Lilin Terakhir Gasal

Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara)
Karya Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara) Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Februari 2016
Gasal

Gasal


"Apa arti sebuah ikatan, jika mereka hanya kenangan yang berlalu bersama angin?" kumpulan cerita tentang perjalanan mencari arti sebuah ikatan. antara Manusia, Tuhan, kematian. Selamat Membaca

Kategori Acak

742 Hak Cipta Terlindungi
Lilin Terakhir Gasal

Lilin Terakhir Gasal

?

Happy Birthday to you?

Happy Birthday to you?

Happy Birthday Happy Birthday

Happy Birthday to you?

?

??????????? Kau tahu, Ya Raman.

??????????? Biasanya orang akan bahagia pada hari ulang tahunnya, berkumpul dengan keluarga dan sahabat. Menghabiskan hari bernyanyi ria, menyantap kue setinggi menara. Atau mungkin, melemparkan tepung dan telur ke orang yang berulang tahun. Dan menceburkannya ke kali terdekat. Sangat kekanakan sekali dan aku merindukannya, Ya Raman.

??????????? Tapi, sekarang kerinduan ini lebih dari sekedar aku yang rindu ceburan air kali. Ya bukan karena cengkerama teman-teman lamaku yang begitu berisik atau kue serta bertumpuk hadiah yang duduk manis di sebelahku untuk dibuka. Tapi, itu masalah lain.

??????????? ?Cerialah, Gasal! Ini hari istimewamu!? Riki menepuk pundakku.

??????????? Aku mengangguk pelan.

??????????? Aku tatap lilin-lilin kecil yang menari riang bersama api. Jumlahnya dua puluh satu, sepintas terbesit angka tujuh di kepalaku. Jika kubagi 21 dengan 7, Ya Raman. Hasilnya tentu saja 3, itu hasil yang absolut, seperti saat kau kali 7 dengan 3, atau kau tambahkan 7 itu 3 kali. Hasilnya akan tetap 21. Seperti ini, tiga tahun lalu yang membuatku sendu.

??????????? ?Kenapa kau bersedih, Gasal?? Ramdan memanggilku. ?Bukankah setiap orang selalu bahagia di hari jadinya??

??????????? ?Iya, benar juga. Tapi?? mulutku terhenti.

??????????? ?Masihkah kau pikirkan dia??

??????????? ?Dia??

??????????? ?Iya, yang kau sangat ingin dia datang. Ayolah, Gasal. Maklumi saja dia dan kesibukan yang mengikatnya. Setidaknya, dia sudah mengirimkan ucapan selamat ulang tahun padamu, kan?? katanya.

??????????? Sebentar kuraih Android dari saku bajuku. Dan kulihat pesan itu,

??????????? Masih ada.

??????????? Pesan ucapan itu, Ya Raman. Masih tersimpan rapi di Android ku. Namun, aku masih belum puas jika belum melihat wajahnya. Sudah berkali-kali aku meminta dia untuk datang, namun kesibukannya dalam hal Aktivis kerap menghantuinya. Kau tahu, kenapa aku sangat ingin bertemu dengannya?

Biar aku tiup dulu Lilinnya sejenak.

?

***

??????????? Rinai hujan turun gemerlap dari luar, aku juga mengintip barisan kendaraan yang antri menunggu giliran jalan. Sepertinya, ada pertengkaran antara supir Truk dan pengendara Mobil mewah yang tidak mau kalah untuk menunggu.

??????????? Fuuuh?

??????????? Ya Raman, Lima lilin sudah kutiup pertama kali dari kue menaraku. Lalu, kepulan asapnya membentuk bola di atas kepalaku. Dari bola itu, aku lihat sesosok anak kecil. Badannya Gempal, ingusan, seperti aku.

??????????? Dia menangis.

??????????? Sendirian.

??????????? Lalu, seorang bocah datang menghampirinya. Badannya kumal, terkena lumpur karena bermain bola.bocah itu duduk di samping anak yang menangis itu.

??????????? ?Kenapa kau menangis? Ayo bermain!? serunya.

??????????? Anak itu menggeleng, dan masih menangis. Tidak mau menampakkan wajahnya.

??????????? ?Lho, kenapa? Kan banyak yang bermain disana?

??????????? ?Tidak ada yang mau bermain denganku, mereka bilang aku ini lambat, bodoh, jelek lagi. Tidak ada yang suka denganku.?

