Sajadah Usang (Tukang Tenun)

Sajadah Usang (Tukang Tenun)

Dyah Ambarwati
Karya Dyah Ambarwati Kategori Puisi
dipublikasikan 11 Juni 2018
Sajadah Usang (Tukang Tenun)

Ada rindu yang tertambat ngilu dalam syair perempuan tua yang gerimis tanpa putus siang malam di atas sajadah usang berlapis ari kelam yang ia anyam hatihati di sepanjang nafas yang satusatu. Mudanya luruh dalam simpuh yang setia, menyulam bah air mata yang ia susun menjadi anak tangga; tempat jejak doa berpijak.

Riwayat ini tentang pilin harap yang mereka rangkai bersama, para perempuan yang terlahir dari perempuan yang dilahirkan oleh perempuan. Dan aku terlahir, sebagai perempuan, pewaris tunggal sajadah usang yang dirindui malam ; perempuan puisi berpeluh sunyi.

Dan aku diajari ibukku, sejak dalam rahim tukang tenun itu suatu kali "perempuan tak lemah, nak!" katanya. "Kau berharga!". Sesuatu yang kurapal bersama detik yang membesarkanku, hingga aku mampu berpijak dengan kakiku sendiri, tanpa pernah kau hardik langkah ; namun kau jahit tetapaknya dengan doa yang tiada putus, yang benangnya terpintal dari putihnya uban di ubunubunmu. Lalu aku berjalan, berlari, berjalan,dan sesekali terjatuh lalu tegak dan kembali berlari. Tak khayal, aku pongah dalam mimpi dan ambisi ; mencari dunia yang kusebut bahagia.

Terlalu jauh aku, dan rupa tukang tenun itu nyaris buram dalam ingatan. Terlekat aroma rindu yang memaksaku untuk mengenang hangatnya anyaman rahim yang nyaris pecah, pun anyir darah yang tumpah bak bandang ; demi aku yang meronta melihat dunia (fana).

Dan darah itu menetes, dari kedua mataku. Dan diantara selasela jari tangan, melekat di tetapak kaki. Di jalan jalan panjang yang kujalani. Amis. Bau. Mual. Perih ; tak lagi ada jalanjalan putih, hanya labirin darah yang membuatku hampir mati. Dan wanita yang nyaris tak ku kenal itu berlindung di antara sayap sayap jibril. "Hidup tak selalu mulus,nak." lirihnya. "Tapi telah kupintal jurang jurang terdalam itu untukmu, walau dengan seluruh darah di tubuh ringkihku."

Lalu perempuan yang rupanya mulai ku kenang itu raib. Mewariskan sajadah usang yang bersulam air mata, tempat bahagia tertambat. Meninggalkan aroma rindu yang semakin pekat, bersama jahitan luka yang menganga saat jarum tak lagi memintal tenunnya.


Rumah. 1 februari 18

  • view 40