Gara-gara Indomie dan Salah Sebut Jenis Kelamin

Egi Prayoga el-ManNa
Karya Egi Prayoga el-ManNa Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 05 April 2017
Gara-gara Indomie dan Salah Sebut Jenis Kelamin

Tulisan ini bermula ketika Rama Rizana memposting foto Andi Subhan Husain ketika sedang presentasi di Simposium Internasional PPI Timur Tengah dan Afrika 2017. Secara spontan, M. Fajar Nasikhin mengomentari foto tersebut sembari melontarkan kalimat “indomie jauh banget ya sampai sana pasarnya” dengan hastag #salahfokus. Memang benar adanya jikalau pada foto tersebut terpampang umbul-umbul indomie dengan gagahnya, tetapi tidak kalah tenarnya dengan pemateri. Diskusi itu pun berlanjut sedemikian lancarnya tatkala Rama Rizana menjelaskan bahwa di daerah Timur Tengah terdapat pabrik indomie pada dua kota yang memegang peran penting untuk ekspor indomie ke kawasan Timur Tengah, yaitu Jeddah dan Dammam. Lebih heboh lagi, tatkala Meida Adlina memaparkan kalau dirinya pada tahun 2012 jalan-jalan ke Turki, dan pada saat yang bersamaan Turki sedang dalam proses pembuatan pabrik indomie tepatnya di Istanbul. Bahkan dengan nada yang prihatin, bahwa mie goreng yang paling jarang ditemukan, sebab hanya kota dan toko tertentu yang menyediakan.

Semakin bergulirnya waktu, trending topic di atas dicoba alih perbincangannya oleh Egi Prayoga al-Mubarak selaku penulis untuk membahas scrummy yang akhir-akhir ini dibumingkan sebagai makanan khas terbaru dari Jogja dan hidangan yang cocok untuk Simposium Internasional sebagai kalimat promosinya. Tiba-tiba muncul jawaban pragmatis dari Rama Rizana yang mengatakan “diduga ini bagian marketingnya”. Tanpa berpikir panjang, penulis membubuhi pernyataan tersebut dengan penegasan “satu paket tour gide juga mbak, makanya ayo sini teman-teman PPI Dunia dan Tim Kajian Papua berlibur ke Jogja, dijamin deh memuaskan.” Nah kata “mbak” pada kalimat ini yang menimbulkan permasalahan akademik sebagai unsur munculnya ejekan bertub-tubi kepada penulis, sebab faktanya Rama Rizana itu menganut jenis kelamin laki-laki pada takdirnya. Bahkan sebagai penegasan Rama Rizana menyatakan bahwa pada waktu oprec TKP PPI Dunia, sudah tercantum nama lengkapnya. Mungkin kalimat terakhir tersebut sebagai pembelaan bahwa dirinya sejatinya laki-laki tulen. Lebih parah, diakhir bully-annya, Rama Rizana secara spontan menyarankan agar jangan membuat tulisan di blog. Jujur saja, justru hal itulah yang merupakan motivasi penulis untuk membuat tulisan ala kadarnya (baca = notulensi).

Sebagai penutup, sebenarnya tulisan ini belum selesai, akan tetapi demi kepentingan menghibur khalayak ramai dan sebagai salah satu bentuk terima kasih penulis karena hubungan kekeluargaan kita telah memasuki bulan keempat melalui forum Tim Kajian Papua PPI Dunia. Penulis berharap, forum ini sebagai salah satu bentuk konkrit untuk menjadi MATA AIR untuk Indonesia tercinta. Wallahu A’lam Bisshowab.

  • view 154