Jangan Pergi Lagi

Dwitasari Dwita
Karya Dwitasari Dwita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 September 2016
Jangan Pergi Lagi

Aku melirik ke arah ponselku, membalas puluhan pesan dengan wajah malas. Kutulis segala macam emotikon dengan lambang tersenyum bahagia, ditambah dengan gambar-gambar stiker yang seakan menunjukan aku begitu antusias berbincang dengan seseorang di percakapan dunia maya, tapi tahukah kamu-- apa yang sesungguhnya aku rasakan saat itu? Hanya kehampaan yang berganti menjadi kesepian. Hanya tanda tanya yang tidak kunjung menyentuh jawaban. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari ini, bertukar sapa lewat dunia maya bersama seseorang yang tidak sepenuhnya aku inginkan. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada ini, berbalas pesan singkat bersama seorang pria yang tidak aku harapkan, karena sesungguhnya jiwaku hanya menginginkan sapaan darimu.

Aku menatap jam dinding. Berharap waktu bergerak menuju pukul tiga pagi, saat-saat menyenangkan dalam hari-hariku karena dulu kamu menyapaku lebih dulu, melalui chat di Whatsapp. Setiap jam tiga pagi, saat seluruh pekerjaanmu selesai, aku pada akhirnya bisa mengetahui kabarmu dan cerita menyenangkan yang terjadi selama beberapa jam yang lalu. Kamu bercerita dengan suara antusias di ujung telepon, dengan suara tawa khasmu yang selalu aku rindukan, dengan suara tawa yang kini tidak lagi kudengar. Dan, pukul tiga pagiku, kini tidak ada lagi kamu. Apa yang ada di sini? Hanya suara berat seorang pria yang setiap hari berganti, sebentar si itu, besok si ini, lusa si anu, tiga hari lagi pria lain yang tidak sepenuhnya aku kenali. Lihatlah, betapa menyedihkannya hidupku setelah kamu memutuskan pergi. Aku berganti-ganti mendengar suara pria yang sesungguhnya tidak pernah aku ingini.

Siang itu, beberapa hari yang lalu, aku tertawa cekikan sambil memakan cemilan yang aku pesan. Menatap wajah pria di depanku, yang menceritakan segala dunianya, leluconnya, mimpi-mimpinya padaku. Tapi, tawa itu hanyalah topeng yang sudah aku persiapkan sejak jauh-jauh hari, karena aku sudah membayangkan akan berada dalam situasi ini, dalam tempat yang sebenarnya tidak ingin aku kunjungi, tapi harus aku datangi-- demi melupakanmu, demi menghanguskan kenangan kita dalam pikiranku. Dan, kamu tidak akan tahu seberapa besar usahaku untuk bertemu orang-orang baru, bertukar cerita dari satu hati ke hati yang lain, hanya untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa di luar sana masih ada sosok yang lebih baik darimu, meskipun aku tahu tidak mudah mendapatkan yang lebih baik, jika aku pernah kehilangan kamu yang terbaik.

Aku tenggelam dalam sebuah peluk yang tidak sepenuhnya menenangkanku. Kutatap langit-langit kamar itu, pada sosok yang merangkulku. Rangkulan yang aku rasakan dalam rintik hujan, hujan adalah saat terbaik untuk menyandarkan tubuhku di lenganmu, posisi terbaik yang selalu berhasil membuatku percaya-- Tuhan sengaja mengirimkanmu untukku agar aku tidak pernah lupa caranya tersenyum. Tapi, aku sungguh lupa, bahwa pria yang selalu berhasil membuatku tersenyum adalah pria yang tidak pernah gagal untuk membuatku terluka. Kamu profesional dalam menyakitiku, pandai menyapu segala perasaanku, mengubah yang tadinya pelangi menjadi mendung lagi. 

