KurinduITD-No Deskriminasi, Ciptakan Masyarakat Berkasih Sayang

Nur Annisah  Najamuddin
Karya Nur Annisah  Najamuddin Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 18 November 2016
KurinduITD-No Deskriminasi, Ciptakan Masyarakat Berkasih Sayang

No Deskriminasi, Ciptakan Masyarakat Berkasih Sayang

Indonesia adalah negara berkembang yang memilik kekayaan alam cukup banyak dengan negara kepulawan yang memiliki berbagai macam ras, suku, agama yang bermacam macam. Banyak turis yang berdatangan ke indonesia untuk menikmati tempat wisata, kuliner, dan sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia merupakan negara yang istimewa di mata para pendatang luar untuk merasakan pengalaman luaar biasa yang di dapat di Indonesia. Jika di suatu negara memiliki suatu kelebihan tentu juga memiliki kekurangan. Begitupula yang dialami Indonesia.

Melihat dari segi pendapat sebagian orang, mereka beranggapan bahwa Indonesia adalah negara kaya, yaitu negara yang kaya dengan sumber daya alamnya, namun sayang, masih banyak rakyatnya yang miskin.

Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk yang ramah tamah, namun sayang, di antara rakyatnya ada yg memiliki sifat temperamental, suka merasa paling benar, menjamur organisasi yg mengatasnamakan kebenaran dan nama Tuhan namun kelakukan sesuatu yang tidak baik.

Indonesia adalah negara yang aman, namun sayang masih ditemukan sekolompok teroris dan kelompok garis keras yang acap kali membuat publik cemas dan merasa tidak aman.

Indonesia adalah negara hukum, namun sayang masih banyak orang mulai dari rakyat biasa hingga pejabat negara telah melanggar hukum baik sengaja ataupun memang pura-pura tidak tahu.

Atau anda akan memberikan jawaban lainnya?

Singkatnya bahwa indonesia kurang akan ke adilan dan pemahaman yang berbeda-beada. Hal ini akan mempengaruhi perpecahan setiap orang atau sekolompok masyarakat tertentu.

Dimana perpecahan berawal dari diskriminasi emang benar adanya. dalam pasal 1 butir 3 UU No. 39/1998 tentang HAM disebutkan Diskriminasi itu sendiri adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau pun tidak langsung didasarkan pada perbedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status social, status ekonimi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau pengehapusan pengakuan, pelaksanaan atau pengunaan HAM dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hokum, social, budaya, dan aspek kehidupan sosial lainnya.

Dari banyaknya diskriminasi yang terjadi Indonesia, diskriminasi agama yang sering terjadi. Pada tanggal 17 agustus 2015 masjid yang berada di Karubaga Kabupaten Tolikara Papua di bakar oleh massa yang menyebut dirinya GIDI Papua (Gereja Injil Di Indonesia) yang menyerbu dan membakar masjid karena hari ini saat idul fitri massa GIDI pun punya acara, yang mana muslim dilarang solat ied karna kata massa GIDI hari ini adalah harinya yesus. Dari peristiwa diatas didapatkan bahwa kurangnya saling bertoleransi antar masyarakat berbangsa dan bernegara, yang menyebabkan terjadinya pembakaran masjid tersebut.

Dari pengalaman, saya juga merasakan deskriminasi. Saat itu dibangku kelas 4 SD, saya di jauhin oleh teman-teman kelas hanya karena uang yang saya bawa sedikt, sedangkan teman-teman yang lain banyak membawa uang. Pertemanan hanya melihat dari segi kelompok yang berduit banyak saja.

Agar Negara ini menjadi Negara yang nyaman, aman, kuat, maju dan hal-hal positif yang lain. Maka masyarakatnya harus bersatu dan tidak membeda – bedakan antara masyarakat satu dengan yang lain, bahkan ALLAH SWT pun tidak membeda bedakan umatnya. Oleh karna itu kita sebagai masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia harus menjauhi sifat, sikap prilaku diskriminasi karna diskriminasi merupakan awal perpecahan.

Kenapa anti diskriminasi penting dikampanyekan di Indonesia yang masyarakatnya plural? Ternyata ada beberapa alasan keharusan antidiskriminasi dalam buku ini yang menyebutkan lima alasan pentingnya antidiskriminasi.

