Antara Fisik dan Cinta

DyaPrim .
Karya DyaPrim . Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Desember 2016
Antara Fisik dan Cinta

Tangannya dengan lincah meraba selembar surat petanda rindu, menghantarkan ucapan penuh kasih dan uraian larik bermakna sayang. Arisa tersenyum, menutup surat yang telah dibacanya berulang-ulang kali, takkala seberapa lama, takkala seberapa sering, dia selalu teringat padanya.

Dulu kakeknya bilang, cinta tak perlu mata untuk memandang, karena cinta sudah mengetahui siapa kekasihnya tanpa bukti terlihat. Arisa selalui mempercayai kata-kata kakeknya, entah sebetapa konyolnya itu.

"Sudah lima bulan, Raka," gumam Arisa dengan lemah, teringat dirinya yang jauh entah di negara mana, di waktu kapan, di hati siapa. "Sudah lama kumenunggu."

Arisa berdiri dari meja belajarnya, dimana terdapat banyak sekali surat darinya, menemani sepinya. Menarik sekali ketika Arisa terpaksa menunggu kabar darinya, terdiam dengan sabar hingga suara tukang pos terdengar. Raka tak pernah ingkar janji, entah sebetapa pun dia dengki dengan sumpahnya.

Namun belakangan, Raka menaruh luka pada hati Arisa dengan ingkarnya. Sudah lepas lima bulan surat berisi kabar yang senantiasa memberitahu Arisa tentang dirinya luput. Tak pernah terlihat lagi. Tak pernah tersampaikan lagi. Bahkan Arisa sempat pergi ke kantor pos seorang diri walaupun sulit berkat tongkatnya yang seringkali terjatuh, menemui manajer untuk menanyakan surat-surat Raka.

Namun nihil yang didapatnya kecuali usiran yang menaruh pedih pada hatinya, sembilu yang telah menggoresnya dan meninggalkan luka, bagai disiram air panas. Sakit, Raka, sakit. 

Sudah lepas lima bulan tidak ada kabar darinya. Tapi sudah lepas dua tahun dia pergi dari sisi Arisa. Dulu gadis itu tahu, menyimpan firasat bahwa Raka akan pergi jauh bila dia membiarkannya ikut menjadi sukarelawan dan membantu sebagai dokter perang. Tapi apa daya dia merajuk, memintanya tidak pergi, kehendak lelaki itu sudah bulat.

"Arisa aku akan pulang, bahkan sebelum kau sadar aku sudah merangkulmu seperti biasa," pintanya lembut dengan suara yang takkan pernah bisa Arisa bantah. "Lagi pula aku akan menuliskan surat padamu."

"Tapi bagaimana bila waktu melebar, Raka? Setahun, dua tahun, hingga kau melupakanku dan janjimu?" tanya Arisa dengan panik, tangannya bagai lem menempel pada lengan kekasihnya itu. "Aku tidak ingin kehilanganmu."

Raka tersenyum melihat Arisa dan manjaannya, tapi ini bukan waktu untuk bahagia dikhawatirkan oleh gadis itu. Seperti Raka yang pernah berjanji akan menikahi gadis itu dan membina keluarga bahtera, dia pula memiliki sumpah untuk membantu sebagai dokter perang yang akan berkecamuk. Dia tidak bisa memilih di antara keduanya, maka dia memutuskan melaksankan keduanya dengan caranya sendiri.

"Aku akan pulang, Arisa, kapan aku pernah mengingkari janjiku?" ucapnya dengan penuh kasih sayang, mengecup pelan kening kekasihnya. "Pernah?"

Ketika itu Arisa tidak tahu akan Raka yang kelak mengingkari janjinya dan raib. Maka Arisa mengangguk, melepasnya pergi.

***

Dengan tongkat yang setia mengangkatnya berdiri, dia dapat dengan leluasa memandang seseorang yang untuk kesekian kalinya mengunjungi kantor pos, menuntut janji yang diingkari kekasihnya. Dengan kelu lagi-lagi hanya menatap yang dilakukannya walau perih rasa di dada, walau gatal lengannya ingin merangkulnya seperti dulu.

Entah karena malu ataupun gengsi, Raka merasa tidak memiliki alasan untuk menepati janji masa depannya lagi dengan Arisa. Raka merasa tidak pantas untuk Arisa, sebetapa pun dia berujar tentang fisik tidak ada artinya dalam cinta karena cinta beralaskan hati dulu. Walaupun dia tahu cinta tak perlu mata untuk memandang.

Maafkan Raka, Arisa. Hanya karena satu peluru menyasar dan merengut kaki kanan Raka, lelaki itu menarik diri untuk menetapi janji masa depan mereka. Kini Raka tergopoh-gopoh untuk mengunjungi kekasihnya, melihatnya dengan pedih dari jauh. 

Apakah khianat itu ada, Arisa? Karena walaupun Raka senang melihat gadis itu begitu setia menantinya, tapi jauh di dalam relung Raka ingin dia berhenti. Melupakan lelaki itu dan meneruskan hidup.

Beralaskan itu pula Raka berhenti menulis surat, dia ingin dilupakan oleh gadis itu, berharap dia berhenti meraba kertas-kertas pemberiannya dengan tangan itu. Meraba sebagai ganti matanya yang tidak ada sedikit pun jejak hitam. Arisa buta.

 

  • view 148