Gasal di Panggung

Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara)
Karya Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara) Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Februari 2016
Gasal

Gasal


"Apa arti sebuah ikatan, jika mereka hanya kenangan yang berlalu bersama angin?" kumpulan cerita tentang perjalanan mencari arti sebuah ikatan. antara Manusia, Tuhan, kematian. Selamat Membaca

Kategori Acak

786 Hak Cipta Terlindungi
Gasal di Panggung

Gasal di Panggung

?

??????????? Kau ingin tahu, bagaimana orang yang diberi kesempatan hidup kembali? Memang terdengar aneh dan menakutkan. Tapi, ini memang terjadi. Dan sepertinya memang sudah diatur oleh yang di atas.

??????????? Tuhan telah memberiku kesempatan untuk memperbaikinya.

?

***

??????????? ?Ini sebuah keajaiban! Kami mengira, dia tidak akan selamat dari koma akibat luka robek di paru-parunya. Tapi namanya Rahasia Tuhan, tidak ada yang tahu.? Sahut dokter padaku.

??????????? ?Jadi, bisakah saya menemuinya sekarang, dok?? tanyaku dengan gugup.

??????????? Dokter paruh baya itu menggeleng.

??????????? ?Untuk sementara, pasien harus istirahat setelah koma yang dilewatinya. Setelah beberapa minggu, dia baru boleh dibesuk.

??????????? Hanya Vas bunga Imitasi, secangkir kopi, dan jam yang terus menatapku semu. Menjadi tamu untuk mendengar keluh. Ini sudah hampir seminggu, dan aku yakin, dia pasti akan siuman. Dari luar jendela, hanya tubuh kaku itu yang kulihat. Dia masih terbaring, kelopak matanya belum mau menyambutku.

??????????? Ketika kumasuki kamar ini, pasti dikenalnya kembali aku. Suara langkahku, nafasku dan ujung-ujung jari yang dulu menyentuhnya1. Bahkan di ambang kematiannya, aku yakin dia masih ingat. Yang kutahu, dia selalu menghargai orang lain, meski semua orang membuangnya.

??????????? ?Bangunlah..? sahutku. Bibir dan mataku tidak sinkron menahan kesedihan.

??????????? Aku yakin, kau mendengarku dari sana.

?

??????????? Kalau aku terbaring sakit seperti ini, suka kubayangkan ada selembar daun tua kena angin dan lepas dari tangkainya. Melayang ke sana ke mari tanpa tenaga2. Tapi, dia adalah daun yang penuh semangat. Harapan berkerlip seterang kunang-kunang di matanya, dan kepalanya, adalah gudang mimpi semesta. Aku adalah pohon yang selalu melihatnya diterjang badai. Tapi dia tetap ceria tanpa derita di wajahnya.

??????????? Tapi kali ini berbeda, aku melihat daun itu patah, lemah disesap tanah. aku tidak tahu, apakah daun ini akan semangat kembali jika kuceritakan kejujuran pahit ini padanya. Kau tahu, yang bisa dilakukan hanya menunggu. Menunggu takdir tersenyum manis padanya untuk membuka matanya kembali. Mungkin, aku akan kembali pulang dan menjenguknya lagi. Bersama itu, sebuah pukulan hangat menyambut pipikku.

??????????? ?Kau Keterlaluan!!? bentak seorang laki-laki dengan perban dikepalanya.

??????????? ?Teganya kau, baru datang saat dia sudah sekarat!!?

??????????? ?Ramdan!?? sahutku.

??????????? ?apa kau tidak tahu, sudah hampir seharian dia menunggumu!! Tapi kau tidak juga datang. Kau tinggalkan dimana manusiamu sekarang!!? kata-katanya mengejutkan seluruh rumah sakit.

??????????? Semuanya kelu, mulutku layu, airmata jatuh satu-satu. Semua yang dia katakan benar, aku bukan Manusia lagi. Mungkin dulunya, aku setan dengan identitas manusia. Yang turun untuk mengacaukan orang-orang. Dan korban pertama, adalah orang yang paling peduli padaku. Ramdan menarik tanganku, seperti penjarah yang membawa harta rampasan. Dia membawaku ke ruang lainnya. Disana, kulihat Riki masih meringis, mengoleskan obat merah pada luka yang untungnya tidak mengkudis.

??????????? ?Kau lihat, tidak hanya aku atau dia. Riki juga kena imbasnya,? kata Ramdan padaku.

