Melepasmu Setiap Hari Jumat

Dwitasari Dwita
Karya Dwitasari Dwita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Agustus 2016
Melepasmu Setiap Hari Jumat

Kamu memintaku untuk melepaskanmu di hari Jumat. Di hari itu, kamu sudah menjadwalkan diri untuk bertemu seseorang, jadwal hari Jumat itu sudah lahir bahkan sebelum kamu mengenalku. Dan, aku tersenyum penuh arti ke arahmu, menyadari bahwa tidak ada yang bisa diganggu gugat di sini. Maka, seikhlas hati, kulepaskan dirimu di hari Jumat, namun tentu dengan air mata yang menderas di pipi.

Hari ini, aku melewati Jumat dengan setumpuk meeting yang harus aku datangi. Seluruh buku catatanku telah penuh oleh poin-poin pertemuanku dengan banyak orang. Layar laptopku sudah dihiasi kata-kata untuk skrip filmku berikutnya. Namun, di layar HP-ku, tidak ada namamu tertera di sana. Dan, aku (terpaksa) tersenyum penuh arti, sekali lagi, berharap di sana kaubaik-baik saja, berharap di sana kamu tidak terluka.

Sebenarnya, aku sangat ingin punya hari khusus bertemu denganmu, seperti punya hari khusus bertemu denganmu di hari Jumat. Namun, aku begitu paham, bahkan aku tidak berhak untuk setiap 24 jam yang kaupunya, untuk setiap 7 hari yang kaumiliki, dan untuk setiap 30 hari dalam sebulan yang ada dalam waktumu. Aku tidak berhak dalam banyak hal, termasuk mengganggu aktivitasmu di hari Jumat.

Karena pertemuan kita begitu haram dilakukan saat hari Jumat, kamu selalu sudah ada janji lebih dulu, dan aku dengan setia mengalah. Tidak ada tuntutan yang bisa aku tawarkan, pun godaan yang mampu membuatmu membatalkan janjimu dengan seseorang di hari Jumat. Orang itu terlalu kuat untuk kautinggalkan dan aku paham kamu terlalu lemah untuk melawan. Jadi, yang bisa aku lakukan, hanyalah menunggu kamu selesai menunaikan pertemuan Jumat-mu, lalu bertingkah seakan kamu tidak melakukan apa-apa di hari Jumat. Kautahu? Itu memuakan.

Memuakan karena aku tidak terlibat dalam pertemuan itu. Memuakan karena kita selalu tidak punya waktu khusus untuk bertemu. Tetapi, dalam peluk di hujan deras sore itu, kamu menjelaskan bahwa aku tidak butuh hari khusus untuk bertemu denganmu, karena aku bisa menemuimu kapanpun yang aku mau. Semua jawaban itu hampir membuatku menabarak langit-langit kamarmu. Buaian kata yang begitu aku percaya, namun perlahan hanya berakhir dalam luka.

Selalu kaubisikan cinta di telingaku, setiap kali kita bertem,  dan memecahkan rindu jadi satuan atom terkecil. Rindu kita adalah atom terbesar yang bisa pecah menjadi kecil jika diredakan dengan kecup dan peluk. Meskipun pada akhirnya perpisahan selalu berhasil mengubah rindu yang kita punya kembali membesar lagi. Tapi, kadang, sebagai yang tak dianggap, aku dilarang banyak-banyak berharap.

Jadi, dalam setiap pertemuan, aku hanya bisa memelukmu sepuas yang aku bisa, sebelum perpisahan sama-sama menjauhkan tubuh kita. Dan, kutatap mata sipitmu, kukecup hidung mancungmu, kucibit pipimu, lalu jemariku membelai puncak kepalamu. Hari berganti dan perasaan ini semakin hari ikut berganti juga. Kamu kini tak hanya sekadar tanda tanya, tetapi kamu ada jawaban yang aku aminkan menjadi kenyataan. Kenyataan yang tidak seindah harapan.

Biarkan harapan dan kenyataan ini berbenturan, entah sampai kapan. Biarkan aku mencintaimu begini, dengan caraku sendiri, cara yang mungkin tidak kamu pahami. Biarkan aku merindukanmu cukup dengan mengirim doa dari kejauhan, karena aku percaya-- doa tidak pernah gagal untul menyelamatkan. Biarkan semua seperti ini, sehingga kita tidak merasa terbebani terlalu banyak atas segala hal terlarang yang terlanjur kita lakukan.

Jatuh cinta denganmu adalah hal terlarang yang menyenangkan. Berpeluk denganmu adalah kesalahan yang selalu aku maafkan. Mengecup keningmu adalah kebahagiaan yang kadang membuatku sedikit bersalah. Aku jatuh cinta padamu yang harusnya tidak perlu menerima perasaan semegah yang aku punya. Kamupun salah karena telah jatuh cinta denganku, seorang perempuan yang terlambat datang kehidupmu.

Sayang, biarkanlah rutinitas melepasmu setiap hari Jumat tetap berulang, karena selalu ada hari Minggu untukku, atau hari-hari lainnya, yang tidak kita rencanakan, tapi entah bagaimana-- kita bisa tiba-tiba bertemu. Biarkanlah kamu tetap menemui kekasihmu di hari Jumat, kemudian berganti memeluk tubuhku di hari-hari lain, karena aku percaya semua ini hanya sementara.

Akan tiba waktunya nanti, kamu sadar siapa yang paling mencintaimu di sini. Dan, saat hari itu tiba, aku yakin bahwa dari Senin sampai Minggu, kau menghabiskan waktumu bersamaku. Dan, saat itu, hari Jumat-mu juga adalah hari milikku.

 

Untukmu,

yang masih belum sadar,

bahwa menomorduakan aku,

adalah sebuah ketololan.

***

Miliki segera buku terbaru Dwitasari yaitu #NovelSpyInLOVE :) Jangan klik ini kalau nggak siap terluka dan baper berkepanjangan!