Siti Menunggu Nasib (2)

Edy Priyatna
Karya Edy Priyatna Kategori Project
dipublikasikan 15 April 2018
Buku Pertama di Desa Rangkat

Buku Pertama di Desa Rangkat


Sosok seksi bertubuh padat penuh coretan hitam terurai panjang menggemaskan tergambar jelas di lembar daun kuning nan kering terlihat membentang merangsang tiada terbalut sehelai benang tampak buah yang ranum menentang telanjang meronta-ronta mengelak menggelinjang.....

Kategori Puisi

675 Hak Cipta Terlindungi
Siti Menunggu Nasib  (2)

Siti Menunggu Nasib
Cerpen : Edy Priyatna

(Bersambung)

 

Kepada Ytc. Bunda Milah

Di rumah

Assalamu’alaikum wr. wb.

          Bunda, Alhamdulillah berkat doa semua, Siti dalam keadaan sehat walafiat ketika menulis surat ini. Mudah-mudahan juga keluarga di kampung pada sehat semua terutama Bunda, Paman dan buah hatiku Syafiuddin serta Ali Ridho, serta saudara-saudaraku yang lain.

 

          Siti saat ini sudah tidak kerasan bekerja disini, tapi sudah lama Siti minta ijin pulang namun hingga hari ini masih belum diijinkan oleh majikan. Sepertinya Siti harus menyelesaikan waktu kontrak kerja baru boleh pulang. Itu berarti Siti baru boleh pulang akhir bulan Maret ini, nanti untuk lebaran besok Siti akan kirimkan uang pada bulan Ramadhan. Mudah-mudahan uangnya cukup untuk merayakan lebaran di kampung ya, Bunda….

 

         Siti rindu sekali dengan keluarga di Bangkalan. Setiap hari Siti selalu menangis, apalagi bila majikan perempuan dan anaknya yang laki-laki selalu memarahinya. Bunda kan sudah tahu kalau majikan Siti itu baik sekali, seperti yang pernah Siti ceritakan beberapa bulan yang lalu. Namun sudah sebulan ini semua itu berubah total. Siti tak mengerti kenapa tiba-tiba jadi begitu. Sekarang ini sepertinya semua pekerjaan Siti tidak ada yang benar dan selalu saja ada kesalahan. Kadang Siti merasa apapun yang Siti kerjakan pasti dianggapnya salah. Padahal Siti sudah memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, namun sepertinya majikan Siti itu mencari-cari kesalahan walaupun hanya masalah kecil sekalipun. Lalu bila siti melakukan yang dianggap salah mereka mencaci maki dengan agak kasar. Siti selalu berusaha sabar, sabar dan sabar. Tetapi Siti selalu ingat pesan Bunda, agar tidak larut dalam kesedihan. Siti berupaya untuk selalu tegar dan tidak lupa berdoa agar Siti selamat dunia dan akhirat.

 

         Oiya bagamana keadaan Bunda, Paman dan keluarga di Bangkalan? Sudah lama sekali Siti tak mendapat surat dari kampung. Siti jadi sedih bila menunggu surat dari kampung tapi tak kunjung datang. Namun Siti lebih sedih lagi ketika ternyata surat-surat itu dibuang oleh saudara tiri majikan yang laki-laki itu, Bunda. Sakit sekali rasanya hati Siti ketika akhirnya tahu soal surat itu. Siti secara tidak sengaja memergoki dia menerima surat dari tukang pos lalu dibuangnya jauh-jauh, bahkan dirobek terlebih dahulu sebelum dibuang. Lalu lebih sakit lagi pada saat Siti menanyakan kenapa membuang surat kiriman dari kampung, Siti malah dimaki-maki bahkan dipukulnya. Sejak saat itu Siti tak ingin menanyakannya lagi.