Pertama, diskriminasi memunculkan ancaman kekerasan primordial. Kemajemukan Indonesia adalah kenyataan yang tidak bisa diubah. Masyarakat Indonesia disarankan oleh Denny JA untuk bermanuver membuat strategi dan pilihan berbeda paada faktor penerimaan publik Indonesia terhadap pluralisme. Ancaman nasionalisme etnik dan disintegrasi hanya bisa diatasi oleh gagasan pluralisme di antara warga Indonesia yang menghargai perbedaan. (h.23).

Kedua, konsep Ideal Indonesia. Bagaimana pendiri Indonesia meyakini bahwa Indonesia adalah negara yang beragam dari segi etnis, bahasa, kebudayaan, agama, dan keyakinan. Namun, di mata hukum nasional, semua warga negara apapun identitas sosialnya, mendapat perlakuan, pengakuan, dan perlindungan yang sama. Semua ditempatkan secara sejajar. Tak ada warga negara kelas satu atau warga negara divisi dua berdasarkan identitas sosialnya (h. 25).

Ketiga, Demokrasi memerlukan kebebasan sipil. Fakta bahwa pilihan atas demokrasi adalah jalan yang benar. Pilihan atas demokrasi adalah suatu keharusan. Hanya saja demokrasi itu harus diimbangi dengan kebebasan konstitusional berupa penghormatan atas hak-hak individu dan perlakuan yang sama kepada semua warga tanpa diskriminasi. Agar demokrasi terkonsolidasi dengan baik, ada tiga prinsip dalam buku ini yang perlu ditegakkan, yaitu Kebebasan, pluralisme dan toleransi (h.30).

Keempat, Peradaban modern, peradaban nondiskriminasi. Kecenderungan peradaban modern saat ini melindungi hak-hak sipil, termasuk di dalamnya kelompok minoritas. Dulu, dunia hanya dibagi berdasar demokratis versus otoriter. Saat ini, peradaban modern tidak hanya dilihat dari sistem pemerintahan dan penyelenggaraan pemilu. Lebih jauh dari itu, negara juga diukur dari penghargaan dan perlindungan hak-hak sipil warga negara (h.32).

Kelima, Laboratorium Demokrasi Negara Muslim. Anti diskriminasi penting bagi Indonesia karena potensial menjadi laboratorium besar keberhasilan demokrasi bagi negara-negara Islam di dunia. Banyak ahli politik Amerika yang meragukan demokrasi bisa cocok dengan Islam. Tungtingon misalnya meragukan negara muslim bisa menerapkan demokrasi. Menurutnya, kegagalan demokrasi di Negara Muslim karena watak dan budaya masyarakat Islam yang tidak ramah terhadap konsep liberalisme barat (h.32). Walau kita lihat sampai saat ini, Demokrasi di Indonesia berjalan dengan baik-baik saja.

Dari semua data riset yang dikumpulkan Denny JA dalam bukunya ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di “warning zone”, area agak berbahaya, di atas rata-rata walau bukan area yang terburuk.

Meski diskriminasi agama sulit diredakan, sejarah mencatat bahwa diskriminasi atas nama agama bisa didamaikan asalkan pihak-pihak yang terlibat dalam diskriminasi konflik tersebut bersedia menerima kehadiran orang lain yang mempunyai keyakinan berbeda. Salah satu keberhasilan perjuangan melawan diskriminasi yang berhasil adalah kesetaraan Kristen Protestan dan Katolik dalam kehidupan masyarakat Amerika.

Denny JA dalam buku ini mengungkapkan rumus yang dibuatnya tentang rahasia Amerika Serikat –juga beberapa negara lain- bebas dari diskriminasi adalah dua faktor penting yaitu faktor I (Infrastruktur, berupa undang-undang dan peraturan lainnya), serta faktor A (aktor yang selalu berjuang menghapus diskriminasi). Faktor I menyumbang 55% dan faktor A menyumbang 45% membentuk negara tanpa diskriminasi. Faktor itu dirumuskan dalam persamaan matematika: ND = I 55% + A 45%. Kombinasi dua faktor ini yang mampu mengubah Amerika menjadi negara yang bebas dari praktik diskriminasi. Di buku ini dijelaskan dengan rinci siapa sang aktor, dan apa peraturan yang mendukung. Penjelasan disajikan dengan rinci dan mudah dipahami.

Adapun dasar untuk menjauhi diskriminasi dengan “membiasakan diri menghindari sifat-sifat saling merendahkan, saling mencela, saling memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan, saling berprasangka jelek( saling curiga ), saling mencari – cari kejelekan orang lain ataupun kelompok lain, dan saling menggunjing” dengan dasar itu insya allah kitadi jahkan dari sifat sikap diskriminasi.    

#LombKurinduITD

  • view 173