Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 22 Mei 2016   07:15 WIB
Bersyukurlah! Menjadi Seorang Muslim

Menjadi seorang muslim adalah anugerah Sang Ilahi, nikmat yang paling besar yang diberikan kepada hamba-hambaNya dan WAJIB kita syukuri. Pasalnya banyak juga orang yang tidak mendapatkan hidayah untuk menjadi pemeluk dien islam. Namun, kebanyakan muslim lalai akan rasa syukur ini, rasa syukur telah menjadi seorang muslim. Dan juga mereka telah lupa akan berharganya menjadi muslim.

Para shahabah rodhiyallohu ‘anhum, sebelum diutus Muhammad SAW mereka bergelimang dalam kesyirikan; menyembah berhala. Dan datanglah waktu itu, ketika cahaya islam mulai terbit di dataran arab. Menentang kesyirikan, menghapus perbudakan.

Begitu berat meninggalkan, begitu sulit merelakan hal tersebut. Karena telah ratusan tahun mereka ada dalam kesyirikan. Apalagi orang-orang yang rakus akan harta dan kekuasaan, menentang ajaran baru tersebut dikarenakan dianggap akan merugikan kedudukan mereka. Sangat-sangat sulit menjadi seorang muslim waktu itu. Namun inilah Islam dienullah, tak akan musnah walau banyak penentang di awal kelahirannya hingga sekarang. Di sana ada orang-orang yang diberi hidayah, dibuka pintu hatinya untuk menerima kebenaran islam meskipun keadaan begitu berat untuk bertahan.

Bilal ibn Rabah, muadzin Rosulullah Saw. Di masa awal keislamannya, islam masih belum memiliki kekuatan untuk melindungi para pengikutnya dari siksaan kaum kafir Makkah. Dia sebagai budak seorang kafir Makkah bernama Umayyah sering disiksa. Pada hari yang sangat panas itu, di atas pasir Makkah ia dipaksa keluar dari keimanannya tersebut. Tubuhnya penuh luka, lemah tak berdaya. Ada batu yang menindih tubuhnya. Itulah siksa agar ia meninggalkan keimanannya dan kembali menjadi hamba para berhala. Namun, apa yang terjadi, keimanannya masih kokoh di dalam dada tak tergoyahkan. “Ahad. . .Ahad. . .Ahad. . .” kata-kata yang berulangkali keluar dari mulutnya. Hingga membuat sang majikan bingung dan marah. Siksaannya sia-sia. Luar biasa. . .

Lain lagi dengan seorang shahabah dari negeri Persia, Salman al farisi. Terlahir di tengah-tengah masyarakat penyembah api, majusi. Bertahun-tahun bersama mereka membuatnya gundah, ragu-ragu akan kebenaran agama nenek moyangnya. Akhirnya dia memutuskan meninggalkan kampung halaman mencari kebenaran. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hidup di gereja bersama pendeta, menumpang para kafilah pedagang kemudian dijual kepada seorang yahudi madinah, hingga sampailah ia di kota Nabi tersebut. Ya Madinahlah tujuannya. Allah SWT menuntunya dari Persia sampai tempat itu, bertemu Rosulullah SAW. Dan akhirnya berislam.

Itulah kisah perjuangan mereka. Memang tak diragukan lagi, merekalah generasi terbaik umat ini. Rela mengorbankan diri demi sebuah cahaya kebenaran, cahaya iman. Di mana keimanan yang mereka miliki benar-benar iman yang hakiki. Merasakan manisnya iman di tengah pahitnya siksaan. Menikmati keindahan iman di tengah buruknya keadaan.

Empat belas abad kemudian, di tanah melayu sekitar beberapa tahun silam. Seorang lelaki rela diusir dari rumah orang tuanya, di tengah-tengah keluarganya yang nasrani demi memperjuangkan islam. Seorang mualaf yang kemudian berhasil menyadarkan orang tua dan keluarganya akan hakikat kebenaran, bersama-sama menjadi keluarga muslim.

Aku dan saudara-saudariku seiman, yang pernah merasakan perjuangan untuk menjadi seorang muslim atau pun belum, BERSYUKURLAH! SADARLAH! Bahwa menjadi muslim adalah karunia terbesar yang Allah berikan kepada kita.

Tidak lupa akan pentingnya menjadi muslim Nabi Ibrahim AS mewasiatkan kepada anak-anaknya, begitu juga Nabi Ya’qub AS tidak lupa mewasiatkan kepada anak-anaknya.

??? ????????? ?? ????????? ????? ???????? ????? ???????? ????? ??? ?????????? ??????.

“Wahai anak-anakku! sesungguhnya Allah telah memilih dien ini untukmu, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Al Baqarah: 132)

Sekian. . .
Wallahu a’lam bi showab

Karya : Ahmad Kharis