Rokok dan Selembar uang biru

Eka Herlina
Karya Eka Herlina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Agustus 2016
Rokok dan Selembar uang biru

" Bisuak rokok 50 ribu..."

" Ndeh... makin banyaklah maling kalo rokok 50 ribu. bantuak pencandu narkoba tuh... kok butuh dicari e. namo e alah candu bana."

Saya menanggapi dengan diam. Sibuk mencatat beberapa barang yang sudah di tumpukan pembeli. Mengabaikan obrolan ayah dengan pembeli. Maka ragam ucapan menolak dan carut marut keluar dari mulut sang pembeli menanggapi isu kenaikan harga rokok lima puluh ribu. Menyalahkan pemerintah dengan isu tersebut yang akan membuat perekonomian sulit. 

Bukan satu dua orang yang menanggap hal seperti itu. Sebagai anak pedagang rokok kategori cukup besar -- hampir mendekati ke kategori agen, saya cukup lelah mendengar ragam komentar dari pembeli. Dimulai dari bungkus rokok yang mengerikan , kenaikan rokok yang tiap sebentar seribu perbungkus hingga isu 50 ribu. Hidup di tengah daerah transmigrasi pelosok Jambi -- sekelas desa kecamatan, rokok bukanlah sesuatu yang dianggap terlalu buruk.  Hal yang lumrah melihat bapak-bapak merokok sambil mengendong anak bayi, atau mengepul asap bersama-sama di warung, dan pemuda yang turut serta merokok -- prinsipnya kalau sudah bisa nyari duit adalah hal yang lazim untuk merokok.  Singkat kata, rokok adalah lambang kedewasaan seorang pria. Itu yang terbangun dalam memori masa kecil saya tentang rokok. 

Arti selembar 50 ribu

Lima puluh ribu cukup tergolong mahal untuk kategori orang-orang sekitar saya -- termasuk jobless seperti saya. Jangankan menaiki harga 50 ribu, dua ribu aja sudah protes meskipun tetap di beli.  Dan, orang Indonesia adalah orang yang cukup cerdas, adik saya bilang kenaikan rokok tak berpengaruh terhadap konsumsi rokok, sebab akan banyak bermunculan rokok ilegal (tanpa bea cukai) . Saya pun menelusuri dunia maya terkait 'lima puluh ribu', hingga menemui alasan  menaikan harga rokok menjadi lima puluh ribu adalah menekan konsumsi di bawah umur.

Saya menghela napas. Sejujurnya hati baik saya sepertinya sudah mati rasa soal rokok. Saya termasuk kategori orang yang membenci asap rokok, kerap memprotes keras pada orang-orang yang merokok di sekitar saya, mendengus kesal menemui bapak-bapak tetap saja merokok di bus ber AC, dan menjadi anak durhaka karena suka menghardik bapak saya yang perokok berat. Saya pernah memarahi anak sekolah menengah pertama yang pagi-pagi sudah merokok di angkot -- sementara sang supir angkot membiarkannya. Disisi lain, hampir segala kebutuhan dan kemewahan hidup saya peroleh dari keuntungan rokok.  Dilematis memang -- dan dilema ini membuat kepedulian saya memudar. 

Lima puluh ribu.

Saya mengeja pelan kata itu. Bayangan anak-anak yang merokok bebas melintas di benak saya, tulisan yang ditempel distributor rokok untuk tidak menjual rokok pada anak kecil yang disuruh oleh orang tuanya-- ini awal membuat mereka penasaran dengan rokok yang berujung diam-diam mencobanya-- seperti potongan film berseliweran di pikiran saya. Rasanya, membandingkan dengan negara luar entahlah.... 

Dan, rasanya percuma menerapkan peraturan larangan merokok di tempat umum, toh pada akhirnya banyak juga berseliweran. Bagi saya adalah sosialisasi bahaya rokok di jenjang pendidikan dan tentang peraturan larangan merokok di masyarakat dengan hukuman tertentu adalah langkah yang mungkin bisa efektif --meskipun saya ragu. 

Bagi saya, tak perlu lima puluh ribu untuk sebungkus rokok, kapan perlu seratus ribu dengan perjanjian terhadap produsen rokok mengurangi produksi rokok. Menjadikan rokok sebagai barang 'wah' seperti wine rasanya ada baiknya. Lagi-lagi  saya pesimis dengan hal ini mengingat tak ada produsen yang tidak mau mengejar untuk besar. 

Saya terlalu lelah berbicara rokok. Sebab , ini terkait dengan kebiasaan di masyarakat kita dari dulu, dulu, dulu sekali yang sulit untuk dirubah dalam sekejap mata. Hal sederhana saja, tidak menyuruh anak-anak untuk membeli rokok buat konsumsi sang bapak saja masih sulit. Pun dengan pedagang, seperti obrolan singkat bapak saya pada anak kecil yang berusia lima tahun yang membeli rokok untuk bapaknya. 

" Nggak boleh anak kecil beli rokok. Sana bilang bapaknya, suruh beli sendiri."

Sang anak cuma dia, memasang muka takut. ekspresi yang sulit dipahami. 

Lagi. Bagi saya, paling efektif adalah komunikasi yang baik di lingkungan pendidikan yaitu sekolah. Udah itu saja. 

Dilihat 147