Bukan Idola yang Kita Butuhkan

eka marifah
Karya eka marifah Kategori Politik
dipublikasikan 22 Februari 2016
Bukan Idola yang Kita Butuhkan

Bukan Idola yang Kita Butuhkan

Di era yang serba teknologi ini dimana semua orang dapat mengakses informasi secara global dan persaingan ekonomi semakin ketat, ternyata masih ada banyak sekali orang yang tidak beruntung. Boro-boro memikirkan strategi bersaing dengan masyarakat ASEAN, untuk memikirkan makan saja sulit. Ya, di balik semua transformasi dan perkembangan yang terjadi di Indonesia, ada hal yang tidak banyak berubah dari negeri ini yaitu terkait dengan masalah kemiskinan atau poverty. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Pada bulan Maret 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,22 persen), bertambah sebesar 0,86 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2014 yang sebesar 27,73 juta orang (10,96 persen). Data tersebut menunjukkan betapa banyaknya rakyat Indonesia yang hidup di dalam keterbatasan ekonomi.

Kemiskinan memang selalu menjadi masalah utama bagi developing country seperti Indonesia dan kemiskinan akan semakin pelik karena berpotensi memunculkan masalah-masalah lainnya. Menurut saya implikasi kemiskinan yang pertama adalah terbatasnya akses pendidikan pada anak-anak atau generasi muda yang pada akhirnya akan berimplikasi pula pada masalah-masalah sosial lainnya. Nasib generasi muda menjadi penting karena merekalah aset bangsa yang akan membawa perubahan, perbaikan dan nasib bangsa di masa depan. Tetapi sayangnya keterbatasan ekonomi membuat banyak orang tua tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya meskipun saat ini biaya pendidikan bisa dikatakan tidak mahal karena pendidikan dasar sembilan tahun telah disubsidi oleh pemerintah namun masih saja banyak orang tua yang mengaku tidak mampu untuk membelikan seragam dan keperluan lainnya seperti buku pelajaran untuk menunjang pendidikan anaknya atau bahkan sekadar memberikan uang jajan saja tidak mampu.

Walaupun pada dasarnya naluri semua orang tua pasti menginginkan nasib anaknya harus lebih baik dari orang tuanya dan anak juga menjadi harapan untuk meningkatkan derajat keluarga tetapi apalah daya jika keterbatasan ekonomi memupuskan segala harapan itu. Anak-anak tidak punya pilihan lain. Mereka terpaksa putus sekolah dan tidak sedikit dari mereka yang rela menghabiskan waktu remaja mereka di jalan demi untuk survive. Ada yang berjualan tisu di tengah kemacetan ibukota, menjadi pengamen, tukang parkir, menjual jasa sol atau semir sepatu, preman jalanan, menjadi kurir narkoba, bahkan terpaksa masuk dalam lingkaran prostitusi. Akhirnya mereka yang diharapkan menjadi aset bangsa yang berharga malah menajdi beban dan masalah bagi negara.

Dunia memang terasa begitu kejam bagi mereka yang tidak beruntung entah karena struktur negara yang kacau dan selalu menjadikan mereka sebagai korban atau memang disebabkan oleh diri mereka sendiri. Entahlah. Namun di sisi lain ada orang-orang yang tidak ingin melewatkan sedetik pun waktunya karena mereka kebetulan beuntung dan dapat menikmati segala kemewahan dunia. Jika di satu sisi ada orang yang mencoba bertahan hidup hanya dengan uang sepuluh ribu rupiah dalam sehari, di sisi lain ada juga yang menghabiskan satu juta rupiah hanya untuk memenuhi sifat hedonismenya seperti untuk makan di restoran mewah, berfoya-foya di mall elit bahkan hanya untuk sekadar minum kopi di cafe ternama. Begitulah kira-kira gambaran kehidupan sehari-hari yang saya lihat di negeri ini, negeri yang katanya kaya raya. Lalu apakah masih bisa dikatakan negara yang kaya jika rakyatnya masih berada dalam kesenjangan yang begitu lebar?

