Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 17 Juli 2018   15:14 WIB
Secangkir Kopi



Pagi ini, jika kamu ingin meminum secangkir kopi, siapa yang akan menentukan rasa kopinya? Kopinya atau kamu?
Pagi ini, jika ada seseorang yang menyuguhkan kopi yang memang diracik tanpa gula, siapa yang akan menentukan bagaimana kamu akan menikmatinya? Kopinya atau kamu?

Ada banyak hal yang harus kita putuskan di dalam hidup ini. Ada banyak pula alternatif jalan yang disuguhkan. Hingga mau tidak mau, kita selalu saja dihadapkan dalam pilihan-pilihan hidup, yang tak jarang itu adalah sebuah keputusan besar yang akan menentukan langkah-langkah kita selanjutnya di masa depan. Sebuah keputusan besar yang secara tidak langsung akan menentukan seperti apa "bentukan" kita nanti. Dan sebuah keputusan yang tak mungkin bisa kita ulang lagi, meskipun kita bisa berupaya "memperbaikinya" dimasa depan, tapi tetap saja, setiap keputusan kita akan menjadi cerita yang tak akan bisa dirubah kembali. :)

"Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat." (QS. Al. Baqoroh : 45)"

Allah yang memberikan ujian, dan Allah jugalah yang memberi kunci bagaimana caranya agar kita bisa menghadapi segala ujian yang harus kita lalu.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Hanya kepada kamilah kamu di kembalikan." (QS. Al -anbiya : 35)

***

Menunggumu.

Aku tau, hidup ini semata-mata bukan hanya tentang menunggumu saja. Tapi, tetap saja aku menunggu. Menunggu kamu yang belum pernah aku temui, dan barangkali kita tak pernah saling mengenal sebelumnya. Atau kamu yang aku kenal, tapi kita tak pernah sama-sama tahu bahwa kelak kita akan dipersatukan Tuhan. Atau barangkali kita pernah saling bertemu, tetapi hanya berpapasan tanpa curiga sedikitpun, bahwa kamulah seseorang yang selalu aku tunggu. Dan qodarullah, bila saat itu tiba, kita akan sama-sama yakin dan memutuskan untuk berhenti menunggu.

Menunggumu.

Menunggumu bagaikan secangkir kopi yang kuracik setiap pagi. Kadang-kadang aku mencampurkannya dengan satu sendok gula, terkadang pula aku lebih menikmati rasa aslinya yang sedikit pahit. Tapi ada satu yang tak berubah darinya ; tentang aroma. Seperti itulah pahit manisnya menunggumu, tetapi aku yakin, perjuangan ini adalah 'aroma kopi' yang tiada duanya. Sungguh, telah banyak hal yang terjadi selama aku menunggumu.

Dan satu yang perlu kamu tahu. Aku tak bisa diam saja untuk menunggumu.

Aku adalah seorang manusia dengan potensi yang harus kugali. Aku adalah manusia yang harus 'melakukan sesuatu hal' untuk 'sesuatu yang lain'. Aku adalah manusia yang sangat senang dengan hal-hal baru. Aku adalah manusia yang merasa bahwa diam adalah membunuh diri sendiri. Aku adalah manusia yang terlahir dengan mimpi-mimpi. Aku menunggumu dengan menjadi diriku sendiri. Aku menunggu dengan caraku.

Dan mereka memintaku untuk diam, dan menunggumu saja.

Dan aku tak bisa..

Menunggumu adalah secangkir kopi yang kuracik tiap pagi, dan aku punya cara untuk menikmatinya.

Semoga Allah selalu menjagamu, dan menjagaku dalam penantian di jalanNya.
















Karya : Dyah Ambarwati