?

??????????? Klise sekali?

??????????? Ingin segera kuhapus awan itu jauh-jauh dari kepalaku. Bagaimana bisa hal ajaib seperti bola asap mengeluarkan hal yang begitu klise seperti itu? Tapi, aku terdiam sejenak saat anak itu berdiri. Dia menatap pada anak yang menangis itu, tersenyum lebar selebar giginya yang kekuningan. Dasar anak kecil.

??????????? ?Ayo, kita bermain. Kalau mereka tidak ingin bermain denganmu, biar aku saja. Kata ibuku, siapapun yang kita temui nantinya akan jadi hal penting di masa depan kita nanti.?

??????????? Tangannya menggenggam tangan anak gembul itu. Membawanya bermain ke lapangan layang-layang. Kebetulan, anak gembul itu suka layang-layang.

??????????? ?Namaku Sigit, Senang bertemu orang sepertimu!? anak itu tersenyum lebar lagi.

??????????? Anak Gembul itu tersenyum, menghapus air matanya.

??????????? ?Aku juga senang, Namaku?? Bola asap itu hilang sebelum bocah Gembul itu menyebutkan namanya.

??????????? Hei! Kemana kelanjutannya? Kenapa cepat sekali hilangnya?

?

??????????? Hujan semakin deras saja di luar. Dan macet di jalan itu masih belum reda juga. Kali ini, teman-temanku masih berpesta. Aku seruput segelas teh hangat untuk menenangkan pikiranku. Dari bayangan tadi.

??????????? ?Gasal, kenapa hanya Lima lilin kau tiup? Tiup semuanya!? Ramdan mengagetkanku lagi.

??????????? ?Lho, lilinnya kan dari kue ulang tahunku. Jadi, mau tiup lilin berapa pun itu terserah aku!!?

??????????? Aku sedikit ketus menjawabnya.

??????????? Riki tertawa.

??????????? ?Aku sarankan, tiup sekarang.? Riki Menyambung.

??????????? ?Lilin tidak bisa meniup dirinya sendiri, Gasal.?

??????????? ?Yang Riki bilang benar, Gasal.? Ramdan juga ikut ambil bagian. ?Sudah lebih dari dua jam kau menunggu dia. Dia itu memang sangat sibuk. Terima saja, Gasal?

?

??????????? Ya Raman, kalau saja aku ini bom, aku pasti sudah meledak. Menghancurkan seisi restoran. Tanpa ada sisa. Tapi, ledekan mereka sudah jadi makanan sehari-hari. Yang bisa kulakukan hanyalah ikut tertawa dengan mereka. Mereka sudah kenal betul sifatku, bahkan sejak kami masih berbaju abu-abu.

??????????? Lama-lama kulihat lagi lilin-lilin yang sudah memendek di kueku. Tinggal 16 yang masih menyala. Kau tahu, Ya Raman. Tadi aku meniup lima lilin, lalu bola asap muncul menayangkan sesuatu yang sedikit kukenal. Tapi terpotong sebelum aku tahu nama anak gembul itu. Mungkin, jika kutiup lebih dari 5 lilin, bola asap itu bisa lebih tahan lama.

Ya, bisa saja.

?

??????????? Fuuuh?

??????????? Sekarang aku tiup 6 lilin, Bola asap itu keluar lagi. Sedikit lebih besar dari yang pertama. Kali ini, aku penasaran dengan apa yang akan ditanyangkan.

??????????? Seperti layar TV, pertama kabur dulu. Apa sudah rusak? Lalu perlahan, asap itu mulai memunculkan gambarnya. Kali ini gambar 3 Anak muda, aku kenal jelas kedua anak itu. Itu anak Gembul dan anak bernama Sigit yang kulihat pertama tadi. Lalu anak ketiga itu, aku sedikit lupa.

??????????? Ya Raman, apa yang terjadi?

?

??????????? ?Perlu kita coret-coret baju seperti yang mereka lakukan?? Kata Anak Gembul itu.

??????????? ?Tidak perlu, kita harus berbeda dengan mereka. Jika mereka mewarnai baju mereka untuk kebahagiaan mereka, mari kita warnai dengan cara berbeda.? Seru Sigit.

??????????? ?Cara apa?? Anak Gembul itu kebingungan.

??????????? Sigit tersenyum.