Di balik kesenjangan yang tak kunjung membaik, sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang tidak dimiliki negara lain yang dapat membantu Indonesia untuk mencapai cita-cita menjadi negara maju yang seluruh rakyatnya dapat menikmati kesejahteraan secara merata tanpa ada lagi gap yang begitu lebar. Secara geografis Indonesia terletak di titik yang paling strategis dan penting di Lautan Hindia serta menghubungkan Samudera Pasifik dan Laut Cina Selatan ( Wirutomo 2012: 46). Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas sekitar 1.919.440 km2 dan 13.667 pulau serta merupakan berpenduduk keempat terpadat di dunia dengan komunitas muslim terbesar (Nguyen dan Ritcher 2003: 1 dalam Wirutomo: 47). Dengan letaknya yang strategis tersebut Indonesia memiliki keuntungan yang tidak dimiliki oleh negara lain yaitu diantaranya kekayaan alam yang melimpah karena kekayaan alam menjadi faktor penting dalam keberlangsungan hidup maupun kemajuan suatu negara.

Jika negara dapat memanfaatkan kekayaan alam tersebut apalagi disertai dengan perkembangan teknologi yang canggih maka tidak mustahil bagi Indonesia untuk menjadi negara yang maju dan diperhitungkan di kancah internasional. Namun maslahnya adalah siapa yang akan mampu membawa Indonesia ke posisi tersebut? Tentu saja jawabannya adalah para generasi muda yang akan memegang estafet kepengurusan bangsa. Lalu bagaimana bisa mengandalkan dan berharap pada generasi muda jika masalah kemiskinan membuat mereka tereksklusi dari hak-haknya? Di sinilah pemimpin harus membuktikan kualitasnya, terutama pemimpin tertinggi negara. Sebagai pemegang mandat tertinggi, seorang Presiden harus mampu melindungi dan menjamin hak-hak seluruh warga negaranya terutama menyelesaikan masalah kemiskinan dan kesenjangan meskipun kesenjangan memang akan menjadi masalah yang tak ada habisnya. Di negara maju seperti Amerika Serikat pun kesenjangan itu masih ada karena stratifikasi dalam masyarakat tidak dapat dimusnahkan begitu saja. Masyarakat selalu melekat dengan stratifikasi sosial namun usaha untuk mengurangi kesenjangan harus tetap diupayakan dan tidak ada alasan bagi Indonesia untuk menyerah dalam mencapai Indonesia yang hebat. Tidak ada yang mustahil bagi negara yang memiliki kekayaan alam melimpah yang pada masa lalu menarik perhatian bangsa imperialis seperti Portugis dan Belanda, dan saat ini juga menjadi sasaran bagi negara kapitalis besar seperti Amerika Serikat dan Eropa tetapi lagi-lagi harus dengan peran pemimpin yang berkualitas.

Seorang pemimpin tertinggi harus mampu menurunkan garis kesenjangan atau masalah-masalah yang dihadapi negara serta mampu meningkatkan potensi yang dimiliki negara sehingga garis antara masalah dan potensi negara akan bertemu di jarak yang tidak terlalu lebar atau akan berjalan seimbang. Indonesia tidak membutuhkan pemimpin yang pandai dalam merangkai kata dan janji yang berlebihan, juga tidak membutuhkan seorang ?idola?. Menurut Bauman, idola tidak hadir dengan maksud ?menunjukkan dan menawarkan jalan? karena yang mereka tawarkan adalah ?diri? atau keluarga dan saudara-saudara mereka sendiri (Robertus 2013). Namun Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas dan teguh pada prinsip-prinsip negara terutama the five principle yaitu butir-butir yang terdapat dalam Pancasila. Selain itu ia juga harus ingat bahwa tujuannya adalah menyelesaikan masalah dan memaksimalkan potensi negaranya, bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.

Selain itu, pemimpin juga harus berani berjuang dan membuat suau perubahan yang pasti berisiko. Kita bisa lihat sosok Nelson Mandela, presiden berkulit hitam pertama di Afrika Selatan. Ia adalah Seorang pejuang kemanusiaan yang memperjuangkan kesetaraan ras dan meruntuhkan paham politik Apharteid di Afrika Selatan. Dalam perjuangannya, ia pernah dipenjara selama 27 tahun oleh pemerintah Apartheid yang berkuasa. Namun akhirnya ia pun menjadi politisi Afrika Selatan yang menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan sejak 1994 sampai 1999. Tanpa keberanian sosok Nelson Mandela, mungkin sampai saat ini politik Apharteid masih bertahan di Afrika Selatan. Pemimpin seperti itulah yang Indonesia butuhkan. Tanpa perubahan, sesuatu tidak akan berkembang apalagi maju di titik tertinggi. Masa depan Indonesia memang ditentukan oleh kualitas seluruh masyarakat Indonesia.

