Aku salah karena terlalu mencintaimu

Dwitasari Dwita
Karya Dwitasari Dwita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Juni 2016
Aku salah karena terlalu mencintaimu

"Ada seseorang yang kamu lepaskan bukan karena kamu tidak lagi mencintainya, tetapi karena keadaan tidak mendukung hubungan kalian, sementara kamu tak mau lagi berjuang sendirian." - @dwitasaridwita

Kita tidak pernah merencanakan segalanya; yang aku tahu tawa dan suaramu selalu berhasil menenangkanku. Aku dan kamu tidak pernah tahu akan dibawa ke mana hubungan ini, yang aku ketahui adalah pelukmu di bawah hujan deras kala itu berhasil membuat aku cukup yakin bahwa ini cinta. Aku tidak tahu, apa maksud dari kata cinta yang selalu kamu bisikan di telingaku, ketika kita tidak pernah memperjelas status hubungan kita.

Dan, aku tenggelam dalam rutinitas merindukanmu serta menunggu chat-mu masuk ke dalam ponselku. Kamu adalah notifikasi favoritku. Setiap ponselku berbunyi, aku harap itu kamu. Setiap panggilan masuk, aku harap itu kamu. Aku selalu berharap padamu, sayangnya aku lupa menyadari-- bahwa berharap terlalu tinggi pada manusia hanya akan membuat hatiku terluka parah.

Aku sadar, apa yang kita lakukan ini telah membuatku mencintaimu. Semua berjalan begitu natural hingga aku tidak bisa menjelaskan secara pasti alasan mengapa aku mencintaimu. Kamu telah menyelinap masuk ke dalam hari-hariku, duduk diam dalam hatiku, memiliki ruang khusus di hatiku, dan aku tak tahu mengapa semua berjalan seterburu-buru ini.

Semua terasa begitu cepat. Begitu cepat juga kamu harus kulepaskan dari genggaman. Sore itu, ketika kamu bilang sebenarnya kamu memiliki kekasih, namun kamu juga mencintaiku, rasanya aku seperti orang tolol kala itu. Rasanya, aku ingin melayangkan ribuan tamparanmu dan menyalahkan kebodohanku yang menerima tawaran perkenalan darimu. Aku telanjur mabuk kepayang, ketika aku mengetahui kamu telah bersama yang lain, rasanya pertahananku runtuh kala itu.

Memang, kita tidak pernah merencakan apapun pada awalnya, namun setelah mengenalmu; aku jadi mulai berani bermimpi. Aku membangun mimpi semegah mungkin dan sangat berharap kamu tergabung dalam seluruh mimpiku, segalanya yang bisa membuatku bahagia hanya kuinginkan kamu ada di dalamnya. Aku sudah membayangkan seandainya suatu hari kita bisa menjalin hubungan lebih serius daripada sekadar hubungan tanpa status. Aku sudah menggambarkan segala rencana di kepalaku untuk mencicipi berbagai masakan dan bertualang kuliner bersamamu. Aku sudah membangun harapan bahwa sesegera mungkin aku kukenalkan kamu pada kedua orangtuaku. Dan, pengakuanmu itu, telah membuat mimpiku hancur.

Kamu tahu aku begitu hancur, tapi kamu masih menatap mataku, menggenggam tanganku, memeluk tubuhku lebih hangat dari biasanya, sambil menawarkan status agar aku bersedia dijadikan yang kedua. Aku tidak cukup yakin bahwa yang kita lakukan ini benar, namun yang aku harapkan hanyalah tetap bersamamu, dan belum ingin kehilangan kamu. Kemudian, kita menjalani hari-hari, hari-hari baru yang bagiku penuh ketakutan karena aku bisa saja kehilangan kamu kapanpun.

Selama menjadi yang kedua, seringkali aku marah karena kamu tidak pernah mencoba untuk menomorsatukanku. Kamu yang selalu menomorsatukan kekasihmu yang sudah menjalin hubungan bersamamu dua tahun itu hanya bisa terdiam dan meminta maaf. Aku tahu, memilikimu dan mencintaimu senormal ketika pasangan kekasih lainnya saling jatuh cinta hanyalah harapan yang tidak akan mencicipi kenyataan. Seringkali saat kita bertemu, aku hanya mengeluhkan mengapa ini semua terjadi, mengapa keadaan tak mendukung kita, mengapa aku harus disembunyikan, mengapa aku tidak boleh memilikimu secara utuh, mengapa kamu tidak sadar bahwa hanya perhatian dan rasa cintaku yang mampu menenangkanmu.

Jika kamu selalu mengeluh bahwa kekasihmu tidak perhatian, bahwa waktu kekasihmu tersita dengan pekerjaan, mengapa kamu tidak mencoba untuk menatap aku yang ada di sampingmu, aku yang berusaha selalu menenangkanmu, aku yang selalu bersedia menyediakan waktu untukmu. Mengapa kamu tidak pernah menoleh sedikitpun ke arahku dan memberi aku kesempatan untuk sepenuhnya memiliki hatimu?

Mungkin memang, keseriusanku padamu hanya terlihat abu-abu. Kamu hanya ingin bersenang-senang, sementara aku hanya menginginkan keseriusan. Kamu hanya menginginginkan pelukan tanpa perasaan, sedangkan aku menginginkan segala sentuhan yang melibatkan cinta. Aku tidak pernah tahu tujuanmu memelukku, mengecupku, dan membisikan cinta di telingaku, hingga aku merasa bersalah ketika telah sampai di titik paling aneh yaitu terlalu jatuh cinta.

Aku merasa bersalah. Aku merasa telah mengkhianati dan membohongi siapapun. Aku hanya mencintaimu dan mengapa semua berubah serumit dan semenyedihkan ini? Jika kamu tahu betul hanya rasa cintaku yang paling kuat daripada rasa cinta kekasihmu padamu, lalu mengapa harus aku yang dijadikan kedua? Jika kamu tahu bahwa rasa keseriusanku jauh lebih besar daripada keseriusan kekasihmu padamu, lalu mengapa harus aku yang selalu mengalah?

Mengapa harus selalu aku yang disembunyikan, jika kamu tahu hanya akulah yang bisa menunjukanmu jalan terang?

Karya Dwitasari lainnya? Klik http://bit.ly/BukuDwitasari :)