??????????? ?Aku minta maaf, ini memang kesalahanku,? gumamku.

??????????? ?Kau ini?? Ramdan tidak tahan melayangkan tinju berikutnya padaku. Tapi, tinju itu ditahan oleh perkataan Riki.

??????????? ?Jika kau ingin minta maaf pada kami, minta maaflah pada Gasal,? sahutnya.

??????????? ?Tapi, jangankan bangun, dia saja belum membuka matanya,? sahutku.

??????????? ?Nanti, setelah dia sadar. Saat kami bisa melihat senyum tulusnya lagi, kami terima permintaan maafmu.?

??????????? Aku tidak suka pandangan itu, berapi-api dan penuh dendam. Aku terlanjur tenggelam melihat dendam berkilat di mata itu. Takut yang terlalu kalut, tentang apa yang membuatku terlambat ke acara itu, apa yang membuatku harus lari menembus hujan dan reruntuhan restoran. Serta apa yang membuatku takut melihat senyummu yang merekah diantara genangan darah.

??????????? Aku harap kau tidak memiliki ketakutan itu.

Atau, kau mungkin sudah memilikinya sejak awal?

?

***

??????????? Langit merah Saga, diselimuti awan-awan gelap.

??????????? Mei, bulan kita itu, belum ditinggalkan penghujan3. Bahkan genangannya masih teringat jelas di kepala. Seperti saat itu, genangan sejuk hujan yang bercampur darahnya. Amis yang masih tercium manis di ruang jari.

??????????? Saat itu Hujan di pengakhir Mei.

??????????? ?Apa Kabarmu?? sahut seseorang dari speaker.

??????????? ?aku baik-baik saja,? jawabku singkat.

??????????? ?Kenapa harus sesingkat itu? Sudah tiga tahun kita tidak bertemu,?

??????????? ?Memangnya ada apa?? pertanyaanku terkesan sedikit dingin. Dari sudut itu, aku hanya mendengar desah nafasnya sesaat, dan sedikit gumaman. Seperti hal penting yang sangat ingin dia bicarakan.

??????????? ?Begini, sebentar lagi hari ulang tahunku. Dan aku ingin kau datang, jadi??

??????????? ?Aku tidak bisa, Gasal? kata itu keluar begitu saja, bahkan sebelum dia selesai berbicara. Setelah itu, hanya desah nafasnya yang makin pelan yang bisa kudengar.

??????????? ?Yakin tidak bisa datang??

??????????? ?Iya, ada sidang yang harus kudatangi?

??????????? Kau tahu, setiap aku ingat perbincangan itu, ada badai yang bergejolak kuat di kepalaku. Seperti deru langit yang marah, hanya bisa di tahan dengan maaf.

?

??????????? Sudah berminggu-minggu dia tetap menghubungi dengan perkara yang sama. Aku memutuskan menolak semua panggilan dan Chat yang dia kirimkan. Aku memandangnya hanya mencari perhatian dan sekedar basa-basi belaka. Toh, dia juga dapat teman di kampusnya sendiri.

??????????? Namun, semua pertahananku luluh pada waktu itu.

??????????? Hujan Bulan Juni4.

??????????? Bersama hujan yang turun makin deras, aku memompa motor matic menembus kemacetan yang tak tahu kapan ujungnya. Kebanyakan pengendara motor lebih memilih berteduh di tempat terdekat, bercerita dengan sesama sampai reda. Sementara pengendara mobil, terjebak dalam kemacetan. Beribu umpatan dan cacian keluar dari mulut mereka. Mungkin, jika aku kumpulkan, bisa kubuat satu buah kamus berisi Cacian dan artinya. Terbesit untuk membuka androidku, penasaran dengan SMS yang selalu dia kirim. Dan kulihat, pesan yang baru saja dia kirim.

???????????

??????????? ?Aku tahu, kau pasti akan datang nanti. aku sekarang bersama Riki, Ramdan dan yang lain. Kami ada di Restoran Delima menunggumu datang. Kalau kau sampai, aku pasti bisa melihatmu dari sudut jendela. Dan aku, tidak akan memotong kue sampai kau ada di tengah kami. Jangan lupa.?

??????????? Begitu isinya,

??????????? Suara bising Truk pasir mengganggu telingaku, truk yang ngebut melewati mobil-mobil dan hampir menabrakku. Aduh, coba saja ada polisi waktu hujan begini, pasti surat tilang yang manis sudah mencium dompetnya. Terpikir sejenak untuk datang ke acaranya. Tapi, waktu yang demikian petang membuatku semakin bimbang.

