Kurindu ITD_Meretas Mimpi Anak Jalanan

eka imbia
Karya eka imbia Kategori Lainnya
dipublikasikan 18 November 2016
Kurindu ITD_Meretas Mimpi Anak Jalanan

            Anak jalanan seolah telah menjadi fenomena yang mewarnai setiap ruas jalan, terutama di perkotaan. Berdasarkan data JawaPos.com (2016), jumlah anak jalanan terus meningkat. Saat ini tercatat di Kementerian Sosial (Kemensos) mencapai sekitar 4,1 juta. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyebutkan jumlah anak jalanan meningkat 100 persen dibandingkan 2015. Pada tahun lalu jumlahnya hanya mencapai  juta orang.1

             Sementara itu, data dari Belantara Jakata menunjukkan bahwa jumlah anak jalanan yang berkeliaran di ibukota mencapai 4.000 anak. Sumber lain  justru menunjukkan angka yang lebih fantastik. Tahun 2009, angkanya mencapai 12.000 anak naik 50% dari tahun sebelumnya yang hanya 8.000 anak. Jumlah ini tergolong tinggi dibanding rata-rata jumlah keseluruhan anak jalanan di 12 kota besar yang mencapai lebih dari 100.000 anak. Anak jalanan di Jakarta tersebar di berbagai lokasi strategis, namun lokasi yang paling mudah kita jumpai anak-anak jalanan adalah disekitar lampu merah. Biasanya mereka mengamen, mengemis, membersihkan kaca mobil, atau aktivitas lain yang bisa mendatangkan rupiah.2

            Menanggapi fenomena meningkatnya anak jalanan, sejenak meninjau kembali UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. UU ini mengatur Hak dan Kewajiban Anak, pada Pasal 4 ini disebutkan bahwa “setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Namun demikian, dengan melihat kepada kondisi banyaknya anak jalanan di kota-kota besar, seolah  Undang-Undang Perlindungan Anak ini justru belum mampu memberikan sentuhan perlindungan hukum terhadap anak-anak, terutama anak jalanan.

Kita ketahui bahwasanya anak jalanan yang kebanyakan masih usia sekolah terpaksa harus mencari nafkah di jalanan. Ironisnya, fenomena ini masih kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat maupun pemerintah.  Masih sering kita temui adanya diskriminasi terhadap anak jalanan, terutama dalam bidang pendidikan. Permasalahan diskriminasi dalam bidang pendidikan anak jalanan tentu saja menjadi suatu hal yang hangat dibicarakan. Penyebabnya mulai dari kurangnya dukungan orang tua, kurangnya biaya pendidikan, hingga kurangnya dukungan dari pemerintah sendiri dalam menuntaskan permasalahan ini.

Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur melalui Antara Jatim Malang mengemukakan bahwasanya anak jalanan yang tersebar di sejumlah lokasi di Kota Malang masih sulit untuk mengakses pendidikan di jenjang yang lebih tinggi, misalnya, dari SD ke SMP atau dari SMP ke SMA. "Dunia pendidikan di Kota Malang ini ada diskriminasi. Ada puluhan anak jalanan di kota ini yang terancam tidak bisa meneruskan ke jenjang lebih tinggi karena tidak mendapatkan sekolah dengan alasan mereka tidak memiliki akta kelahiran," kata Jaringan Kemanusian Jawa Timur (JKJT) Tedja Bawana di Malang.3

Fenomena diskriminasi pendidikan terhadap anak jalanan tentunya harus mendapatkan perhatian khusus dari seluruh pihak, termasuk orang tua, mahasiswa, masyarakat, maupun lembaga pemerintahan. Dimulai dari orang tua, seharusnya mereka memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mengenyam pendidikan, minimal pendidikan dasar. Orang tua seharusnya lebih menekankan kepada anaknya dan memotivasi anaknya supaya semangat dalam belajar di sekolah. Mahasiswa, selaku agent of change seharusnya juga memberikan gebrakan positif dalam mengatasi fenomena yang tengah terjadi, termasuk dalam mengatasi masalah ini. Mahasiswa melalui ide kreatifnya dapat menciptakan suatu inovasi baru dalam bidang pendidikan, khususnya yang bisa menarik anak jalanan untuk belajar. Selanjutnya masyarakat, seharusnya mereka juga berpartisipasi aktif dalam menuntaskan permasalahan ini. Mereka bisa menyalurkan ide kreatifnya dalam mengatasi permasalahan ini melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM) kemudian diimplementasikan pada anak jalanan, seperti mengadakan kegiatan belajar bersama anak jalanan interaktif. Pemerintah tentu saja berperan sangat penting untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah seharusnya memudahkan regulasi pendidikan, khususnya untuk anak jalanan yang masih kesulitan dalam mengenyam pendidikan.

Hal yang  paling penting untuk saat ini adalah membangkitkan motivasi belajar anak jalanan, supaya mereka kembali mau mengenyam pendidikan bersama anak seusianya. Seharusnya mereka bisa belajar tanpa ada dikriminasi. Marilah, semua pihak yang terkait saling bersinergi meminimalisir jumlah anak jalanan di Indonesia. Anak jalanan pun punya mimpi dan mereka berhak meretaskan mimpinya.

 

DAFTAR RUJUKAN           

  1. http://www.jawapos.com/read/2016/03/29/22330/jumlah-anak-jalanan-meningkat-jadi-41
  2. juta/2https://belantarajakarta.wordpress.com/2010/08/30/bagaimana-mengatasi-problem-anak-jalanan-di-ibukota/
  3. http://www.antarajatim.com/lihat/berita/134773/jkjt-anak-jalanan-masih-sulit-akses-pendidikan

 

  • view 235