Think about The Society You Live in

eka marifah
Karya eka marifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Februari 2016
Think about The Society You Live in

Think about The Society You Live in

??????????? Aku kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang berlokasi di Depok, Jawa Barat. Saat ini aku mahasiswa semester 4 jurusan Sosiologi. Sekali lagi, SOSIOLOGI. Bukan Psikologi. Kenapa? Karena banyak banget orang yang nanya ?sosiologi? Bisa baca diri aku dong, bisa kerja di rumah sakit jiwa juga dong ya?? aduh pak, bu, mba, mas, dek -_- Sosiologi itu beda ya sama Psikologi. Psikologi itu mempelajari manusia, kalau Sosiologi mempelajari masyarakat. beda kan? Iyalah beda. Awalnya merasa tersingkirkan dengan pertanyaan itu karena seolah-olah hanya sedikit sekali orang yang bisa bedain keduanya dan mereka lebih tahu Psikologi. Sedih sih tapi sekarang karena udah terlalu sering menemui pertanyaan semacem itu, rasanya biasa aja. Oke, pertanyaan pertama terlewatkan.

Pertanyaan selanjutnya adalah ?kuliah di Sosiologi mau jadi apa? Prospek kerjanya gimana??. Pertanyaan yang mungkin wajib ditanyakan pada semua mahasiswa, karena sebagian besar orang menempuh pendidikan tujuannya tidak lain adalah untuk prospek kerja. Aku tidak pernah menyalahkan orang-orang yang menanyakan hal itu. Dulu pertanyaan itu juga muncul saat pertama kali aku memutuskan untuk mengambil jurusan ini. Saat itu aku tidak tahu sosiologi akan membawaku ke arah mana, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah aku lulus tapi yang aku yakini saat itu aku optimis, apapun yang akan kujalani di perkuliahan dan setelahnya aku akan mencapai semua impianku satu per satu. Entah kenapa dibalik pesimisme orang-orang aku bisa optimis dengan pilihanku sendiri.

Ternyata setelah resmi masuk jurusan ini, aku semakin yakin kalau keputusanku tidak salah, optimisme itu tidak sia-sia. Tiga semester kutempuh dan banyak sekali ilmu dan pelajaran yang aku dapatkan disini. Dengan waktu yang relatif singkat itu, aku menajdi banyak mengerti. Sosiologi adalah inti dari ilmu-ilmu sosial. Menurutku Sosiologi itu menarik. Kita mempelajari masyarakat yang dinamis yang dapat berubah kapan saja. Karl Marx mengajarkanku kapitalisme yang begitu kejam dengan eksploitasi proletar oleh borjuis, tentang mode of production. Durkheim mengajarkanku tentang fakta sosial, Max Weber tentang birokrasi dan tipe idealnya, Goffman yang semakin meyakinkanku tentang ?manusia itu aktor, dan dunia adalah panggung sandiwaranya?. Begitu banyak ilmu yang aku peroleh disini. Aku bisa belajar tentang politik, perkotaan, perdesaan, kesehatan, keluarga, konflik, stratifikasi, diferensiasi, relasi etnis, lingkungan, agama, gender, pendidikan, ekonomi dan masih banyak lagi dan tentunya dilihat dari perspektif sosiologi. Pada pertanyaan Yang lebih menarik adalah aku tidak hanya kuliah di ruang kelas tapi aku juga harus terjun atau penelitian langsung ke lapangan untuk melihat apa yang terjadi, menghubungkan konsep yang telah dipelajari di kelas dengan realitas di masyarakat. sosiologi memang ilmu yang empiris karena didasarkan pada kenyataan yang terjadi di lapangan.

Jika kita melihat fenomena yang terjadi di masyarakat, hampir semuanya bisa dijelaskan dengan konsep atau teori sosiologi. Tentang kesenjangan, mengapa pria bisa mendapatkan uang lebih banyak dari wanita, kenapa ada power, kenapa konflik terajdi di kalangan elit politik, tawuran pelajar yang tak kunjung usai, pelacuran, LGBT, radikalisme, bunuh diri, korupsi, kemiskinan, birokrasi, revolusi mental, dan sebagainya. Aku tidak hanya mmempelajarinya tapi juga belajar bagaimana cara untuk mencegah, mengurangi, bahkan menghilangkan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. sosiologi melihat segala fenomena secara beyond common sense. Kita bisa melihat sesuatu lebih dari apa yang terjadi di permukaan, tetapi juga apa yang terjadi di baliknya. Kita mencoba mengungkapnya dalam upaya menyesaikannya. Sosiologi mendorong kita untuk berpikir masyarakat dimana kita hidup dan bertahan di dalamnya. Lalu apa masih bisa dikatakan jika sosiologi itu ilmu yang abstrak dan tidak terlalu penting?

Kembali pada pertanyaan prospek kerja, aku tidak khawatir lagi seperti dulu. Aku bisa menajdi apa saja, bisa jadi Peneliti Sosial, konsultan kebijakan, CSR (Corporate Social Responsibility), Dosen, dan masih banyak lagi. Sosiologi mengajarkanku ilmu yang pasti sangat berguna untuk diriku sendiri dan semoga kelak semua ilmu yang aku dapatkan akan bermanfaat juga untuk orang lain dan masyarakat luas. Lalu ada lagi pertanyaan yang lebih sensitif yaitu menyangkut tentang agama. Ada beberapa orang bertanya bagaimana dengan atheis? From a sociological perspective, religions are regarded not as being decreed by God but as being socially constructed by human beings (Giddens 2009: 677). Jika iman kita terlalu cetek mungkin akan terbawa tapi sebagai umat beragama yang tentunya percaya dengan segala ajaran agama kita harus bisa menempatkan diri kita apakah kita sedang berperan sebagai sociologist atau personal. Selain itu, ada juga konsep The taken for Granted Religion. Agama dalam masyarakat Indonesia dianggap sakral, suci, dan murni. Untuk menjaganya, kita diajarkan untuk menerima agama secara taken for granted atau apa adanya tanpa mempertanyakan lagi. Kebanyakan dari kita bahkan diikutsertakan sebagai pemeluk agama yang sama dengan orang tua kita (Wirutomo 2012: 129). Kita tidak bisa memilih atau mempertanyakannya lagi. Seperti itulah gambaran kecil agama jika dilihat dari perspektif sosiologi. Namun sekali lagi kita harus bisa memposisikan diri kita, seperti apa kita harus berperan di situasi yang berbeda. So, tidak ada ruginya mempelajari sosiologi ya.

??????????? Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, mungkin akan ada pertanyaan lain yang menyusul.

  • view 84