Namanya, Kekasih.

Edy Pras
Karya Edy Pras Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 April 2016
Namanya, Kekasih.

Aku melihat aksara di mana-mana, di pojok ruang; di bawah meja; di puntung rokok; di gunung itu dan juga pada usapan angin, yang lalu menjelma rayuan bagi setiap dering rindumu.

Tentang sebuah senja di akhir tahun lalu..

Kala itu yang kurasakan sejak pagi menjelang, semua hal seakan saling berserabutan menata diri merangkai sebuah hari sempurna untuk kedatangan seseorang yang bernama kenangan.
Pagi sepertinya mengacuhkan begitu saja keinginanku agar lebih melambat atau menunda saja datangnya siang, karena sejenak kemudian sore telah menjelang dan setelahnya pasti akan tiba pada senja, waktu yang aku janjikan pada seseorang yang bernama kekasih untuk saling bertatapan mata.
Aku hampir saja terlupa apa pastinya yang membuat aku sedemikian tak bermalu, dengan mengiyakan saja permintaanmu agar kita dapat saling bertatap pada masa yang kini telah jauh berbeda,
Ah, mungkin memang tak akan bisa serupa masa itu..dan kemudian begitu saja kupercayai itu.

Sungguhpun kita telah saling sepakat namun seperti gerak neraca yang sibuk menimbang, satu sisi menjerit inginkan sedang sisi lainnya bersikukuh dengan dalih logika penuh dusta untuk abaikan saja.
Tetapi apalah daya logika saat di hadapkan pada rindu dan cinta?..diapun hancur luluh tak lagi mampu mencegah amuknya rindu.
Kekasih..aku memilih perjumpaanku kembali denganmu, maka lihatlah jiwaku yang seakan terbang dengan mengabaikan logika yang telah membujur, dia mendekap rindu merona lembayung terus melesat menuju tepat ke arahmu.

Senja itu kemudian bergunjing dengan malam bahkan lalu derai bulir hujanpun turut berisik berbisik-bisik antarkan mata kami yang saling memandang dengan kagum, kekaguman pada waktu yang telah begitu santun menjaga menimang dan lalu paparkan kembali hampir seutuhnya kepada kami tentang berbagai alasan kenapa kami dulu saling mencintai.

Hujan semakin bertingkah sedang senja telah beranjak pergi sejak tadi, hanya tinggalkan malam yang kini sendirian termangu-mangu temani percakapan yang sepi juga sekedarnya saja di antara kami.

Sungguhpun menyimak namun malam tak akan mampu banyak mendengar, sebab sepasang kekasih tak perlukan banyak kata untuk dapat saling mengerti.
Perasaan bercakap dengan begitu banyak bahasa, bila tak tersampaikan dengan bahasa yang ini perasaan lalu bercakap dengan bahasa yang itu. Demikianlah..seperti halnya tatapan mata kami yang tengah tenggelam dalam lanjutan percakapan dengan tanpa kata, tentang hari demi hari..di dalam purnama pada setiap tahun yang telah dia lewati tanpa bersama, tersampaikan dengan gusar di penuhi teguran dalam tuturan kilasan-kilasan sinar matanya yang bertanya-tanya, tentang kenapa aku dulu meninggalkannya.
Sesekali rindunya melerai hingga membuat kegusarannya meneduh, raut wajahnya lalu meminta dengan begitu berhati-hati untuk sejenak saja bersandar melepas lelahnya penantian pada perjumpaan ini.

Waktu yang tiba-tiba memunculkan wajahnya lewat sebingkai layar di pergelangan untuk sejenak kagetkan kami, telah sampai saatnya rupanya..

Kembali sepasang ini harus terpisah, bahkan malampun seakan tanpa belas kasih tengah menyeringai mempersilahkan rindu yang begitu tambun untuk segera kembali ke relung-relung di kedalaman jiwa kami, menempati ruang kenangan hingga terasa begitu menyesakkan. 

Sekejap kemudian jemari kami saling bercumbu resah juga tergesa-gesa lampiaskan amukan hebatnya perasaan hingga menggelinjang dalam pertautannya, sejenak erat untuk lalu merenggang perlahan-lahan saling melepaskan..tinggalkan sedikit lenguh kepuasan serupa hidangan penuh kelezatan bagi rindu yang selalu dahaga dan juga lapar.

Kami telah kembali terpisah, jam terus berputar menggenapkan hari hingga membentuk minggu demi minggu yang menjelmakan bulan. Beberapa bulanpun telah berselang saat aku bertemu matahari pada suatu pagi, dan katanya dia sempat berpapasan dengan fajar.

Fajar yang sempat bergunjing dengan malam sampaikan sebuah kabar, kata malam ada seorang perempuan sedang merindukanku dalam kesunyian-kesunyiannya sejak beberapa bulan lalu.

Aku tergetar hingga matahari-pun lalu memelukku hangat, dan sambil lalu dia menuturkan padaku.. "Suatu saat bila kamu merasakan riang dan merananya dunia beriring dengan datang dan perginya seseorang, maka itulah cinta".
"Sesuatu yg datangnya bukan oleh sebab kedudukan, martabat, ataupun harta benda juga rupa".