Lima Puisi Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara) @Riau Pos Edisi 15 May 2016

Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara)
Karya Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara) Kategori Puisi
dipublikasikan 16 Mei 2016
Lima Puisi Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara) @Riau Pos Edisi 15 May 2016

Pengantar:

Selamat memecah Keheningan, selamat membaca Kesendirian.
Selamat mencari Jalan Pulang...
 

 

Song of Rose and Ivy

 

Kemudian fajar membuncah

seperti rekah apel merah,

dan larutlah sendu

dalam keruh cokelat teh

yang siap seduh dan diberi madu.

 

Hanya sedikit lagu yang kutangkap

banyak yang hinggap lalu lenyap:

Sedikit dengung lebah pagi,

lengking kereta mesin,

cengkerama gadis-gadis muda,

riak air yang membasahi mawar,

rintihan helaian Ivy yang ranggas

tuntas dipangkas waktu.

 

Aku rasa, setiap pagi adalah versi

lain sebuah miniseri.

Kita hanya membisu:

Diam termangu menunggu

apa tindakan selanjutnya.

Tanpa sadar usia sudah bergandengan,

berlari di depan kita.

 

Sisakan kertas dan pena untuk kita.

Mengingat awal mula sebuah cerita

Pertemuan hening yang begitu asing.

 

Adakah alur tak terduga di ufuk sana,

seperti Hmye Mawar dan Ivy

Sebagai fajar sebuah puisi?

 

Galeri G 2016

 

Pulang

 

Bulan bundar kuning mentega saat dia menggulir cahaya

Melintasi kornea kita, mengukir suasana yang asing :

Apa kita saling bergeming atau berlomba mengumpulkan hening.

Rona itu masih bisa kubaca di antara langit Hitam Opal.

Dan kau masih memandangku dangkal.

 

Mari kita pulang, kita susuri jalan seperti ketam petapa membawa

Rumahnya, hening dan tabah. Sepanjang pesisir paling desir,

keluar dan masuk, menatap mata-mata yang memburuku buta.

Namanya sepi : elang perkasa dan kurus jauh di sana.

 

Aku pungut sejumlah doa kedalam cangkang.

Menyusuri liku risau yang tak bisa kurenggang.

Lalu aku kembali ke laut. Menjaga kerut doaku

Tak hanyut dan surut.

 

Bulan sudah lengkung putih susu saat aku di laut.

“kita tahu, ada yang lebih halus dari arus,

Selain doa dan sua yang tergerus.”

 

Riau 2016

 

Hibernasi Bumi

 

Konon, bebatuan punya telinga untuk mendengar doa di pemukiman ini. Menyimpan harap kepada pohon yang tengkurap, pengap menunggu hari basah paling tabah.

 

Konon, bumi sedang hibernasi dari wujud gergasi. Nanti saat kota kehilangan hati, dia akan bangun dan menangis. Mengiba doa pada bengis laut dan langit: yang percaya dengan apa yang niscaya, tenggelam dalam ragu akan apa tujuan dia ada.

Dari telinga batu, sekali lagi dia dengar bunyi seribu sunyi, seribu getir, seribu tangis yang lupa dengan batu, pohon dan hijau yang dulu ada, mematri dan menjadi hati bagi  ironi hidup mereka.

Konon, burung-burung yang membangunkan bumi. Bernyanyi lagu iblis, berdoa agar bumi menangis. Konon, burung-burung itu kita.

 

Riau 2016

 

Kecubung

 

Hari ini ada yang asing di lehermu.

Sejumlah kata ungu berebut cahaya tua

Beberapa saling tindih, merintih tapi saling tepi.

Iya, sedang hari asyik merangkak menjauhi diri

memanggil sepi menjadikan kita seperti berita usang

dalam koran tempo hari.

 

Kita masih berlomba menyulam ingat sejak surya

Sedemikian sengat. Kilap kecubung menyulap kita

dekap demi dekap, meluapkan waktu, menguapkan kita.

: Aku rasa, aku adalah serpih Kecubung dari ingatan

yang kau kubur selama tidur.

 

Pada persimpangan lengang dan bimbang.

Tambang tua ini tetap kurenggang

dengan pandangmu.

 

2016

 

Lagu Anggur Putih

 

Kita harus pulang dari kesendirian

dalam pesta ini yang semuanya tersibak

riak bercak masa lalu.

 

Sebab menenggak kata adalah keharusan

sekaligus pantangan untuk kita.

Sebelum kita mabuk dalam noktah kata kita sendiri.

 

Malam ini, ada dengung dalam gelas

Gelas perjamuan yang belum tuntas

Jika kita memaksanya lepas.

 

Galeri G 2016

 

  • view 141