Sebagai seseorang yang dipercaya rakyat, pemimpin yang berkualitas harus cerdas dan cekatan. Ia harus cerdas dalam membaca kesempatan sehingga tidak melewatkan satu kalipun kesempatan dalam upaya kemajuan bangsa serta cerdas dalam menjalin hubungan atau kerja sama dengan institusi ataupun bangsa lain tanpa memperhatikan kesamaan agama maupun ras tertentu karena relasi dengan negara lain sangatlah penting dalam perkembangan suatu negara. Selain itu, pemimpin juga harus cekatan dalam menyelesaikan apapun terkait nasib dan masa depan seluruh rakyatnya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan waktu untuk berpikir terlalu lama dalam mengambil keputusan atau kebijakan. Mengulur-ulur waktu sama saja menunda kemajuan negara tetapi tentu saja tidak pula dengan tergesa-gesa dalam mengambil suatu keputusan.

Beruntung, pemimpin di masa kemerdekaan ini tidak harus turun di medan perang dan bertaruh nyawa, mereka hanya dituntut untuk bisa dekat dengan rakyat. Ini merupakan hal yang sangat sentral karena tujuan dari segala pembangunan sebuah negara adalah rakyat. Seluruh kebijakan maupun peraturan yang dibuat oleh pemerintah bertujuan untuk memberikan kehidupan yang layak, memberikan rasa aman, damai, nyaman, keadilan, kemerataan, serta menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi di kehidupan sehari-hari rakyat terutama masalah kemiskinan. Pemimpin harus selalu ingat dengan rakyatnya karena ia bukan hanya berkewajiban memimpin tetapi juga melayani seluruh rakyat. Karena semuanya berasal dari rakyat maka pemimpin harus dekat dan turun langsung menemui rakyat sehingga bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia akan mengerti dan merasakan langsung masalah rakyatnya jika ia berbaur dan bersedia mendengarkan langsung segala keluh kesah rakyatnya terutama mereka yang kurang beruntung. ?Kedekatan pemimpin dengan rakyat adalah sesuatu yang sangat penting sehingga harus dimiliki oleh pemimpin tertinggi Indonesia.

Seperti itulah dahsatnya pengaruh kualitas pemimpin terhadap negara yang dipimpinnya. Pemimpin tertinggilah yang akan membawa arah masa depan dan nasib suatu negara apakah akan maju sesuai dengan cita-cita, apakah akan berdiam diri di tempat, atau bahkan mundur perlahandari tuntutan dan masalah karena tak memiliki kekuatan dan keberanian untuk merubahnya. Namun sebagai rakyat yang cerdas, kita juga harus mampu memimpin diri kita sendiri sebelum kita dapat memimpin orang lain, perusahaan, dan akhirnya memimpin negara. Seperti yang diungkapkan oleh Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Self Driving, sesorang harus berusaha untuk menjadi pemimpin yang dimulai dari drive yourself, drive your people, drive your company, drive your organization, and drive yor nation. Selain ditentukan oleh kualitas pemimpin, negara yang maju juga harus memiliki rakyat yang bersifat pro aktif dan partisipatif dalam upaya memajukan bangsa. Oleh karena itu kita sebagai rakyat yang telah mempercayai orang lain untuk melaksanakan mandat tertinggi negara, kita tidak boleh hanya berdiam diri menunggu keadaan negara lebih baik ataupun hanya bisa mengkritik bahkan turun ke jalan untuk menyampaikan ketidakpuasan apalagi dengan merusak fasilitas atau dengan cara-cara kekerasan. Namun kita harus menjadi warga negara yang aktif, responsif, dan turut menjadi agen perubahan bangsa. #paradelombainspirasi #tulisan

?

?

?

?

?

?

?

  • view 166