Gasal ke Bangsal

Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara)
Karya Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara) Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Februari 2016
Gasal

Gasal


"Apa arti sebuah ikatan, jika mereka hanya kenangan yang berlalu bersama angin?" kumpulan cerita tentang perjalanan mencari arti sebuah ikatan. antara Manusia, Tuhan, kematian. Selamat Membaca

Kategori Acak

789 Hak Cipta Terlindungi
Gasal ke Bangsal

Gasal ke Bangsal

?

??????????? Pusing,

Hanya pusing yang bisa kurasakan menjalar liar di kepalaku ini. Tidak banyak yang kuingat, selain suara sirine, lampu yang sangat terang, dan pelukan seseorang.

??????????? Selain itu, hilang.

??????????? Ya Raman, aku terbangun entah di negeri apa, Atau tempat apa. kondisinya suram, bangunan tidak beraturan, bahkan lampu-lampu jalannya hanya sesaat saja menyala. Terlalu horror untukku yang dulunya suka dengan film horror.

??????????? ?Ugh? dimana ini?? kataku merintih sambil melihat ke arah jam di pergelangan tanganku.

??????????? Jarumnya berhenti!?

??????????? Aneh, bagaimana bisa jam yang baru saja jadi hadiah ulang tahunku ini cepat rusak?

?

??????????? Ulang Tahun?

Ah iya, aku ingat. Waktu itu, aku sedang ada di pesta ulang tahunku bersama Ramdan dan Riki. Ada seseorang yang kutunggu, tapi siapa? Aku tidak bisa ingat semuanya. Sepertinya mimpi sudah membawa lari ingatanku itu. Pandanganku teralih ke gedung di depanku. Gedung tinggi bercat Putih Marble bergaya Belanda dan tentu saja dengan sarang laba-laba di setiap sudutnya. Lampu-lampunya juga sama seperti lampu di jalan. Sebentar saja menyala.

??????????? ?Sepertinya, aku pernah melihat gedung ini. Tapi, dimana??

??????????? Aura sunyi terasa kuat dari gedung itu, angin malam keluar bebas dari setiap sudut ruangan. Tapi, tidak sama sekali aku rasakan dingin menggigit daging. Dari lorong loket, ruang kendali, sampai ruang tunggu penumpang. Sepi sekali.

??????????? Pandanganku teralih pada seorang pria yang asyik membaca Koran dan duduk sendirian di salah satu kursi tunggu. Pria kulit putih dengan pakaian ala Mandor Belanda. Dia tidak terkejut saat aku menghampirinya, justru tersenyum ramah. Mengajakku duduk disampingnya.

??????????? ?Hello, you?re Indonesian?? bahasa inggrisnya sangat fasih. maklum, dia kan Bule.

??????????? Aku mengangguk pelan.

??????????? ?Oh, Maaf. Saya lupa untuk berbicara Indonesian. Agar lebih akrab.? Sahutnya dengan sedikit tertawa.

?

??????????? Aku melihat gaya pakaiannya, ala Belanda zaman penjajahan dulu. Setidaknya itu yang kuingat saat pelajaran Sejarah. Tapi, Ya Raman. Pandanganku sedikit tajam pada bercak merah dan lubang besar di baju sebelah kanannya.

??????????? Itu Darah.

??????????? ?Maaf, Tuan. Itu, baju Tuan kenapa??

??????????? Dia hanya menggelang dengan senyum kecil.

??????????? ?Oh, Don?t Worry. Tidak terasa sakit, kamu juga punya, kan??

??????????? ?Maksud Anda??

??????????? Dia menunjuk ke arah dada kananku. Dan benar saja, ada luka menganga merah segar di kemejaku. Bagaimana aku tidak merasakannya, seharusnya pasti rasanya sakit luar biasa.

??????????? ?Bagaimana aku bisa tidak tahu, Tuan?? aku kebigungan

??????????? ?You itu sudah mati. Jadi, tidak bisa merasakan sakit lagi.? Jawabnya.

??????????? Kalau saja jantungku masih ada, aku pasti bisa mendengar degup kencangnya setelah dia mengatakan bahwa aku sudah mati. Pantas saja, keadaannya sangat sepi, lebih aneh dari biasanya. Dan bule itu, jauh lebih pucat dari orang asing yang selalu kutemui.

??????????? ?It?s Fine. Pengalaman pertama mati memang membingungkan.? katanya.

?

