Tutur-Tutur

Edy Pras
Karya Edy Pras Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 April 2016
Tutur-Tutur

No Way Back : Betapa banyaknya waktu yang kita habiskan bagi kesia-siaan..

Kita akan tuturkan pada anak-anak kita: ?Hidup itu bagaikan bertanam padi, meskipun hidup bersama di satu tempat tetapi harus ada jarak dan keteraturan, supaya mampu tumbuh subur dan saling menguatkan sebab pada saatnya nanti angin akan datang sebagai pengujinya."
Betapa harusnya kita ingat, kita mampu katakan itu setelah alami alur hidup yang belepotan lumpur dari lubang-lubang kesalahan dan juga kebodohan yang tetap kita masuki, meski sungguh kita telah tahu pada awalnya.
Kita seharusnya mampu bersikeras lakukan hal yang benar bila kita mau berdisiplin, dan mengapa pula kita mesti aniaya diri sendiri bila kita masih bisa memilih untuk tidak melakukannya?..

Ingatlah pada hal sama yang pernah kita lakukan, pada akhirnya selalu saja kita tempatkan pembenaran atas apa yang telah nyata salah kita lakukan.
Kita menghibur diri dengan kata-kata juga dalih-dalih penyelamatan bahwa yang sudah kita lakukan belumlah terlalu salah, tapi setelah itu dari waktu ke waktu masih saja kesalahan sama kita ulang lagi, bodoh, bebal juga idiot harusnya adalah kata-kata yang setiap waktu kita dengungkan ke lubang kehati-hatian.
Bukannya cuma kita katakan berulang kali, sekedar menjadi refleksi penyesalan setelah menjadi guratan sejarah yang tak akan mampu di hapus lagi.

Nisbi: Senja itu seperti juga senja-senja yang lalu, sebenarnya sama saja, tapi suasana hati atas apa yang kita lalui seharian tadi selalu membuat saat-saat yang sama menjadi berbeda dalam pandangan mata juga perasaan kita.
Bila saja aku mampu, ingin sekali aku petik gitar atau menggesek biola, lalu akan kulantunkan sebuah lagu cinta yang terindah di senja yang temaram ini dan biarlah getaran nada-nadanya yang mengharu-biru menyatu dengan malam yang sebentar lagi datang.. Menebarkan kabar kemurnian cinta pada mimpi semua orang tua.
Berkali-kali kita akan tarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lepas-lepas, seakan di antara udara yang kita keluarkan itu ikut terbuang pula beban pikiran yang memenuhi rongga-rongga dada hingga terasa begitu menekan. Tentang cinta juga rindu yang di penuhi hasrat untuk saling memiliki dengan bayangan kebahagiaan di masa mendatang.
Situasi yang selalu saja membuat perasaan kita tersiksa, bahkan mampu runtuhkan semangat juga kekuatan saat kita mesti berhadapan dengan kenyataan yang jauh dari kesesuaian atas harapan dan keyakinan yang tengah kita perjuangkan.

Racun : Seringkali pula kita terlalu tenggelam pada indahnya sebuah awalan, hingga lalai bahwa sesuatu yang betapapun indahnya selama di dunia pastilah akan menemui titik akhir.
Kebijaksanaan akal telah kita miliki dan selalu siap menyelamatkan kita dari keterpurukan, tetapi kita lebih sering membiarkan kesenangan juga keinginan merobek-robek kebijaksanaan itu. Membuat kita terlihat sangat bodoh hingga tersaruk-saruk akrabi kehinaan. Cenderungkan diri pada kebijaksanaan akal dengan sekeras-kerasnya juga selalu menambah pengetahuan memperluas wawasan.
Jangan tenggelamkan diri berlebihan pada sesuatu yang menyenangkan ataupun bersedih atas kehilangan, lebih baik bersyukur sekaligus bersabar mempersiapkan diri menerima akhir dari sebuah keindahan dan kendalikan harapan-harapan yang berlebihan. Sebab betapa telah sangat banyak contoh kehancuran hidup bila terlalu perturutkan keinginan akan kesenangan-kesenangannya.
Bila tengah terjadi sebuah kehilangan, tenangkanlah dirimu sesaat lalu bukalah semua indra kita selebarnya dan lihatlah keluar dari tempurung pada dunia yang terhampar sedemikian luasnya, di penuhi cerita tentang kehilangan tapi juga menemukan.
Bila mau yang kamu perlu lakukan hanyalah perhatikan juga kenali hal-hal yang baru, sibukkanlah hati dan pikiranmu dengan banyak hal baru agar mampu segera lupakan pedih luka atas hal yang telah lalu.
Setelah beberapa waktu kamu akan rasakan dan mengerti betapa berharganya hidup ini dengan kenyataan atas banyaknya hal yang masih bisa kita peroleh kembali.

Setelah semua usai di masa menghitam atau abu-abu laluilah masa-masa pemutihan yang indah mendamaikan. Setelah itulah baru semuanya mulai menapak jejak kehidupan yang baru, di mana semua harus menentukan jalan hidup masing-masing untuk masa depannya, dengan belajar untuk mampu berdiri di atas kaki dan keringatnya sendiri.

  • view 190