??????????? ?Biarkan Sigit mengalirkan idenya. Kita cukup jadi peserta saja? seru anak satu lagi.

??????????? ?Iya, Ramdan. Ayo, aku ajak kalian ke tempat yang lebih seru.?

??????????? Ramdan?

??????????? Itu kan, temanku. Ya, aku sedikit ingat jika saat lulus SMA aku sama sekali tidak di nodai cat semprot warna-warni. karena aku pergi ke tempat lain.

??????????? Apa ini adalah memoriku yang lampau, Ya Raman?

?

??????????? Sekarang layar berputar, dan berganti latar lapangan masjid. Lengkap dengan pohon, rumput dan sore yang sangat memanjakan mata. Jika kulihat, itu sekitar pukul 5 sore. Sebelum maghrib.

??????????? ?Lebih baik kita habisi sore dengan hal yang lebih asyik disini. Bermain bersama kalian!? seru Sigit.

??????????? Iya, anak-anak itu sibuk menghabiskan waktu bahagia mereka. Berlari, mengambil foto, dan kadang bertingkah seperti anak kecil.

??????????? Ya, mereka memang masih anak-anak. Remaja tepatnya.

?

??????????? Aku mencuri pandangku kembali ke Anak gembul itu. Dia hanya duduk saja, memandangi arah teman-temannya berlari. Jika ke kanan, dia ke kanan. Ke kiri, dia juga ke kiri. Ke belakang, akan dia putar tubuhnya ke belakang. Bagaimana jika ke depan nanti?

??????????? Lalu, Sigit mendekati Anak gembul itu, duduk disampingnya.

??????????? ?Setelah ini, kau mau kemana??

??????????? Anak itu diam.

??????????? ?Kalau aku, akan kuliah di kampus terbaik di kota ini. Mengejar cita-citaku menjadi anggota pemerintahan yang adil.? Matanya berbinar seperti seribu kunang-kunang.

??????????? ?Aku..? anak gembul itu mulai bicara.

??????????? ?Aku tidak tahu mau kemana lagi. Mungkin, kuliah juga sepertimu. Tapi, aku tidak ingin tidak bisa ketemu denganmu lagi.?

??????????? ?Kenapa??

??????????? ?Aku takut, orang baru nanti sama saja seperti orang lain. Bermuka dua, berhati batu, sekeras karang.? Nada bicaranya melemah.

??????????? ?Ayahku bilang, apa yang kutemukan sekarang harus kujaga erat. Jangan lepas, tapi biarkan bebas.?

??????????? ?Artinya?? Sigit kebingungan.

??????????? Anak itu mengangkat bahunya.

??????????? ?Tapi yang pasti, kau sudah aku kenal sejak kecil. Dan aku tidak akan melupakanmu. Aku bersumpah, jika nanti aku lupa padamu! Akan kukirim asap berisi kenangan tentang kita dan semua orang padamu! Aku yakin kau akan bahagia!? dia semangat menepuk dada, batuk seketika.

??????????? Anak gembul itu tertawa riang.

??????????? ?Aku senang bisa bertemu dengamu,?? lalu asap itu hilang lagi.

???????????

??????????? Aku mulai kesal.

?

***

?

??????????? Ya Raman,

aku sudah tiup 6 lilin. Harusnya aku dapat dispensasi waktu beberapa menit lagi. Aku hanya ingin tahu, jika ini ingatanku, siapa anak Gembul dalam gambar itu.

Aku tak peduli lagi dengan sisa lilin yang tinggal sedikit. Aku hirup udara sekuat mungkin dari hidung ke dalam perut. Lalu,

Fuuuh?

Sekencang mungkin aku tiup lilin yang tersisa. Hanya Sembilan yang berhasil. Baiklah, setidaknya itu bisa jadi dispensasi yang panjang.

Kepulan asap besar muncul. Lebih besar dari yang kedua. Nurani mulai berapi-api, apa yang akan muncul setelah ini.

Putih.

Layarnya putih, lalu perlahan rona warna bermunculan. Namun, sebelum gambarnya sempurna terlihat. Suara samar-samar mengganggu telinga.

?Yakin tidak bisa datang??

?Maaf, aku tidak bisa datang. Ada sidang yang kudatangi? sahut sebuah suara.

?Tapi, setidaknya sekali saja hadir.? Suaranya semakin kukenal. Gambar mulai terlihat tajam.

