Siti Menunggu Nasib (1)

Edy Priyatna
Karya Edy Priyatna Kategori Project
dipublikasikan 07 April 2018
Buku Pertama di Desa Rangkat

Buku Pertama di Desa Rangkat


Sosok seksi bertubuh padat penuh coretan hitam terurai panjang menggemaskan tergambar jelas di lembar daun kuning nan kering terlihat membentang merangsang tiada terbalut sehelai benang tampak buah yang ranum menentang telanjang meronta-ronta mengelak menggelinjang.....

Kategori Puisi

834 Hak Cipta Terlindungi
Siti Menunggu Nasib  (1)

Siti Menunggu Nasib
Cerpen : Edy Priyatna

 

          Siang itu terasa sangat panas sekali. Matahari bulat melolong menyoroti tanah berpasir yang gersang. Sesekali terlihat angin bertiup menyebabkan debu berterbangan. Ranting patahpun berserakan melintasi halaman rumah. Dikejauhan terlihat adanya fatamorgana, seperti air yang mendidih diatas tanah. Siti memandang tajam dari ruang kamarnya melalui jendela disudut sisi dinding. Ia sedang merapihkan pakaian yang baru saja dicucinya. Tampak wajahnya terlihat murung dan sedih. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.

          “Siti………..Siti, ayo keluar !!”

          “Iya….Nyonya”, sahut Siti langsung keluar dari kamarnya.

          “Sedang apa kamu, pemalas?!”, tanya seorang perempuan setengah baya yang baru saja kembali mengantar anaknya ke sekolah. Dia adalah majikan Siti.

         “Saya sedang merapihkan baju, Nyonya”

         “Di dapur banyak pekerjaan yang belum kamu selesaikan??! Ruang tamu juga belum kamu bersihkan, kenapa belum juga kamu kerjakan??”

         “Iya….Nyonya”, sahut Siti lagi menunduk sedih. Sebenarnya sejak ia shalat Subuh tadi pagi semua yang menjadi pekerjaannya sudah dia lakukan semuanya, namun majikannya itu selalu saja menganggapnya belum dikerjakan. Sudah sebulan ini peringai majikannya itu telah berubah. Dulu dia sangat baik dan ramah sekali terhadap Siti. Tetapi sejak Siti minta izin cuti pulang kembali ke kampung halamannya, majikannya selalu marah-marah. Dan Siti tidak diizinkan cuti untuk pulang.

 

          Setahun lebih Siti bekerja di tempat itu, selama ini ia telah bekerja dengan baik. Ia selalu melaksanakan semua pekerjaannya. Bahkan dapat dikatakan hampir setiap waktunya di rumah majikannya itu adalah bekerja, kecuali istirahat makan, shalat dan tidur saja. Dalam setahun itu ia baru tiga kali keluar rumah, itupun pergi dengan keluarga majikannya. Belum pernah ia keluar rumah sendirian atau bertemu dengan teman-temannya di kota tempat ia bekerja.

 

         Awalnya Siti merasa kerasan bekerja disana, namun belakangan ini ia tiba-tiba menjadi tidak betah dan ingin segera pulang. Tetapi entah kapan harapannya itu dapat terlaksana. Siti tidak tahu mengapa, sudah beberapa kali mengajukan untuk pulang selalu ditolak majikannya. Kini Siti hanya merasa sedih, ia rindu sekali dengan anak-anak, ibu, paman dan saudaranya yang berada di kampung halamannya.

          Pada hari itu Siti telah merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan dirinya, karena ia telah dipukul oleh majikannya. Ia bertengkar dengan majikannya.

 

———————

 

          Ketika langit telah gelap dan malam mulai larut, kesedihanpun terus berjalan memasuki relung hati Siti. Kerap hal itu berlangsung setiap hari semenjak dirinya seperti dipenjara oleh majikannya. Tak ada yang dapat dia perbuat di rumah itu kecuali bekerja, bekerja dan bekerja. Bila ada kesalahan dalam bekerja dia harus menerima cacian dan makian yang terkadang sangat melukai hatinya. Namun Siti tetap bertahan mejalankan tugas yang sudah ia emban selama hampir dua tahun.

 

          Malam itu Siti merasakan sesuatu yang lain dari pada biasanya. Gelisah yang selama ini selalu menghampirinya, kini dirasakan lebih dahsyat lagi. Tak ada yang dapat ia lakukan kecuali hanya berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar penderitaannya itu dapat segera berakhir. Setiap saat tanpa ia sadari air mata selalu jatuh. Hingga akhirnya ia terjaga dan mulai menggoreskan tinta merahnya.

 

          Siti merasakan rindu yang mendalam ketika menuangkan rasa di dalam tulisan. Berhari-hari ia menulis surat untuk saudaranya di kampung halaman. Sudah banyak surat-surat Siti yang dikirim ke kampungnya, namun ternyata menurut surat balasan yang ia terima justru hanya beberapa surat saja yang telah sampai disana. Siti heran kemana surat yang lainnya. Selama ini ia selalu menitip saudara tiri majikannya untuk dimasukan ke kotak pos pengiriman yang ada sekolahnya. Entahlah! Tetapi kemarin ia berhasil mengirim sebuah surat kepada tukang pos yang kebetulan lewat tanpa diketahui oleh sang majikan. Kemudian ia selalu menulis surat kembali dan kadang iapun tertidur dalam suratnya.

 

          Akhirnya pada keesokan harinya ketika tiba waktu Subuh, Siti terjaga. Ia langsung bangun dari tidurnya menuju ke kamar mandi dan segera melaksanakan shalat Subuh. Lalu usai shalat Siti memasak air di dapur. Tiba-tiba tanpa sepengetahuannya, sang majikan perempuan memukul kepala Siti dari belakang, lalu menjambak rambutnya yang kemudian dilanjutkan dengan mencekik leher hingga dia mau mati. Siti tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi. Pada Saat Siti mau mati tangannya berusaha meraba-raba mencari apa yang dapat menghentikan penganiayaan itu hingga menemukan pisau dapur yang langsung ditusukkan ke perut majikannya.

 

———————

(Bersambung)

  • view 45