***

??????????? Namanya Rubert, itu yang dia kenalkan padaku. Usianya sekitar 45 Tahun menurut penglihatanku, dari panjangnya kumis yang selalu dia ulir. Dia bercerita padaku bahwa dia adalah pemimpin sebuah kota kecil yang disegani oleh kaum pribumi pada Tahun 1943. Bisa juga kulihat dari Koran yang dibacanya, itu keluaran 1943.

??????????? ?Kota yang dulu saya pimpin sangat makmur, dan para pribumi tidak merasa terancam dengan keberadaan kami.? Katanya dengan masih terasa aksen Belanda nya.

??????????? ?Lalu, bagaimana Tuan bisa meninggal dengan luka seperti itu??

??????????? Dia terdiam.

??????????? ?Saya dan keluarga terlambat mendapat kabar kalau pasukan Belanda sudah meninggalkan Indonesia karena didesak Jepang. Akibatnya, tentara Jepang berhasil menawan kami. Dan kami, tewas dibantai secara langsung oleh mereka.?

??????????? Aku bisa merasakan, angin di sekitarku semakin dingin. Mengantarkan kesedihan Rubert ke seluruh Atmosfer di ruang Tunggu.

??????????? Dia Terisak, menahan tangis yang tak tampak.

??????????? ?Tapi syukurlah, Semua warga sangat menghargai kami. Sehingga kami dikubur secara layak agar kami tidak menjadi arwah penasaran.?

??????????? ?Lalu, Keluarga Tuan. Dimana sekarang??

??????????? Dia berdiri, menatap tajam seperti elang ke cakrawala depan.

??????????? ?Untunglah, aku masih bisa berjumpa istriku lagi di Stasiun ini.? Dia melambaikan tangan pada seorang wanita.

??????????? Aku melihatnya, Noni-noni Belanda bergaun putih. Dengan beberapa corak merah, kepalanya tertutup payung, anggun sekali. Dia berbalik ke arah kami, lalu tersenyum.

??????????? Dia menampung kepala berdarahnya yang tersenyum.

?

??????????? Kau Tahu, Ya Raman.

??????????? Aku sedikit bergidik melihat kondisi Istrinya yang mengenaskan itu. Kalau bisa, aku akan muntah dihadapannya. Tapi, hantu kan tidak bisa muntah.

Dia kembali duduk, lalu mengalihkan pandangan pucatnya kepadaku.

?Lalu, My Friend. Bagaimana kau bisa mati seperti ini??

Aku terdiam cukup lama.

?Just tell me, Gasal. Walau itu kematian yang memalukan, aku tidak akan tertawa.? Katanya sambil menepuk pundakku dan tertawa lepas.

?Lalu itu, Tuan sendiri tertawa.? Kataku kusut.

Kemudian, aku memulai cerita bagaimana aku mati di hari bahagiaku sendiri. Dari aku yang melihat asap-asap ingatan, hingga bayang orang yang aku tunggu kemudian.

?Cukup menyedihkan juga, harus mati mengenaskan di hari bahagiamu sendiri.?

?Iya, begitulah Tuan.?

?Tapi, saya heran dengan You. Kenapa harus terus menunggu orang itu? Setidaknya, kau tidak akan mati jika terus menunggunya.? Rubert bertanya padaku.

?Dia sangat penting untukku. Dia yang sudah mengubahku menjadi lebih baik sekarang. Aku ingin berterima kasih padanya, dan terus mengingatnya.?

?Tapi sekarang, mungkin kau sudah dilupakan olehnya.? Seru Rubert.

?Dilupakan??

Dia menarik Cerutu kayu dan korek api dari kantongnya.

?Kau tahu, yang namanya dilupakan itu relatif. Orang mati saja gampang dilupakan, bagaimana orang hidup? Tentu saja, terima dengan lapang...?

?Dia tidak akan melupakanku!! Aku yakin itu!? emosiku sedikit naik mendengar perkataan Rubert.

?Oke?oke, aku mengerti. Calm Down, My Friend.? Katanya.

Aku paham benar maksud dia berkata seperti itu, ditinggal oleh teman-temannya sendiri kembali ke tanah air dan dibantai dengan kejam tanpa ada yang membantunya. Pasti membuat luka yang jauh lebih sakit dari luka bekas Katana di perut kanannya itu.

?

??????????? ?Aku dan istriku sedang menunggu keputusan dari atas.? Lanjut Rubert sambil menghisap cerutunya. ?apakah kami harus ke surga atau lahir kembali.?