Seseorang menelepon, tidak gembul, pakaiannya sudah mulai rapi.

?

Itu aku!?

?

Aku terperanjat, Ya Raman!

Bagaimana tidak. Orang dalam asap itu seperti aku, tidak mungkin!!

Aku masih ingat benar kejadian itu, baru lewat seminggu. Saat aku mengundang dia ke acara ini. tapi karena sidang yang tak tahu ujungnya, dia selalu menunda kedatangannya.

Tapi apa benar, itu aku?

?Aku sekali lagi minta maaf ya tidak bisa datang?

?Tapi setidaknya, usahakan sebentar saja untuk datang. Aku juga mengundang yang lain.? Seru orang itu.

Suara di telepon itu terdiam.

?Baiklah, akan aku usahakan. Tapi, aku tidak janji bisa datang. Walau begitu, akan kusampaikan hadiah untukmu.? Katanya.

?Janji adalah hal yang sakral untuk dipegang. Itu yang pernah kau bilang kepadaku. Aku tidak akan memotong kue sampai kau datang, Janji??

?Baiklah, aku janji. Sampai jumpa, Ga??

Asap itu lebur seperti kembang api di hadapanku. Dan aku, hanya bisa bisu. Terdiam dengan apa yang telah kulihat. Apakah ini dejavu atau apalah.

?

Lilin kecil itu sekarang tinggal satu bersinar di atas kueku. Aku tak peduli lagi suara-suara teman-temanku yang berpesta, atau jalan yang masih saja macet sampai sekarang, atau suara hujan yang semakin deras menurunkan anak butirnya.

Yang kupedulikan, adalah apa yang akan keluar dari lilin terakhir ini. Aku ambil nafas panjang, meniup dengan tenang dan tanya di kepala.

Fuuuh?

Sekarang asapnya sekecil cermin tangan, kabur, tidak ada yang terlihat. Hanya bayang samar-samar seseorang.

Semuanya kabur, hanya bayang reruntuhan yang kulihat.

Dan hilang.

?

Aku hanya bisa mendengus pelan dan semakin bingung setelah melihat apa yang terjadi dari asap lilin terakhir. Sebelum cahaya terang mengganggu mataku, dan suara berisik sirine mulai mengusik telinga.

?

Lalu, semua gelap?

?

***

??????????? Kau tahu, Ya Raman.

??????????? Aku berhutang padamu sebuah jawaban. Kenapa aku sangat ingin bertemu dengannya?

??????????? Jawabannya, terima kasih. Sebuah terima kasih kecil untuk hal besar yang telah mengubahku dari dia, yang membuatku lebih baik dari dulu.

??????????? Sekarang aku paham, semua asap itu adalah janjinya. Memori untuk terus aku ingat sepanjang waktu. Karena menurutku selain kebaikan, memori adalah hal yang haram dimakan waktu.

??????????? Aku benar kan, Ya Raman?

???????????

Asap dimana-mana, dadaku terasa sakit, tenggorokan begitu sesak. Bukan karena asap, sepertinya ada sesuatu yang membuat tenggorokanku penuh. Semuanya gelap, hanya ada reruntuhan yang bisa kulihat. Dan sebuah truk penyok ada di hadapanku.

Aneh, semua seperti yang baru saja kulihat.

Aku mengalihkan pandanganku, semua orang terbaring. Basah karena darah, kado-kado yang tadi bertumpuk rata, kue yang dulu setinggi menara, sekarang hancur tanpa sisa. Dan tubuhku sakit, sulit untuk digerakkan.

?

Lalu, aku lihat bayangan. Seseorang. Dia berlari padaku. Pakaiannya masih rapi walaupun basah kuyup, seperti Mahasiswa kebanyakan. Aku bisa melihatnya begitu nanar.

Dia menangis, tangannya penuh darah.

Dia bicara sesuatu, tapi tidak bisa kudengar. Sepertinya aku Tuli.

?Gasal?Gasal?Gasal??

Itu yang bisa kubaca dari gerak bibirnya. Sisanya tangisan. jangan meragukanku, Ya Raman. Aku itu dulunya ahli membaca bibir orang.

Tapi yang jelas, aku kenal sosok ini. Gaya bicara itu, kacamata itu. Ternyata benar kata orang. Masa Depan adalah kejutan.

?

Kau tahu, Ya Raman.

Dia datang menepati janjinya.

?

?

***

  • view 198