 

          Bunda, doakan Siti ya. Semoga Siti dapat tabah menghadapi cobaan yang berat ini. Siti akan berusaha menjadi orang yang baik walaupun sering disakiti oleh majikan dan keluarganya. Mungkin ini sudah suratan takdir Allah SWT sehingga Siti harus menerimanya. Setiap hari Siti selalu berdoa untuk keselamatan kita. Juga untuk rasa bersyukur bahwa selama ini kita masih diberikan nikmat untuk hidup. Akhir kata maafkan Siti ya Bunda. Ikhlaskan Siti dan anak-anak Siti. Salam buat semua anak-anak, saudara-saudara, dan paman. Tak lupa buat Bunda. Sampai jumpa lagi di Bangkalan.

 

Timur Tengah, 02 September 1999

Wassalamu’alaikum wr. wb.

(Siti Zaenab)

 

          Surat itu merupakan surat Siti yang terakhir yang diterima ibu Milah di kampung. Sejak saat itu tidak pernah ada kabar dari Siti lagi dan juga dari teman-teman Siti yang suka membantu membawakan titipan Siti. Kiriman yang dijanjikan Siti dalam suratnyapun tidak pernah datang. Terakhir kiriman Siti datang sebulan sebelum bulan Ramadhan. Ibu Milah menjadi amat cemas dan khawatir sekali. Sudah berbulan-bulan sejak menerima surat itu, ibu Milah masih belum mendapatkan kabar berita tentang anaknya itu. Entah berada dimana dia sekarang.

 

———————

 

          Sungguh siang itu terasa sangat panas sekali. Lebih panas dari hari biasanya. Padahal matahari masih bergerak sesuai jalurnya, menyoroti tanah berpasir yang gersang. Sesekali terlihat angin bertiup menyebabkan debu berterbangan. Ranting patahpun masih terlihat berserakan melintasi halaman rumah. Dikejauhan terlihat adanya fatamorgana, seperti air yang mendidih diatas tanah. Lama tak pernah ada hujan turun di kampung Bangkalan ini.

 

          Hari ini tanggal 10 Maret 2000, sudah lebih dari enam bulan Ibu Milah, Paman dan kakak-kakaknya Siti menerima surat yang terakhir. Selama itu mereka selalu berusaha mencari tahu kabar keberadaan Siti di Timur Tengah. Namun selama itu pula mereka tidak pernah berhasil. Bahkan ada kabar dari tetangga Siti, Maksum yang pulang kampung kemarin, bahwa Siti telah meninggal dunia.

 

          Sejak mendengar berita itu semua keluarga Siti mencari informasi ke berbagai sumber hingga akhirnya diketahui bahwa Siti ditahan polisi setempat tanpa jelas apa alasannya. Hasan, kakak kandung Siti pun langsung berupaya mencari adiknya itu. Dengan berbagai cara ia telah lakukan, hingga akhirnya dalam waktu dua minggu Hasan mampu bertemu dengan adiknya di sebuah penjara kota di Timur Tengah, tempat Siti bekerja.

 

         Hasanpun langsung memberi kabar ke kampungnya bahwa Siti ternyata telah ditangkap oleh pihak yang berwajib dan ditahan dengan tuduhan telah membunuh majikannya serta terancam hukuman mati dengan cara dipancung. Hukuman pancung tersebut saat ini masih ditunda waktunya. Menunggu ahli waris korban berusia akil baligh, yang saat ini masih berusia empat setengah tahun. Usia akil baligh adalah pada umur tujuh belas tahun. Sungguh malang nasibmu Siti.

 

         Mendengar kabar yang pasti dari Hasan, ibu Milah, pamannya, kakak-kakaknya dan anak-anaknya Siti, menangis sedih. Akhirnya mereka saat ini hanya bisa pasrah menunggu dan berharap adanya pembebasan. Kemudian ibu Milah meminta dengan sangat jika pembebasan Siti tidak dapat dikabulkan, agar jenazahnya dipulangkan ke Tanah Air. Mereka semuanya setiap saat senantiasa berdoa kepada Allah SWT karena hanya Dia yang dapat menentukan semua itu, bukan yang lain. Mereka telah ikhlas, apapun keputusannya nanti merupakan hal yang terbaik bagi Siti. Subhanallah.-

 

(Pondok Petir, 25 Desember 2011)

  • view 33