??????????? ?Lahir kembali?? telingaku sedikit tertarik.

??????????? ?Iya, kalau aku dan istriku dapat kesempatan dari penjaga loket disana, kami dapat lahir kembali ke dunia dan bertemu lagi.? Kata Rubert sambil menunjuk loket Tiket disampingnya.

??????????? Aku melihat ke arah sana, sesosok tinggi bertudung Hitam yang menutupi tubuhnya sedang menjaga Loket itu, sibuk menata amplop-amplop usang di tangannya. Mungkin itu daftar nyawa yang akan datang berikutnya. Apa dia malaikat maut?

??????????? ?Lalu, jika Tuan tidak berhasil mendapat kesempatan itu??

??????????? ?Jika begitu..? seru Rubert. ?Aku dan istriku akan ke surga, dan tinggal selamanya disana. Atau mungkin, kami akan menemui Tuhan dan minta dilahirkan kembali.? Dia kembali tertawa.

??????????? Aku menggeleng saja mendengar tanggapan Rubert. Tuhan seperti mudah saja baginya untuk ditawar.

??????????? Aku melihat sekali lagi ke loket tiket itu. Kali ini, sosok hitam itu menatapku. Mata delimanya berkilat seperti kerlip kunang-kunang, dan tangannya melambai ke arahku. Memintaku untuk datang kesana. Dengan sedikit gugup, aku datangi loket itu.

??????????? Semakin dekat, sosok itu semakin seram di pandanganku. Aku bisa bayangkan dari tudung itu, keluar tengkorak, serangga beracun, monster, atau apalah yang bisa membuatku pingsan seketika. Seperti cerita-cerita orang tua pada anak nakal. Atmosfir di sekitarku juga bertambah dingin lebih dari saat aku duduk dengan Rubert.

??????????? Lalu, mahluk itu memberikan sepucuk amplop tua padaku. Amplop berwarna cokelat kulit dan usang ini menarik perhatianku, ditambah, tangan sosok itu mengisyaratkan padaku untuk membukanya. Aku semakin bingung, pertanyaan terus berputar di kepalaku. Perlahan, kubuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah kertas keemasan dengan satu kalimat tertera diatasnya.

???????????

??????????? ?Kembali.?

?

??????????? Aku berbalik, menemui Rubert dan menceritakan hal ini. Dan membuat rona wajahnya mulai mengembang dan senyum simpul terukir diantara bibir dan kumisnya.

??????????? ?Congratulations, My Friend!! Kau punya kesempatan itu. Tuhan telah memperbolehkanmu untuk lahir kembali!!? serunya dan menjabat tanganku.

??????????? ?Aku!? Terlahir kembali??

??????????? ?Iya, pasti karena kau yakin untuk tetap hidup, membuat Tuhan luluh padamu dan mengizinkanmu ke Dunia lagi.?

?

??????????? Ya Raman,

??????????? Antara senang bercampur bingung, aku menyambut bahagia berita itu. Aku akan bisa bertemu teman-temanku lagi, dan dia tentunya.

??????????? ?Lalu, Tuan. Bagaimana aku bisa ke duniaku lagi?? tanyaku.

??????????? ?Mudah saja.? Katanya lalu mengarahkanku pada lorong yang lumayan gelap dibelakangnya.

??????????? ?Kau perlu naik kereta untuk kembali ke duniamu. Untuk sampai ke pemberhentian kereta, kau cukup lurus melewati Bangsal disana.?

??????????? ?Seperti itu saja, Tuan??

??????????? ?Right, dan, aku yakin kau akan temukan hal menarik selama kau melewati bangsal itu.?

??????????? ?Hal menarik seperti apa, Tuan?? aku sedikit bingung dengan perkataannya.

??????????? ?Nanti kau pasti akan tahu. Cepat, sebelum kau ketinggalan Kereta.? Rubert mendorongku menuju lorong itu.

??????????? ?Selamat atas Kelahiran kembalimu. Senang bisa mengenalmu, Gasal!!? Serunya.

??????????? Aku balas dengan senyum dan lambaian Tangan.

?

***

??????????? Angin dingin berhembus menembus tubuhku. Kata Rubert, jalur pemberhentian kereta untuk ke dunia ada di seberang bangsal ini. Lembab dan gelap, itu pandangan pertamaku tentang bangsal ini. Jendela kayu jati yang terbuka lebar sehingga bebas dilalui angin, dan cat Putih Marble yang tentu saja selaras dengan pilar dan sarang laba-laba yang memenuhi setiap sudut. Sambil memegang erat tiket itu, aku susuri bangsal gelap itu.

