Difabel; Penyemangat Baru Sebagai Pengganti Ainun yang Belum Ditemukan

Egi Prayoga el-ManNa
Karya Egi Prayoga el-ManNa Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 17 Mei 2017
Difabel; Penyemangat Baru Sebagai Pengganti Ainun yang Belum Ditemukan

Latar belakang tulisan ini dilukiskan sebagai bentuk kecintaan penulis terhadap masyarakat Indonesia, khususnya teman-teman penyandang disabilitas. Cerita romantis ini bermula pada awal tahun 2017, ketika penulis telah resmi keluar dari keluarga besar library assistant UPT Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (selanjutnya UIN SUKA Jogja) menjadi relawan di Pusat Layanan Difabel (PLD) Kampus UIN SUKA Jogja pada bulan Maret, tepatnya tanggal 24 Maret 2017. Tanggal tersebut merupakan cikal-bakal penulis mulai berkarya dan berkontribusi aktif untuk PLD UIN SUKA Jogja dan seluruh teman-teman penyandang disabilitas di Indonesia secara umum. Mirisnya, setelah penulis resmi menjadi relawan, timbul beberapa penyesalan dalam diri, “kenapa baru sekarang aku daftar relawan, padahal umurku di kampus ini sudah tidak lama lagi.” Selain itu, ada satu-satunya library assistant tahun 2016 yang bernama Wildan sebagai penyandang tunanetra yang pada saat itu kerjanya nyecan buku-buku untuk para penyandang tunanetra yang membutuhkan referensi perkuliahan. Hal inilah yang membuat penulis merasa sangat bersalah, sebab pada tahun 2016 bersama teman-teman library assistant lain hanya berfokus pada shelving dan melayani layanan umum perpus tanpa pernah tahu apa yang terjadi di difabel corner.

Untungnya, karena jiwa penulis yang menyukai dunia buku selalu menggebu-gebu, hal ini yang menjadi alasan kuat kenapa setiap hari selalu menyempatkan diri refreshing di perpus kampus tercinta. Suatu ketika, penulis akan masuk ke dalam perpus kampus, tiba-tiba ada dorongan untuk mampir silaturahmi ke difabel corner yang tempatnya berdekatan dengan kantin perpus “Alhambra” sembari mengunjungi teman temannya KKN (gampangannya ada tunanetra yang bernama Anaes, nah dia itu teman dari teman sekelompokku waktu KKN wkwk). Tatkala itu juga, terlihat Wildan seorang diri tanpa teman hidup sedang asyik membolak-balikkan kertas kemudian ditekan perlahan hingga lightshot dari mesin scan menyala (itulah tutorial ringkas cara nyecan buku ckck). Tanpa berpikir panjang, penulis langsung mendekati Wildan dengan rasa kagum dan terharu, betapa mulianya dengan keadaan seperti itu Wildan bersemangat untuk nyecan buku-buku yang beratus-ratus halaman tanpa rasa ngeluh. Jujur saja, scan buku merupakan salah satu program dari penulis juga untuk menyelamatkan buku-buku yang sudah berumur tua, seperti manuskrip dan buku-buku terbitan lama yang sudah tidak diterbitkan lagi.

Sebagai penutup, paparan di atas merupakan kisah nyata yang penulis alami pada tahun 2017 ini bersama keluarga besar library assistant dan teman-teman kece penyandang disabilitas kampus UIN SUKA Jogja. Pusat Layanan Difabel sebagai salah satu wadah untuk menjadi MATA AIR buat masyarakat Indonesia, khususnya para penyandang disabilitas. Tidak berlebihan jikalau penulis mengatakan, “mereka lebih sempurna daripada kita yang hanya sempurna dari segi fisik.” Sebab, banyak sekali kreasi dan kemampuan lebih yang mereka miliki untuk membanggakan negeri tercinta Indonesia ini. Wallahu A’lam Bishshowab.

  • view 145