??????????? Lalu, samar-samar terdengar hantaman keras. Asap mengepul pekat diantara hujan lebat, orang-orang berhamburan ke sumber suara. Tiba-tiba, tubuhku sedikit tumbang. Sesuatu yang buruk sepertinya sudah terjadi.

?

??????????? Kau tahu, Hujan bukan lagi pengantar kenangan indah bagi orang-orang, tapi juga kenangan menyakitkan. Iya, hal menyakitkan. Aku masih ingat wajah itu, lebih putih dari bawang putih, penuh tanah dan darah. Luka robek di dadanya seperti mimpi buruk anak-anak, dan senyumnya, menambah pilu di kepala. Rasanya, Neraka sudah menjemputku dari senyumannya. Kali itulah, rinai hujan bukan lagi suci untukku. Karena telah tercemar darah dan penyesalan.

??????????? Apa kenangan bisa begitu saja meninggalkan tubuhku?5 jika itu kenangan baik, jangan sampai. Kalau justru kenangan buruk, semoga saja. Tapi, aku tak mau membuang mentah mentah kenangan itu. Demi sepatah maaf dari bibir, kejujuran pahit harus diikrarkan.

??????????? ?Maaf, tapi pasien bernama Gasal sudah diizinkan pulang ke rumahnya.? Kata suster saat aku tanya kondisinya.

??????????? Aku kaget, kenapa tiba-tiba dia pulang tanpa ada pemberitahuan. Dalam kebingungan, tanpa sengaja aku menabrak seorang perempuan paruh baya yang bergegas keluar dari rumah sakit.

??????????? ?Anda ibunya Gasal, bukan?? tanyaku.

??????????? ?Adik pasti Sigit, temannya,? sahutnya.

?

??????????? Dari ibunya, aku mendengar banyak apa saja yang Gasal ceritakan padanya. Dari cerita bahwa dia melihat asap kenangan dari lilin ulang tahunnya, saat dia tersesat di stasiun kereta berisi arwah orang-orang mati mengenaskan, sampai dia bertemu anak bernama Nina yang terpisah dari ibunya ke Surga.

??????????? ?Ibu pikir itu hanya mimpinya selama koma, tapi dia selalu ngotot jika itu memang terjadi,? ceritanya.

??????????? ?Jadi, dokter sudah mengizinkannya pulang sekarang?? tanyaku.

??????????? ?Adik bisa menemuinya besok. Dia disarankan untuk istirahat saja dirumah??

?

??????????? Harapan sepertinya tersenyum lagi padaku.

?

***

?

??????????? Kemudian aku sampai pada situasi yang Absurd. Dia selalu tidak ada setiap aku datang kerumahnya, bahkan saat malam. Yang kutahu, dia tidak suka keluar malam. Tapi sekarang dia selalu menghilang waktu malam. Seperti Vampir yang lapar memburu mangsa. Tapi, gigi Gasal tidak setajam itu.

??????????? ?Tidak biasanya. Dia kemarin membeli sebuah biola dan berlatih tiap hari,? kata ibunya.

??????????? ?Biola?? aku juga terheran, setahuku Gasal tidak bisa memainkan alat musik.

??????????? ?Dia juga bilang sama ibu kalau setiap malam dia mau les biola di rumah temannya. Yang ibu tahu, dia pernah bilang tentang Pentas Seni di kampusnya. Dan dia mau ikut perlombaan biola disana. Mungkin, itu kenapa dia mulai main biola sekarang.?

??????????? Aku mulai mengorek informasi tentang Pentas Seni di kampusnya itu. Acara itu, akan dihadiri oleh Bupati dan Budayawan Nasional. Dan juga, banyak penampilan budaya dan sastra daerah yang meramaikan acara. Namun, tentu saja, perlombaan yang Gasal ikuti adalah prioritas utamaku. Katanya, perlombaan itu akan diadakan di akhir acara sebagai penutup. Dan tentu saja dinilai oleh bapak Bupati sendiri.

??????????? Acara serius yang tentu saja membuatnya menghilang seperti ini.

??????????? Memang Absurd, mencarinya saat dia tidak ada di rumah sepanjang hari. Aku seperti orang bodoh. Belum lagi jika aku bertanya pada Ramdan dan Riki, salam hangat berupa pukulan pasti tertanam manis di wajahku. Mereka tidak akan menemuiku sebelum aku memegang maaf dari Gasal, yaitu senyumannya.

