Mentari Tak Pernah Tidur

Edy Priyatna
Karya Edy Priyatna Kategori Project
dipublikasikan 17 April 2018
Buku Pertama di Desa Rangkat

Buku Pertama di Desa Rangkat


Sosok seksi bertubuh padat penuh coretan hitam terurai panjang menggemaskan tergambar jelas di lembar daun kuning nan kering terlihat membentang merangsang tiada terbalut sehelai benang tampak buah yang ranum menentang telanjang meronta-ronta mengelak menggelinjang.....

Kategori Puisi

818 Hak Cipta Terlindungi
Mentari Tak Pernah Tidur

Mentari Tak Pernah Tidur

Cermin : Edy Priyatna

 

          Ketika hari telah menunjukan waktu subuh aku keluar dari pondokku. Kakiku melangkah menuju ujung langit yang menjadi anganku. Rembulan terlihat masih juga belum tidur. Sementara mentari di desaku ini masih belum juga menampakkan dirinya. Tunduk kepada hukum alam yang selalu berputar dan berputar, maka pagi inipun aku mesti mengulang lagi pergi ke kantor pada hari yang masih gelap ini. Sama persis seperti kemarin.

 

          Pergi sebelum mentari datang pulang setelah mentari pergi. Istilah kuno yang masih berlaku untuk diceritakan pada semua orang dalam semangatku mencari nafkah. Namun itu hanya kataku. Wajar-wajar saja. Karena sesungguhnya semua unsur pada alam ini memang sungguh begitu relatif. Sehingga tak heran banyak orang yang dekat denganku menilai aku begini. Jangan tanya orang lain yang tidak mengetahui. Pasti jawabannya akan lain.

 

          Bagiku mentari tak pernah tidur. Setiap saat ia selalu menerangi isi alam ini. Sejak pagi ke pagi, siang ke siang bahkan malam ke malam. Pada putarannya setiap pagi hari hingga petang, dia senantiasa melepaskan sinarnya secara penuh ke bumi. Kemudian malam hari hingga pagi harinya, dia tetap menyoroti cahayanya kendati terhalang oleh bumi, namun terbias pada rembulan dan bintang-bintang.

 

          Semangat mentari bagi diriku telah masuk dalam jiwa. Kerja keras mulai dari bangun pagi lalu kerja pagi adalah sebuah pengorbanan. Aku mesti menghadapi berbagai masalah yang berbeda setiap hari. Kerap bergelut dengan kemacetan sementara orang lain masih berselimut diperaduannya. Sekali lagi, itu pikirku. Kenyataannya, aku bermacet-macet ria dengan sesama juga. Ada orang lain yang sama denganku. Namun selalu lolos dan tiba dengan tenang di langitku, tempat aku bekerja.

 

          Perputaran itu berlaku juga pada diri seorang manusia. Pada keinginan, kemauan dan tindakan. Kerelatifan ini sama pada soal bercinta. Semua tergambar dengan indah tanpa sebab. Semua terjadi benar tanpa tahu dari mana asalnya. Tak ada yang lebih hebat. Bila cinta sedang meledak, semua kontan jadi subyektif.           

Padahal, alam yang tak luas ini terus ajarkan kita bahwa selalu akan ada yang lebih benar di dunia. Selalu ada yang lebih indah di negeri ini. Ada yang lebih cantik di desa ini. Selalu ada yang lebih kaya di kota ini. Lebih lain-lain dan segala kumpulan kelebihan lainnya. Semua itu ada pada orang lain.

 

          Aku harus banyak belajar dan selalu belajar. Terutama belajar ikhlas kepada apapun yang aku hadapi ini. Walaupun ada orang lain yang menjalaninya dengan lebih mudah pada hidup ini. Secara alam pohon apapun dapat tumbuh dimana-mana di dunia ini. Namun buahnya hanya lebih baik pada salah satu tempat saja. Begitu pula bagi manusia, karena sejatinya pasti berbeda dan merupakan sebuah ketentuan alam. Subhanallah.

 

          Alhamdulillah, akhirnya akupun mesti selalu bersyukur. Ternyata masih ada orang yang masih terbaring karena kurang sehat, sementara aku masih sehat walafiat bekerja di kantor. Semoga kita semua senantiasa diberi kemudahan. Amin YRA.

 

(Pondok Petir, 09 Nopember 2011)

  • view 39