??????????? Suara rintihan mengelilingi kepalaku.

?

??????????? Asalnya dari setiap sudut bangsal. Mataku mengusik cakrawala, memeriksa asal suara itu. Suara dari arwah-arwah yang menghuni bangsal. Mereka juga seperti Rubert, menunggu keputusan Tuhan. Ke Surga, Neraka, atau lahir kembali ke dunia. Dengan masing-masing bentuk memilukan. Ada yang terpenggal kepalanya seperti istri Rubert, tak jarang juga kulihat ibu-ibu yang menyususi anaknya yang masih lengket dengan tali pusar di rahimnya, ada juga yang sudah hancur sebagian tubuhnya, darah berceceran dan mereka hanya bisa merangkak seperti ulat di dedaunan. Aku yakin, bahkan orang pintar sekalipun bisa pingsan jika melihat fenomena memilukan ini.

??????????? ?Huhuhu?huhuhu? telingaku terganggu isakan anak kecil dihadapanku.

??????????? ?Kamu kenapa, dik?? sahutku.

?

??????????? Anak itu berbalik, menunjukkan air matanya. Dan kepalanya yang hancur sebagian, menampakkan otaknya yang melambai keluar. Aku bergidik, tapi berusaha menahan takut yang meneror kepalaku.

??????????? ?Kakak takut dengan saya?? anak itu tetap menangis. Sambil memegang erat boneka beruang di pelukannya.

??????????? Aku menggeleng pelan, menunjukkan senyum terbaikku.

??????????? ?Tidak, untuk apa kakak takut. Kita kan juga sama.? Aku menunjuk luka di dada untuk menghiburnya.

??????????? ?Nama adik siapa??

??????????? ?Nina?? katanya pelan.

???????????

??????????? Aku mengajak Nina duduk di kursi depan bangsal. Sebenarnya, dia gadis yang lucu. Jika saja, kepalanya utuh. Dia masih menahan tangis dan memeluk bonekanya..

??????????? ?Sudah, jangan menangis. Ceritakan sama kakak. Kenapa kau menangis? Tanyaku.

??????????? ?Nina? terpisah dari ibu.?

??????????? ?Terpisah??

??????????? ?Iya. Tadinya, Nina dan ibu mau ke Surga sama-sama. Tapi, Nina terpisah sama ibu di bangsal ini. Kata ibu yang menggendong anak itu, ibu Nina sudah duluan naik kereta. Nina takut, gak bisa ketemu ibu lagi.? Dia terisak.

??????????? Selama isaknya, dia cerita bahwa dia dan ibunya dulu sangat bahagia. Tapi, mereka mati mengenaskan karena Ayahnya yang ingin bercerai dari ibunya dan meminta Hak asuh Nina. Kepala Nina hancur karena hantaman palu ayahnya, sedang ibunya tewas karena luka bacokan demi melindungi Nina. Sungguh mengenaskan, Ya Raman.

???????????

??????????? Kau tahu, Ya Raman.

??????????? Aku baru paham, bahkan orang mati sekalipun bisa saja menangis. Karena mempertanyakan salahnya, seperti Rubert dan Istrinya. Ataupun takut untuk kehilangan, seperti kasus Nina ini. Tidak sepertiku, yang mati hanya karena hal konyol.

??????????? ?Ayo, ikut kakak.? Kataku sambil menggenggam tangan Nina.

??????????? ?Kemana, kak??

??????????? Aku hanya diam, membawanya keluar bangsal menuju loket Tiket itu lagi. Rubert dan istrinya pun heran dengan apa yang kulakukan. Kali ini, aku yang menatap duluan pengawas menyeramkan itu.

??????????? ?Maaf, saya ingin minta Tiket ke Surga untuk anak ini.? Kataku.

??????????? Dia terdiam.

??????????? ?Kak, Nina takut.? Kata gadis kecil itu lirih.

??????????? Aku hanya tersenyum kecil padanya, dan menatap kembali pengawas itu sambil merogoh kantong celanaku.

??????????? ?Tolong satu tiket, Tuan! Saya ada uang, berapa saja akan saya bayar.?

??????????? Kali ini, sosok itu mengayunkan tangannya tanda tak setuju. Lalu memberikan sepucuk amplop tua pada Nina.

