LUWA OKULA

Ekoo Libra
Karya Ekoo Libra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Januari 2018
  LUWA OKULA

LUWA OKULA

Januari 18, 2018


 

LUWA OKULA

 

EDUARDUS UMBU KODI

(1622112062)

 

Sudah menjadi tradisi bagi kami orang sumba pada umumnya lebih khususnya lagi di sumba barat daya (SBD) bahwa kekurangan makan bukan lagi hal yang lumrah atau hal baru. Awal kisah bahwa kami sekeluaga adalah salah satu dari sekian masyarakat Sumba yang mengalami kekurangan makanan. makanan pokok keluarga kami adalah jagung, padi, ubidan adabeberapa jenis makan lainnya lagi.

Kami adalah keluarga kecil yang terdiri dari enam bersaudara. Beberapa tahun lalu ketikausiakukurang lebih 13 tahun keluarga kecil kami mulai mengalami kekurangan makanan.  hasil panen kala itu mengalami kegagalan akibathama pada padi dan jagung menjadi rusak.

Masyarakat Sumba lebih khusus di SBD Pada Umumnya tanpa terkecuali mengalami gagal panen akibat serangan hama. Kegagalan ini membuat masyarakaat sumba kekurangan persediaan makanan utuk jangka waktu yang cukup lama.Keluarga kami pun demikian tak lepas dari kekurangan makanan. Meski padi dan jagung di kebun telah kering dan diserang hama, Mama

sudah menyiman  persediaan luwa atau ubi kayu yang telah dikeringkan dalam jumlah yan cukup banyak.  Luwa tak hanya dapat dimakan oleh manusia      tapi juga dapat dimakan babi, anjing dan hewan peliharaan lainnya.Aku anak kedua dari enam bersaudara. Ini Pengalaman pertamaku dalam makan makanan yang di olah dari ubi kayu. Proses pengolahannya juga ini yang pertama untukku kala itu.

Di usiaku kala itu sudah di tuntut oleh kedua orang tua untuk harus pandai dalam bekerja, entah itu masak nasi, cari kayu api di padang, memberikan makan pada hewan peliharaan,menumbuk ubi kering dan masih ada beberapa pekerjaan lainnya lagi.Selang beberapa menit kemudia suara mama terdengar dari dalam dapur.

“Eko,” terdengar suara mama memanggil namaku dengan lantang. Sepertinya mama sangat marah padaku, karena tidak biasanya mama memanggilku dengan suara sekeras itu. Pikiranku langsung teringat pada ubi yang belum sempat kutumbuk untuk makan malam.

Aku langsung bergegas dari tempat tidur dan mengambil ubi yang mama pesan untuk ditumbuk persiapan makan malam. Aku sangat paham mama pasti marah padaku.

“Mama sudah suruh dari tadi pagi, kenapa sekarang baru ditumbuk, dari tadi kerja tidur-tiduran sa. Kamu tidak ada rasa sayang dengan orang tua, mama baru pulang dari kebun, dan sampai sekarang mama belum sempat makan. Sedangkan kamu kerja tidur saja,”cerama mama dari dalam dapur dengan suara keras namun menyentuh hatiku.

Mendengar pernyataan mama itu, hatiku terasa sedih, aku pun hanya diam sambil menumbuk ubi.

“Ngeri oo, eko paling rajin di dunia su,”suara dari samping rumah, begitulah temanku memanggil sambil sedikit mengejek.

Suara itu sangat familiar di telingaku, dia adalah anak tetangga rumah yang sangat akrab denganku.Sehari-hari kami selalu bersama, dia adalah Charles. Dia orangnya sangat humoris, pandai bicara, juara kelas dan masih ada lagi beberapa kelebihan lainnya.

Aku pun hanya senyum mendengar ejekannya.

“Woiiiii..!” suara itu terdengar sangat dekat, sepertinya saudara Caharles di belakangku.

“Giliran su mau gelap baru sibuk sembarang, dari tadi kemana,”katanya dengan senyum.

”Engko kalo mau datang bantu saya, jangan omong kosong banyak lagi, suapaya apa engko omong begitu, supaya saya punya mama marah saya ko?” kataku pada Charles sambil mengedip ekor mata.

“Saya punya mama itu, paling sayang dengan saya ee, mama tidak biasa marah pada saya,”sambungku, berniat mengganggu mama.

Tapi sedikit pun suara dari dalam dapur tak terdengar. Hatiku pun terasa sedih, sepertinya mama sangat marah dengan saya.

“Mama,” suaraku mencoba memanggil mama.

“Apa lagi, tidak mau kerja saja di situ,”suara mama dengan nada keras.

Aku pun diam, karena mama tidak biasa seperti itu.

Beberapa menit kemudian, akhirnya selesai juga ubinya.

“Terima kasih kawan, engko sudah bantu saya, memang engko kawan dan tetangga paling baik di dunia sudah,”ucapku sedikit humor sambil menepuk bahu charles.

“Engko ni, ke baru saja. Tadi engko kemana, soalnya saya baru lihat engko dari tadi siang setelah pulang sekolah. Kami ada main Gasing dengan Frid di halaman sekolah,” sambung charles, sambil membereskan nyiru.

“Dia menang banyak tadi, Ius kalah Rp 5000, Doni juga kalah Rp 8000. Engko kalau ada tadi terlalu rame kawan,”Sambungnya lagi.

“Sutttttttt,”pelan-pelan jangan sampe mama dengar kalian ada maen uang, apa lagi mama masih marah tu, jangan buat dia tambah marah. potongku.

“Sekarang frid di mana, dari tadi dia belum pulang rumah, sudah jam begini lagi, dia pergi dengan siapa tadi?” sambungku lagi.

“Eko, Frid di mana,”suara mama terdengar dari dapur, dengan nada yang lembut,Sepertinya kemarahan mama sudah habis.

“Dia masih di sekolah, ada bermain dengan teman-tema,”Jawabku pada mama.

Oke baik sudah, tolong engko pijemput dia, suda jam begini dia belum pulang dan belum makan, ajak temanmu charles itu jangan omong kosong banyak lagi disitu,”Sambungnya lagi.

“Ok mama sayang,” jawabku sedikit guyon.

Waktu terus berputar, tiba saatnya makan malam bersama keluarga dari olahan luwa yang ku tumbuk bersama Charles. Makanan terasa nikmat karena sesekali mama tersenyum sedikit mengejekku, aku sangat paham mama pasti berniat menggangguku karena ia marah-marah sore tadi.

Juga tak lepas dari beberapa petua yang menceritakan tentang pentingnya pendidikan dan juga diselingi dengan candaan bapa yang mengatakan jangan seselaki melawan orang tua karena tanpa orang tua kalian tida menjadi seperti begini sampai sekarang.

Charlespun hanya menundukkan kepala sambil makan luwa okula,sambil tersenyum  dalam hatiku berkata kena kamu char, makanya jangan terlalu melawan dan pamokol pi sekolah, padahal engko anak yang cukup bijak sering juara dalam kelas lagi.

Tak lama kemudian kamipun selesai makan, dan kebiasaan di kampung setelah makan malam adalah bergegas menuju tempat tidur karena tidak ada hiburan-hiburan seperti biasanya anak-anak di kota yang selalu menonton TV atau main GAME di HP pribadi mereka.

 

  • view 61