??????????? ?Ada apa kau termenung seperti pungguk?? Rarindra mengacaukan agenda minum kopiku yang datar.

??????????? ?Tidak, hanya masalah kecil,? sahutku.

??????????? ?Sigit?sigit?? gumaman perempuan berkacamata itu mengusikku.

??????????? ?aku sudah kenal benar kau sejak semester awal. Kalau ada masalah kecil, tidak mungkin kau diam termenung seperti itu. Kau itu kamus berjalan, masalah sekecil semut pun selesai denganmu.?

??????????? Memang, Rarindra adalah perempuan yang gampang bergaul dengan kaum adam sepertiku. Sikap Tomboy nya adalah modal kuat baginya, dia seperti ratu yang bisa juga bertindak sebagai raja. Mungkin, dia bisa membantuku dalam masalah ini, kau tahu.

??????????? ?Hanya masalah waktu, Sigit,? dia membenarkan kacamatanya.

??????????? ?Waktu??

??????????? ?Iya, Waktu itu pintar. Dia bisa merubah orang, cara berpikir, perilaku, bahkan kematian. Aku yakin, jawabanmu ada bersama waktu.?

??????????? Angin berhembus melewati kami, menyusuri tiap meja, dan gelas kopi. Kali ini, angin kelegaan sedikit menyejukkan pikiranku. Jika memang jawabannya adalah waktu, yang kulakukan cukup menunggu, sampai acara itu dimulai. Mungkin saja, saat itu aku bisa bertemu Gasal, memohon maaf padanya, dan menepati janjiku pada Ramdan dan Riki.

??????????? Setelah membayar minumanku, aku berlalu. Angin sejuk langsung mengecup pipiku, mengisyaratkan keberhasilanku hari ini. Kuhalau risau dengan bau hujan yang datang bersama angin semilir.

??????????? Sepertinya, hujan itu akan datang lagi.

?

***

??????????? Dengan gagap dan gugup yang gempita, akhirnya Pentas Seni itu tiba juga. Tidak seperti dugaanku, acara itu begitu meriah. Kemeriahan aneka Stand-stand seni hingga kegiatan pembacaan puisi meramaikan acara ini. Pembukaan yang dilakukan langsung oleh Bupati sendiri pun menambah ramai acara ini. Stand yang disediakan tidak pernah sepi dari pembeli, seperti pasar malam. Ramai juga Mahasiswa yang berebut berfoto ria di setapak yang diterangi lampu kerlip warna-warni.

??????????? Hingga akhirnya, Lomba itu dimulai. Dan aku melihatnya.

??????????? Dia berdiri di atas panggung, penampilannya berubah 180 derajat dari yang kutahu. Kunang-kunang jauh lebih banyak di matanya, membentuk bola api berpijar, biola cokelat mengkilap dia pegang erat di tangannya. Dan baru kali ini sebuah syal melilit rapi di lehernya.

??????????? Kemudian, semua hening. Bahkan, penjaga Stand pun berhenti dari kegiatan rumpi meraka. Dia memulai permainannya. Barisan Sonata mengalun keluar dari senar biolanya. Dia hanya menutup mata, menyesuaikan gesekan dengan senar yang dia tekan. Kau tahu, saat bermain biola, tidak perlu mengeluarkan tenaga yang besar. Cukup resapi lagu, dan gesek senar dengan sepenuh hati. Membuatku ingat pada pelajaran memanah, dan pelajaran berlari6.

?

?

Lagu yang dia mainkan begitu lembut, tapi punya tempo tertentu di beberapa bagiannya. Seperti Greensleeves yang diciptakan W.A. Mozart. Lagu yang menceritakan tentang keindahan sesuatu, atau seseorang. Jari-jarinya menari, seakan biola itu adalah lantai dansa yang selalu dia pakai setiap malam. Dari satu baris ke baris yang lain, lalu melompat ke baris sebelumnya. Seperti caranya berbicara, dia lebih mementingkan rasa dari yang orang lain rasakan sebelum mementingkan dirinya sendiri. Seperti itulah Gasal.

Sampai aku merasa terhipnotis, jatuh dalam pelukan sonata itu. Aku terbius untuk bertepuk tangan seriuh mungkin, bersama deruman tangan lain yang sama sama di adu sesaat permainannya selesai. Untunglah, aku masih sempat memotretnya dengan kamera yang menggantung manis di leherku.

