yang juga setengah bercanda.

“Rasanya sudah lama kita gak pernah berkumpul seperti ini lagi,” Isal mulai bicara.
“Hmmm…betul,” Nuril mengangguk.

“Yaah, kita memang sibuk dengan urusan kita masing-masing,” sambung Muchlis.

“Apalagi kalo panjenengan nanti jadi ke Saudi untuk melanjutkan S2 di sana mas Muchlis,” tanganku menepuk pundak Muchlis.

Serentak mengucap, “Amiiin…” Muchlis mengangkat kedua telapak tangan dan mengusapkannya di wajahnya.

Aku jadi teringat tentang cerita-cerita yang telah kami lewati bersama mengukir sebuah kenangan di jalan-jalan kehidupan. Bersama-sama menuliskan sebuah kisah dalam lembar-lembar masa lalu. Entah…aku sudah lupa kapan perkumpulan para pemuda ini pertama terbentuk. Perkumpulan ini terbentuk secara alami. Yah…kami tak pernah dengan sengaja membentuk perkumpulan yang sering kami sebut sebagai halaqoh ini. Istilah halaqoh juga merupakan sebuah pencurian istilah. Kalau biasanya ada istilah halaqoh qur’aniyah atau halaqoh dirosiyah dan lain sebagainya, tapi entah halaqoh kami ini termasuk dalam halaqoh jenis apa, atau mungkin halaqoh spesies baru.

Dulu kami tinggal satu atap di pesantren, tapi aku ingat ketika kami bersama-sama di pesantren halaqoh ini belum terbentuk. Sepertinya dimulai dari ketika kami kuliah di tempat yang sama. Meski aku dua tahun mendahului mereka.

“Ketika seorang merantau di negeri orang dan bertemu dengan orang yang pernah ia kenal maka mereka akan menjadi sahabat yang akrab meski dulunya tidak terlalu akrab,” Kata guruku suatu kali bercerita.

Tapi itu hanyalah sebuah teori. Dan mungkin teori itu benar bagi kami. Di belantara ibu kota kami menjalin keakraban, saling berbagi dan saling menguatkan. Hingga tanpa sadar halaqoh ini terbentuk dengan sendirinya.

Di Jakarta kami memang tinggal di tempat yang berbeda-beda, ada yang nge-kost, ada yang tinggal di rumah tahfidz, ada juga yang jadi ta’mir sebuah masjid. Sedangkan aku sendiri tinggal di sebuah rumah milik sebuah yayasan dan mengajar anak-anak di sekitar rumah. Meskipun begitu kami selalu membuat agenda di mana kami berempat bisa berkumpul bersama. Entah itu keliling kebun binatang Ragunan bersama hingga kaki serasa mau patah saking capek karena luasnya, atau ke Monas di waktu siang hari seakan ingin menjemur isi kepala dan ketika kepanasan kami mampir ke masjid Istiqlal untuk sekedar numpang tidur siang, atau sekedar makan nasi goreng pada malam hari di tengah lapangan basket dengan penerangan seadanya. Semuanya benar-benar menjadi kenangan tak terlupakan. Biasanya kami mengagendakannya ketika libur kuliah, sekalian refreshing setelah seminggu bergelut dengan materi-materi kuliah yang cukup membuat kepala kami serasa penuh.

Untuk mudik kami juga sebisa mugkin bersama-sama pulang ke kampung halaman. Hanya aku yang kadang tak bisa mudik bareng bersama-sama dengan mereka karena kegiatanku mengajar dan harus mengakhirkan jadwal kepulanganku. Di rumah pun sama, kami juga sering mengagendakan acara yang sering kami sebut liqo’ ini. Makan bakso bersama di dekat pasar, makan bubur di tempat favorit kami, atau cuma sekedar duduk-duduk di masjid.
Seiring berjalannya waktu, kami semakin sulit untuk menentukan jadwal liqo’ kami ini. Aktivitas yang berbeda-beda di setiap personil membuat kami kesulitan menentukan jadwal kumpul bersama. Apalagi setelah aku berhasil meraih gelar sarjanaku sekitar lebih dua tahun lalu, aku semakin jarang bertemu mereka bertiga. Kini mereka pun telah lulus sekitar setengah tahun lalu. Tentunya kami tak mungkin seperti dulu lagi terus bersama. Itu karena kesibukan kami yang berbeda.

Sore ini kami berkumpul kembali di teras masjid, untuk sekedar reuni. Mengenang kembali kekonyolan-kekonyolan yang pernah kami lakukan dulu. Masih seperti dulu, sering bercanda dan ketawa-ketawa gak jelas. Reuni halaqoh empat pemuda.

Handphoneku bergetar, suara nasyid –tsabbitny yaa Allah- yang menjadi nada deringku terdengar keras dari dalam saku jaket hitamku. Tanda bahwa ada panggilan masuk. Oh ternyata panggilan dari rumah… tanpa ku angkat aku paham aku harus segera pulang. Aku hampir lupa bahwa sore ini aku ada acara.

“Dari siapa syaikh?” tanya Isal menatapku.

“Dari rumah, maaf aku harus segera pulang, atau panjenengan-panjenengan mau mampir ke rumahku?” aku berdiri dari tempat dudukku.

“Antum kan lagi ada acara, kapan-kapan saja. Atau mungkin kapan-kapan kita liqo’ saja gimana? yah kalo lagi gak ada kesibukan,” Muchlis memberi saran.

“Insya Allah nanti kita atur waktunya,” sambung nuril.

“Itung-itung nostalgia syaikh!,” imbuh Isal, tersenyum.

“Insya Allah,” aku mengangguk, “ wassalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam…” jawab mereka kompak.

Dan aku segera berlalu meninggalkan mereka bertiga di masjid….

Hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh atau tempat itu merupakan kesalahan yang disengaja.

Glosari
1. Syaikh : panggilan kepada senior, atau kepada orang alim.
2. Panjenengan : kamu (bahasa jawa)
3. Antum : kamu (bahasa arab)

  • view 121