[Tulisan Lama] Sebegitunya Media Sosial

Dzikri Muhammad
Karya Dzikri Muhammad Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Februari 2016
[Tulisan Lama] Sebegitunya Media Sosial

[Tulisan ini ditulis tanggal 10 Juni 2013, dengan sedikit penyesuaian]

Kemarin sempat ngobrol dengan rekan di UI, bahwa tersebutlah namanya "Seleb Twit". Seorang pengguna media sosial Twitter yang mempunyai pengikut lebih dari 25000 akun. Hal tersebut bisa terjadi karena berbagai hal, salah satu faktor yang paling kuat adalah kualitas tulisannya. Mulai dari yang 'sekedar' menghibur, hingga yang inspiratif. Sehingga banyak orang yang tertarik dan suka.

*Terus hubungannya dengan saya apa?*

Hubungannya baik-baik saja kok. Justru dari pembicaraan itu saya jadi pengen nulis ini.

***

Saya ingin coba melihat fenomena ini dari sudut pandang saya. Jadi ini akan sangat subjektif.

Bahwa medsos itu sudah hampir berevolusi dari 'trend of life' menjadi 'way of life'.
Terbukti dengan penggunaan telepon pintar sejenis buah-buahan (Blackberry, Apple), Windows, hingga Android yang sudah sangat digandrungi para konsumen teknologi di pasaran. Berbagai aplikasi penunjang telepon pintar pun sekarang sudah sangat banyak. Mulai dari yang jadul (e-buddy) hingga Kakao Talk yang bintang iklannya Sherina.

Saya sendiri mengenal situs semacam media sosial itu saat SMP. Pada waktu itu internet cenderung mahal dan jarang. Bagaimana tidak, untuk menikmati satu jam browsing internet saja saya harus merogoh kocek Rp12.000,00 dan mengarungi perjalanan 2 x 18 km.

Ya, sewaktu SMP saya mengenal Friendster. Saya diajari buat akun Friendster oleh orang yang tidak dikenal saat saya chatting pake YM. Saat melihat peraturan yang kira-kira bunyinya 'Friendster untuk 17 tahun ke atas' saya sempat ragu dan dengan polosnya bilang, 'Saya masih 15 tahun nih, emang boleh ya?'.

Tercatatlah sudah saya gabung di Friendster, dan saya masih belum mengerti fungsinya apa. Ternyata setelah diulik lebih lanjut, Friendster itu cukup mengasyikkan (pada zamannya). Pada waktu saya masih bisa dikatakan 'alay', saya dengan bebas 'ngobrol' dengan orang-orang yang saya kenal (padahal sebelahan) dan yang tidak.

Singkat cerita Friendster sudah mulai membosankan. Pada tahun 2008 saat saya SMA, rumor tentang Facebook pun terdengar. Iseng-iseng buat akun Facebook, dan *tada* jadilah. Awalna saya merasa kagok saat peralihan dari Friendster ke Facebook. Hingga cahaya Friendster semakin meredup, sampai-sampai dicap sebagai 'situs orang alay' (padahal sekarang di Facebook juga masih ada orang-orang seperti itu). Pada akhirnya, Facebook seakan menjadi matahari media sosial pada waktu itu.

Sekarang? Banyak banget. Twitter. Tumblr. Path.?You mention it.

Entah mengapa banyak orang menggandrungi media sosial ini. Apakah zaman yang sudah berubah, saat interaksi lebih terasa mengasyikkan jika melalui alat yang dicap 'canggih'? Ataukah memang teknologi sudah menawarkan kenyamanan, mulai dari buka toko gratis (online shop), menggaet dukungan/petisi akan suatu ide/gerakan, sampai-sampai untuk silaturahim sama tetangga tinggal 'ping' aja pake BB.

Saya pernah membaca statement, "Facebook itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat." Fenomena tersebut seringkali memang terbukti. Saat teman bicara kita pengen ngajakin ngobrol, kitanya malah sibuk pegang gadget sambil foto makan siang kita (padahal Nasi Padang 7000) dan diunggah ke instagram. Jangan sampai kebiasaan itu menutupi kebiasaan baik kita mencuci tangan dan berdoa sebelum makan yang sudah kita pelajari sejak kita belajar di Taman yang Paling Indah dulu kala.

Medsos juga bisa melahirkan berbagai negative-side effect jika digunakan dengan tidak bijak. Seperti menghabiskan waktu dengan sia-sia, badan jadi kurang gerak, lupa makan, lupa tidur, energi terbuang percuma, lupa turun dari angkot, lupa lirik kanan-kiri saat nyebrang jalan, bahkan yang paling parah (menurut saya) adalah split-personality; pembelahan karakter diri antara dunia maya dan dunia nyata. Itu sangat mungkin terjadi, salah satu dari sekian banyak faktornya, untuk menggaet follower/friend yang banyak. My God, semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat sedemikian.

Medsos juga rentan dengan 'pendangkalan informasi'. Terbukti dengan bebasnya berita-berita hoax berkeliaran di jagad medsos.

Terlepas dari konspirasi wahyudi, imunisasi, rheumason, dan kawan-kawannya, media sosial memang sebuah hal yang bisa berefek ganda. Bisa bermanfaat ataupun sebaliknya. Hanya saja seringkali kita tidak bijak dalam menggunakannya, membuat kita semakin bersalah.

Dan yang lebih parah dari yang paling parah, saat euphoria penggunaan media sosial dapat menjauhkan kita dari yang paling dekat dengan diri kita, yang Jauh Lebih Dekat dari Urat Leher Kita... Na'udzubillaah...

Mari sehat dan bijak dalam menggunakan medsos. Untuk menebar pesan yang bermanfaat & inspiratif tentu takkan menjadi masalah, malah menjadi hikmah.
Karena sebenarnya bersosialisasi itu akan lebih berkesan dengan tatap muka sambil ngopi dulu.
*buka Skype sambil nyeduh kopi*

(Tamparan untuk penulis dan pembaca yang budiman, karena seperti yang dikatakan Khoer Jurzani, tulisan adalah tamparan yang lembut)

Cianjur, 23.06 WIB

  • view 135