Dia turun dari panggung, melangkah keluar, tidak bergabung dengan peserta lain. Nuraniku mengisyaratkan untuk mengejarnya. Dan menemukannya, berdiri ditengah sepasang pohon yang lembut disapu angin.

?Akhirnya, kita bertemu,? sahutku.

Dia hanya menggumam.

?Kemana saja kau selama ini? Sejak keluar rumah sakit, kau selalu menghilang. Bahkan, malam dan bayangan menyembunyikan dirimu dari mataku.?

?Aku...? dia mulai bersuara.

?Aku tidak menghilang, aku hanya menangkap melodi yang keluar dari kepala. Lalu menenunnya jadi simfoni sempurna. Dan aku ingin, kau yang pertama mendengarnya,? jawab Gasal.

?Aku sudah mendengarnya. Nada itu sudah menghipnotisku,? sahutku.

?Itu bukan Simfoni yang kuinginkan,? gumamnya. Dan berbalik, syalnya menari lembut bersama angin, bersama aku melihat wajahnya. Senyum yang pernah membuatku gentar.

?Maksudmu??

?Itu hanya bagian kecil dari simfoni itu. Bahkan deru langit, gemuruh ombak akan ikut terhipnotis jika mendengarnya. Tapi, melodi itu sudah hilang.? Dia berbalik lagi, menatap angin.

?

Kau tahu, jika kau tanya bumi, dia akan bilang bahwa lututku pernah berciuman dengannya. Saat aku tidak tahu lagi, berapa banyak telinga yang harus kupasang untuk mendengar perkataannya dari kejujuran ini.

?Maafkan aku?? kataku lirih.

?Apa maksudmu?? tanyanya.

?Kalau saja aku datang ke acaramu lebih cepat, dan kita selesai sebelum petang, kau pasti tidak harus mengalami koma seperti kemarin. Aku salah, aku mementingkan urusan pribadi daripada permohonanmu sendiri.? Kali ini, pikiran dan air mataku menangis.

?Apa yang harus disalahkan?? katanya.

Aku terdiam.

?Api membakar kayu menjadi arang, angin dingin mengubah air menjadi es, waktu mengubah manusia menjadi mayat. Apa yang harus aku salahkan? siapa??

?Aku tidak mengerti perkataanmu!? aku menyanggahnya.

Kali ini, butir-butir basah terlihat jelas di kedua matanya. Sama sembab seperti nuraniku.

?Kalau kau sudah dengar cerita dari ibuku, aku harap, aku tidak jadi orang gila di hidupmu. Aku lebih baik menyalahkan keegoisan dalam diri dari pada menyalahkan apa yang tidak dilakukan orang lain,? jawabnya.

Amarah, kesedihan dan kebingungan bercampur dalam pikiranku. Kucoba memejam mata, menghitung sampai sepuluh, bahkan seratus untuk meredamnya dalam-dalam. Aku sudah cukup melihat hal menakutkan seperti kemarin, aku sudah muak melihat kesalahan yang kubuat karena ketidakpedulianku.

Yang kuinginkan hanya kata ?Aku memaafkanmu.?

Aku rasakan deru angin bergerak ke arahku, kain wol yang lembut terasa menyentuh leherku, dan suaramu, aku mendengarnya lirih.

?Akan kuberitahu pada Ramdan dan Riki kalau kau sudah menemuiku,? katamu.

?Aku senang, akhirnya bisa bertemu denganmu, Sigit.? Dan suaranya mulai memudar.

Benarkah kau sudah memaafkanku, Gasal?

?

***

??????????? Rarindra benar, ini hanya masalah waktu.

??????????? Melodi dan perkataan itu masih menempel kuat di kepalaku, menggantikan memori buruk yang perlahan lepas bersama bayang dan senyumnya.

??????????? Apa dia sudah memaafkanku?

??????????? Iya, ini hanya masalah waktu.

?

***

?

?

Ket:

1Bait pertama dalam puisi Sapardi Djoko Darmono: Kamar

2Bait terakhir dalam puisi Sapardi Djoko Darmono: Terbaring

3Bait pertama dalam puisi Sapardi Djoko Darmono: Ayat-Ayat Api

4Judul Novel Sapardi Djoko Darmono

5Salah satu bait puisi Sapardi Djoko Darmono: Ada berita apa hari ini, Den Sastro?

6Buku kumpulan puisi Didik Siswanto

  • view 143