Aikido di mata seorang kohai (1)

Dyah Ambarwati
Karya Dyah Ambarwati Kategori Filsafat
dipublikasikan 18 November 2016
Aikido di mata seorang kohai (1)

Bismillahirrahmanirrahim..

Oleh : Dyah Ambarwati

“Dia memerintahkanmu di dunia ini untuk merenungkan ciptaan-Nya, dan di akhirat Dia akan menyingkapkan untukmu kesempurnaan Dzat-Nya.” (Al Hikam )

Buah pikir itu seumpama air, yang selalu mencari celah untuk terus mencari kumpulannya, menyatu dan mengalir, yang semakin lama semakin simpulah cabang-cabangnya, hingga ia hanya bermuara kepada yang Satu. Selayaknya air, keruhlah ia di dalam bejana tanpa jalur. Maka menulis adalah celah itu, untuk bergerak memurnikan pemikiran dari sebuah sudut pandang (saja) yang bergeliat mengikuti naluri kebenaran.

Beberapa bulan belakangan, kurang lebih 4 bulan, saya mencoba menekuni (atau katakanlah mengamati) sebuah beladiri bernama Aikido. Dikatakan bahwa, Aikido merupakan beladiri yang terkandung di dalamnya filosofi kehidupan.

Sebagai Filosofi Kehidupan

Bung hatta, dalam bukunya “Alam pikiran Yunani”, mencoba menjelaskan apa yang disebut dengan filosofi. Beliau mengambil pemahaman yang dilukiskan seorang filsuf bernama Windelband, filosofi berarti merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata, atau sebut saja berpikir merdeka tanpa dibatasi kelanjutannya.

Hal ini berseberangan dengan pandangan buya Hamka yang termaktub dalam bukunya pandangan hidup muslim, “Berpikir bebas, tapi terbatas”. Dengan bahasanya yang khas, beliau menjelaskan bahwa akal dan fikiran merupakan pemberian Allah Subhana Wata’ala, yang menjadi sebab tingginya kedudukan manusia dibanding makhluk lain. Bertambah maju sebuah kehidupan, maka bertambah maju pula fikirannya. Kecenderungan fikiran selalulah ingin mencari dan mencari lagi, dan terus kembali mencari. Tak akan berhenti, sampai bertemulah dengan hakikat itu. Maka sebab itulah, muncul filosofi dan ilmu pengetahuan. Keduanya, filosof dan ahli pengetahuan, sama-sama mengorbankan usia, mempergunakan fikiran mencari hakikat yang nyata. Menggali sampai ke seberang yang nampak. Sampai yang tak nampak pun jadi nampak. Tak nampak pun dengan mata, nampak jelas dengan fikiran. Atau jelas dengan fikiran sendiri, belum jelas oleh fikiran orang lain.

Fikiran ada batasnya, terdapat pagar yang tak boleh dilampaui. Tetapi fikiran bukan fikiran, bila ia tidak mencoba melampaui batas larangan. Nabi Adam as pun, dengan mendekati pohon khulud telah mencoba melanggar batas larangan, meski telah sering kali dikatakan untuk jangan mendekati pohon tersebut. Namun ia mendekat jugalah, dan dimakannya buah itu.

Pada akhirnya, ada banyak buah fikiran yang dihasilkan oleh para filsuf yang membuat sebagian, sebagai orang beragama, patut marah karena fikiran yang tiada batasnya tersebut. Dalam dunia islam, di bawah pimpinan para ulama, pernah menutup rapat pintu untuk belajar filsafat. Bahkan mendengar namanya saja, sudah antipati. Hal itu dikarenakan ketakutan kalau-kalau akan sesat dalam agama, karena fikiran yang kian hari kian menjalar. Namun, ada bahaya pula dari menutup pintu ini, yakni kelesuan dalam berfikir dan hilangnya kemampuan diri menghadapi kemajuan zaman. Sebagai seorang muslim, kita tidak patut untuk hilang akal. Karena di samping filosof-filosof besar, kita memiliki nabi-nabi utusan Allah Subhana Wata’ala.

Seperti yang dikatakan Sayid Jamaluddin al afghani, “Berfikir yang mendalam, tak dapat tidak, akhirnya akan membawa kita ke dalam alam filsafat. Memang berfilsafat adalah puncak kesempurnaan berfikir, dengan belajar dan menyelidik. Adapun nubuwwat (kenabian) dan risalah (kerasulan) adalah anugerah Illahi yang dilimpahkan karuniaNya kepada hambaNya yang dipilih-Nya. Nabi ma’shum dan dituntun oleh wahyu Illahi. Adapun ahli hikmah dan filosof adalah pejuang yang berjuang mencari hakikat, yang kadang-kadang bertemu, kadang-kadang tidak. Kadang-kadang tersalah, kadang-kadang benar. Kadang-kadang berhasil, kadang-kadang gagal.”

Begitulah Jamaluddin membawa kembali filsafat yang telah “di talak” itu, kembali dalam rumah tangga islam.

Maka, terangkailah sebuah nasihat yang indah. “Berfilsafatlah, tetapi jangan ditinggalkan pangkalan. Laksana pemburu yang hendak mengharungi rimba mencari kijang. Sebelum berangkat, berilah tanda dulu pada permulaan jalan, agar tak tersesat bagaimanapun jauhnya jalan yang dilalui. Menjalarlah fikiran terus, dan kuncilah dengan ucap keimanan, “Wallahu a’lamu bishsawabi”. (Tuhan yang lebih tau mana yang benar).

Disaat filosof mengajarkan kita untuk bertanya, “Siapakah engkau, hai hakikat?”

Maka, Tuhan dengan perantara nabi-nabi dan rasul-rasulnya, memberi jawab, “Inilah Aku!”

“Illahi, La takilni ‘ala nafsi”

(Ya Tuhanku, jangan aku dibiarkan mengembara seorang diri.”

 Bersambung* (InsyaAllah)

--- Wallahu a’lamu bishsawabi ---

Sumber referensi :

  1. Hamka. Pandangan hidup muslim. 1992. PT Bulan Bintang : hal 71 – 77.
  2. Bung Hatta. Alam Pikiran Yunani. 1980. Universitas Indonesia Press : hal 3.

 

  • view 222