Toleransi dari Tanah Bugis

el dausy
Karya el dausy Kategori Budaya
dipublikasikan 30 Maret 2016
Toleransi dari Tanah Bugis

?

Ada juga para pakar pluralisme menggunakan dalil-dalil agama sebagai dasar dalam teorinya, yang mana hasilnya tidak begitu signifikan dalam mewujudkan toleransi atau menghargai pluralitasnya sebagai bangsa yang multikultur ini. Padahal selama ini dalam permasalahan multikulturalitas, pluralitas, dan toleransi sudah terwujud dalam bingkai ?Bhinneka Tunggal Eka? yang selalu didengungkan sejak jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. ?

Dalam hal ini penulis merasa bahwa untuk mecinptakan kesadaran dan penghayaatan yang mendalam dalam masyakat Indonesia dibutuhkan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Mengingat akan kesadaran multikulturalitas, pluralitas, dan toleransi telah terbungkus dengan rapi dari nilai-nilai kearifan lokal masing-masing suku bangsa sebelum Indonesia menjadi sebuah negara yang utuh. Mulai dari bagaimana seseorang saling menghargai, saling menghormati, saling mengasihi dalam intern suatu suku bahkan bagaimana hidup rukun dari sikian banyak perbedaan dari masing suku di suatu daerah seperti hidup rukunnya suku atau masyarakat Minang yang di identikan Islam dengan masyarakat Melayu yang juga diidentikan Islam, dan dengan Masyarakat Batak yang diidentikan dengan Kristen yang ada di pulau Sumatra dimana pertemuan dan pergesekan yang akan berakibat fatal dalam masyarakat meskipun begitu bisa diredam dan terleselesaikan dengan baik. kemudian perbedaan yang sama antara masyarakat suku Makassar, Bugis, Mandar yang diidentikan dengan Islam, dan sementara Toraja yang diidentikan dengan Kristen yang mana demikian ini melihat dari perbedaan-perbedaan yang begitu menonjol dari masing-masing suku, baik itu dari segi adat-istiadat, nilai-nilai budaya, dan kepercayaan (agama) akan tetapi semua dari semua perbedaan itu mereka bisa ?bekerja sama dan bersanding dengan baik, hidup rukun Bagaimana dulu budaya dan tradisi mengatur kehidupan manusia yang mengutakan keharmonisan hubungan manusia, baik hubungan manusia dengan penciptanya, lingkungan, kehidupan sosial, maupun dirinya sendiri,[1] bahkan membuat sebuah peradaban yang besar.

Apabila kita mengingat kondisi saat itu teori normatif tentang multikulturalisme, pluralisme, dan sebagainya belum pernah terdengar dan diketahui oleh suku tersebut di atas melainkan sebuah kearifan lokal yang dimiliki oleh masing-masing suku tersebut. Kehidupan yang toleran dalam masyakat bangsa Indonesia sudah terletak sejak lama dalam nilai-nilai budaya kita sendiri.

Masyarakat Bugis yang telah mempunyai peradaban yang begitu tinggi dalam tataran masyarakat Sulawesi Selatan yang bisa membuat masyarakat Bugis dikenal surveiv dan kaya akan sumber daya alamnya dari penjuru Nusantara sampai ke negeri-negeri lain saat itu sehingga banyak neraga yang melakukan perdagangan dengan masyarkat bugis baik itu dari pedangan Nusantara, Cina, India, serta banyak negara samudra Hindia lainnya[2], bahkan sampai kapal pedagang wajo di singapura,[3] yang begitu surveivnya.