Aku kembali tenggelam dalam peluk pria itu lagi, aku bersandar lekat di dadanya dan berharap mencium aroma tubuh yang sama seperti aroma tubuhmu. Namun, jelas sia-sia. Pria itu bukan kamu. Tetapi, aku tidak putus asa, aku menceritakan segalanya yang bisa kuceritakan pada pria itu, berharap dia mempunyai respon yang sama seperti setiap kali kamu merespon ceritaku. Namun, sama sia-sianya. Tidak ada ketertarikan apapun yang dia tunjukan dengan ceritaku. Lalu, aku menyerah, tetap berada di peluk pria itu, sambil berharap keajaiban, seandainya kamulah sosok yang aku peluk. 

Kamu tidak akan kembali lagi, itu yang aku tahu. Jutaan air mata yang menetes pun tidak akan membawamu kembali ke dalam pelukku. Sebagai perempuan yang kaudatangi hanya saat butuh, aku harusnya sudah mengerti bahwa kehilanganmu adalah porsi yang harus dirasakan oleh si jalang yang menyediakan diri jadi yang kedua. Aku pasang badan untuk mencintaimu, memperjuangkanmu, mengagungkanmu, meskipun tidak dalam prioritasmu. Aku membiarkan diriku tersakiti oleh sikapmu yang tidak pernah menganggapku ada. Semua membuatku terluka, namun entah mengapa kamu selalu berhasil membuat aku percaya bahwa kita akan sampai di akhir yang aku inginkan, akhir bahagia yang sudah aku bayangkan. Setiap kali aku ingin berhenti menjalani hubunagn serba tak pasti ini, kamu kembali memelukku dengan erat, memberikan lenganmu, mengeratkan genggaman tanganmu, sekaligus membuat aku percaya bahwa kausungguh mencintaiku.

Ketololanku yang terbesar adalah aku begitu percaya bahwa kamu akan menjadikanku satu-satunya kelak dan menyadari bahwa kekasihmu yang telah bersamamu selama dua tahun itu tidak akan pernah memberi kebahagiaan utuh padamu. Kebodohanku yang paling mutlak adalah aku tidak pernah mengeluh pun meminta seluruh waktumu untukku, rasanya sejam dua jam sudah sangat cukup bagiku untuk membuat rindu di dada sedikit menghilang, walaupun saat kamu pergi dan harus kembali pada kekasihmu, hanya rindu menggunung yang aku tanam sembari menunggumu pulang lagi.

Kamu sudah pergi tanpa ucap kata pisah, menghilang tanpa jejak, bahkan tidak lagi menyapaku seperti biasa. Bodohkah jika aku berharap Tuhan sedikit memberi empati hingga waktu membawamu kembali? Aku perempuan yang tidak menuntut segalanya, kamu tahu itu. Aku perempuan yang banyak diam, yang menerima apapun yang ingin kamu lakukan. Aku tidak banyak berbicata ataupun meminta, aku hanya ingin kamu kembali dan kita sebahagia dulu lagi.

Aku tidak peduli, jika kembali padamu adalah dosa yang harus aku lakukan lagi. Aku tidak peduli, jika memang harus menjadi si bodoh yang jatuh cinta dengan kekasih orang. Aku tidak peduli jika ribuan omongan berkata bahwa aku akan menjadi penghancur hubunganmu dengan dia. Yang aku tahu, aku tidak serendah itu, dan apa salahnya jatuh cinta dan mendoakan orang yang paling kita cintai? 

Karena doaku hanya tertuju padamu, kamu yang bodoh, yang tolol, yang menyebalkan, yang membuat aku kembali menemukan jalan terang di tengah himpitan kegelapan. Kenangan akan membawamu kembali. Dan, aku yakin, kamu tidak akan pernah lupa, siapa yang pertama kali ada di saat kamu terpuruk seperti kemarin, jelas bukan kekasihmu -- tetapi aku.

Satu hal yang harus kautahu. Kumencintaimu.

*****

Miliki segera #NovelSpyInLove karya terbaru Dwitasari, klik di sini