??????????? ?Bukalah? kataku pelan padanya.

??????????? Dia lalu membukanya, mengeluarkan isi amplop itu. Sebuah kartu berwarna putih dengan sayap emas terukir di atasnya. Itu adalah tiket ke Surga untuk Nina.

??????????? ?Kakak, Nina bisa ke Surga!! Terima kasih, kak.? senyum merekah di wajahnya. Dia memeluk pinggangku, tak peduli darahnya bercecer di celanaku.

??????????? Aku tersenyum simpul padanya. Tapi, sosok itu kembali memberiku amplop. Aku membukanya, sebuah kartu abu-abu, dengan gambar Not Balok terukir padanya. Aku tak mengerti maksudnya, Ya Raman.

??????????? ?Ayo, kita lekas ke Pemberhentian kereta.? Kataku pada Nina.

??????????? Nina mengangguk, mengikuti laju lariku memasuki bangsal itu lagi. Aku juga melihat Rubert dan istrinya melambai kembali pada kami. Kali ini, kami berkata ?Sampai jumpa? dan tersenyum riang.

?

?

***

?

??????????? Ya Raman,

?

??????????? Untuk kali ini, aku tidak perlu takut melewati bangsal itu lagi. Bukan karena aku bersama Nina, tapi, aku mendapat senyum hangat dari arwah-arwah disana. Mereka melambaikan tangan dan tersenyum pada kami. Kami juga turut membalas senyum mereka. Sepertinya, kebaikanku untuk membantu Nina telah menjadi Atmosfir positif di bangsal itu.

??????????? Sepasang Rel kereta sudah menunggu kami di luar bangsal. Rel kereta tua namun masih kokoh, auranya juga tidak sedingin dalam stasiun. Itu karena lampunya yang bersinar terang dan jam besar ditengahnya masih berjalan. Jadi, aku tahu jam berapa sekarang tanpa melihat arlojiku yang rusak.

??????????? Sekarang pukul 24.24.

??????????? ?Kakak, kakak tidak ikut ke Surga bareng Nina?? katanya. ?Biar nanti Nina kenalkan kakak ke Ibu.?

??????????? Aku terdiam, bingung kata apa yang harus kuukir untuk menjawab pertanyaannya.

??????????? ?Nina,? kataku. ?Kakak belum bisa ke Surga. Di rumah kakak, masih ada yang membutuhkan kakak. Dan, ada seseorang yang ingin kakak temui.?

??????????? ?siapa kak?? mata pucatnya berbinar.

??????????? ?Rahasia.? Kataku menjentik pelan anak itu.

?

??????????? Kemudian, sepasang kereta menyambut kami. Kereta yang berjalan berlawanan arah. Dari bentuknya, seperti kereta buatan tahun 1800-an. Dan salah satunya punya lambang sayap, seperti Tiket Nina, berarti itu ke Surga. Aku mengantarnya ke kereta itu, tak lupa memeluknya sebentar. Dan giliranku untuk naik kereta sebelahnya, kereta yang sunyi, tidak ada siapa-siapa. Tapi untunglah, aku duduk sebelah jendela berhadapan dengan Nina. Jadi kami bisa saling melambaikan tangan.

??????????? ?Sampai jumpa, kak. Sampai ketemu di Surga!!? seru Nina.

??????????? ?Sampaikan salam kakak untuk ibumu, ya. Jangan tersesat lagi disana.? Balasku.

?

??????????? Bunyi nyaring peluit kereta menelan sorakan kami, hingga kereta bergerak meninggalkan stasiun, Rubert dan istrinya, para penghuni bangsal, penunggu loket karcis yang menyeramkan, dan tentu saja, Nina. Yang akan bertemu ibunya di Surga.

?

??????????? Ya Raman

??????????? Perjalanan dalam kereta lumayan membosankan. Bahkan surat kabar tahun 2006 yang kubaca belum bisa menghiburku. Di luar jendela, hanya gelap yang kulihat. Sedang dalam kereta, tidak ada siapa-siapa. Lama-lama, kepalaku mengantuk, bukan hanya suntuk. Suara kereta seperti lagu tidur indah untukku. Dan luka di dadaku, mulai mengecil. Dengan ingatan yang kabur tadi, perlahan kembali. Mataku sedikit terpejam menahan kantuk karena Ninabobo kereta.

?

??????????? Yang kutahu, suara kereta mengajakku tidur.

??????????? Kemudian cahaya menelanku.

?

***

  • view 171