Menurut penelitian antropologis yang dikemukakan oleh A. Mattulada dalam disertasinya berjudul Latoa, suatu lukisan analisis terhadap antropologi politik orang Bugis (1975) ? di kala meneliti manuskrip lontara karya klasik gubahan La Mellong membuktikan bahwa siri mendinamisasi serta menjadi kekuatan pendorong terhadap pangederreng sebagai wujud totalitas kebudayaan beserta dengan isinya.[4] Pangederreng menjadi sebuah peradaban yang tinggi dalam masyarakat bugis selama ini dengan beberapa unsurnya yaitu, Ade? (kaedah huku, adat-istiadat, kebiasaan), Bicara (Peradilan, putusan hakim/raja), Rapang (rujukan, yurisprudinsil), Wari? (aturan kekerabatan, protokoler,pengaturan silsilah menurut garis keturunan), dan Sara? (syariat). Dari pengederreng bagaimana kehidupan orang bugis diatur sedemikian rupa agar mencapai kemajuan dalam hidupnya, dari pangederreng itu terangkum dalam ?Siri na Pesse?.

Siri na Pesse adalah dua suku kata yang terdiri dari kata ?Siri? dan kata ?Pesse?. Siri diartikan sebagai malu, harga diri atau martabat diri seseorang, Peneliti dari Auckland University, Selandia Baru Andaya L. Y. Mengemukakan bahwa siri itu dua makna yang kontradiktif, pertama siri diartikan sebagai shame (malu) kedua yaitu makna self respect, self esteem, self-worth (harga diri).[5]?

?Seseorang Bugis akan menyerahkan segalanya bahkan nyawanya sekalipun untuk menegakkan Siri nya dan dianggap mulia dan terhormat apabila seseorang bisa menegakkan siri nya meskipun dia membunuh sekalipun, dalam hal ini masyarakat bugis banyak yang menggangap bahwa logika orang Bugis itu tidak baik, negatif, dan salah karena menghargai dan memuliakan pembunuh. Akan tetapi di lain sisi dari itu kondisi psikologis masyarakat Bugis ?sangat peka? dimana sikap saling mengormati dan saling menghargai begitu di junjung tinggi yang mana akan berakibat fatal bagi pribadi yang tidak menghormati dan menghargai orang lain sebagai manusia. Kemudian kata ?Pesse? yang berarti pedas seperti cabe atau merica yang menganding rasa pedas yang mengigit. Pesse juga bisa diartiakan, ?pesse perru? atau bebbua contoh dalam ungkapan mapesse perru?na (perih hatinya) maka artinya adalah perasaan kasihan, iba hati atau rasa empati terhadap orang lain. Ini menunjukan kepekaan masyarakat Bugis untuk memanusiakan manusia lainnya.

Untuk menciptakan kondisi yang toleran dalam masyaraka Bugis pada zaman dahulu kita kenal dengan nama Assimellereng yang terdapat dalam Pangaderreng yang kini menjadi Prinsip paling dijunjung dalam kehidupan sehari-hari. Assimellereng mengadung makna kesehatian, kerukunan, kesatupaduan atara satu keluarga dengan yang lainnya, antara suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya. realisasi dari Assimellereng ini terdapat dalam tiga (3) sipa (sifat) yaitu, Sipakatau (saling menghormati), sipakalebbi? (saling menghargai), dan sipakainge? (saling mengingatkan) yang kemudian dikenal dengan Falsafah 3-S dalam masyarakat Bugis.

Sehubungan itu penulis ingin menjadikan budaya lokal sebagai salah sudut pandang untuk menciptakan kesadaran dan penghayatan menuju masyarakat Indonesia yang toleran dalam skiripsi penulis dengan judul ?Etika Toleransi dalam Kearifan Lokal Masyarakat Bugis?. Sebagaimana yang telah ada tergambar dalam nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Bugis secara idea.

?

[1] Marhadi Said, Jati Diri Manusia Bugis, Jakarta: Pro leader, h.3

[2] Cristian Pelras, Manusia Bugis, Jakarta: Forum Jakarta-Paris.2006, h.356

[3] Cristian Pelras, Manusia Bugis, Jakarta: Forum Jakarta-Paris.2006, h.362

[4] Dr. H. M. Laica Marzuki, SH. Siri: Sebagai Kesadaran Hukum Rakyat Bugis-Makassar (sebuah telaah filsafat hukum) Ujung Pandang: Hasanuddin University Press, 1995. H 25

[5] Prof. Dr. Marhadi Said, Jati Diri Manusia Bugis, Jakarta: Pro leader, h 38

  • view 196