Jeritan Rakyat Kecil Pada Pemerintah

DyaPrim .
Karya DyaPrim . Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 30 Desember 2016
Jeritan Rakyat Kecil Pada Pemerintah

Bintang telah benderang di langit gelap, menyisipkan kilaunya yang sudah pudar berkat keadaan kota. Asap pabrik, polusi motor, mobil, bahkan pemanasan global telah membuat manusia lupa dengan keadaan bumi. Bintang tampak jarang, udara panas tak digubris, malah menyalahkan kenyataan, tanah tenggelam, tak kuasa menahan beban berat tingkah manusia yang serakah.

Tapi di suatu sudut kota, tempat rumah-rumah kumuh bertengger menunggu digusur cepat atau lambat, hidup seorang anak tegar. Dia tidak pernah menyalahi takdir, tidak menyumpahi penjabat yang hanya duduk di kursi empuknya, makan mewah, sebagai ganti pidato-pidato dan usaha omong kosongnya. Anak itu meski kecil, suka mempertanyakan hidup yang kerap kali didengarnya adil. Bahwa hidup adil.

Anak itu, untuk yang kesekian kalinya merenung. Apa jadinya hari esoknya? Rumah digusur, makan jarang, syukur-syukur kalau masih ada satu-dua yang memberinya recehan, takut diusir lantas dipanggil pengemis.

Paling tidak dia meminta secara terang-terangan, bila mereka tidak ingin membantu adakah mereka berhak mengatainya? Bagaimana dengan para menteri, korupsi, merampas uang rakyat, tetapi berlagak baik bak malaikat? Mereka tentu lebih suka mereka daripada rakyat kecil seperti kami.

Maka ketika anak itu bertemu dengan seorang penjabat suatu saat nanti, dia akan segara menunduk. Bukankah dia seniornya dalam hal mengemis?

Bukankah mereka sama, tetapi bedanya dia mengenakan jas dan dasi terhormat?

Sesungguhnya di mana letak bedanya mereka, hingga diperlakukan tidak sama?

Setelahnya anak itu lagi-lagi merenung, bingung besok mau makan apa.

 

  • view 310