Tiga Puisi Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara) @Litera.co.id edisi 11 May 2016

Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara)
Karya Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara) Kategori Puisi
dipublikasikan 12 Mei 2016
Tiga Puisi Eko Ragil Ar-Rahman (Linggar Menara) @Litera.co.id edisi 11 May 2016

Pengantar :
 
selamat membaca kesedihan yang tidak biasa, selamat membaca apa yang menjadikannya ada.
 
Salam Proses
 
 

Memorabilia

 

Seekor gagak hitam mengkilap,

melahap sekelompok kenangan

yang terbaring di atas meja makan.

Lalu dia angkat sekira sisanya

terbang tinggi ke dalam sarangnya,

hanya untuk menyelesaikan

apa yang tidak seharusnya ditinggalkan.

 

Karena meja makan itu telah penuh

dengan kaca gelas dan air mata.

Karena kesedihan tinggal kepedihan

dan anggur serta desah perempuan bukan lagi menjanjikan

 

Sekarang, Gagak itu tengah tidur lelap

dengan fragmen percintaan kita.

Sarangnya terbangun rapi di tepi bulan,

sudut rahasia yang menyimpan segala ingatan

yang belum dipungut tangan-tangan Tuhan.

 

2016

 

Belum ada Jejak di Kota ini

 

Kita hanya saling tadah pada fajar

yang lelah dengan waktu yang kian patah.

 

Kita terus mencoba mengeluarkan diri

dalam kota yang semakin lama sepi.

Seperti embun yang demikian anggun,

Seperti asap yang mengepul begitu pengap.

 

Rasanya, kita tidak harus demikian lenggang

seperti lampu jalan

yang rapi membungkuk

dan kemudian, benderang

menyusup memenuhi ruang kita.

 

Tapi, masih belum ada jejak di kota ini.

meski jajaran kaki berbaris menyusuri jalan

dan sirine kendaraan demikian sering menyapa kita.

Jejak itu sebatas kedip lampu lalu lintas,

kerlap, datang dan pergi begitu saja,

kerlip, ditabrak arus waktu

sepersekian.

 

Sepertinya, hanya ada kesenjangan yang menganga di sekeliling kita.

Siap melahap kita semua.

 

Dan gedung gedung di sana,

mereka tertawa pada keheningan kita.

Setiap mata jendela yang merekah membisikkan

bahwa besok akan sama saja:

tanpa jejak di dalam kota

tanpa kita yang menjadi apa-apa

tanpa apa yang menjadikan kita-kita.

 

Satu malam, aku pernah bermimpi.

Kita melebar menjadi bahu jalan

yang duduk dengan bahagia.

Lalu berdoa dan hanya berdoa

kepada jejak yang akan pulang

dengan rahasia yang bersamanya.

 

Galeri G 2016

 

Danau

 

Wajah danau di malam itu masih sama seperti dulu,

Namun di sudut tepiannya masih tersimpan wajah kalian.

 

Jalan bebatuan di sekitarnya sudah diperbaiki.

Dari kerikil kecil yang menggigil kaki kita saat

Kita berkeliling danau bermandikan bulan waktu itu.

 

Setiap sudut taman sudah dipagari,

Lampu-lampu taman boleh menghiasi sepi.

 

Selama tidak ada yang menahan kita

Untuk datangi lagi danau itu di musim kemarau

:Air matamu itu

 

Karena kita adalah daun yang berlari bersama angin

Setiap malam bulan, kita bergumul kembali

Di wajah danau ini.

 

2016

  • view 154