Review Buku "HUJAN" Tere Liye

Dwi Ratih Mega Nastri
Karya Dwi Ratih Mega Nastri Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Februari 2016
 Review Buku

Ini adalah karya tere liye yang saya baca sampai tuntas, dalam waktu beberapa jam saja. Bukan karena karya-karya yang lain tidak bagus. Tapi karena, entah kenapa, saya merasa novel atau cerpen bang tere liye agak lebay, galau. Dan itu bukan tanpa alasan. Pertama kali saya baca buku tere liye yang judulnya "Berjuta Rasanya" (ada di rak buku rumah, entah milik siapa). Belum habis membacanya, saya mulai bosan. Saya kurang suka, kata-katanya menurut saya agak berlebihan. First impression itu memang penting sekali. Tapi men-judge sesuatu yang belum kita tahu banyak tentangnya juga tidak sepenuhnya dibenarkan. Saya tahu itu, tapi mau gimana lagi. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi membaca buku-buku tere liye lainnya, padahal saya tahu banyak novelnya (ya, cuma judulnya doang, wkwk) dan orang-orang juga bilang bagus, termasuk adik saya.

Tapi entah kenapa, walaupun saya bukan penggemar sejati penulis satu ini, saya benar-benar kagum padanya. Bagaimana tidak, beberapa bukunya selalu berbaris di deretan buku-buku best seller. Terakhir, saya melihat buku terbarunya berjudul HUJAN disejajarkan dengan buku-bukunya sebelumnya, RINDU dan PULANG. Tidak ada sinopsis di sampul belakangnya. Hanya beberapa kata: Tentang perpisahan, tentang persahabatan, tentang cinta, tentang hujan, tentang melupakan.

?

"Hidup ini memang tentang menunggu. menunggu kita untuk menyadari, kapan kita akan berhenti menunggu." (hlm. 228)

"Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan." (Epilog, hlm. 318)

?

Berlatar tahun 2042-2050, novel ini bisa dibilang bertema science-fiction, namun cukup ringan untuk dipahami. Tentang dunia di masa depan dimana teknologi sudah sangat sangat canggih, menggantikan peran manusia. Semuanya serba otomatis. Namun secanggih-canggihnya teknologi, tidak ada yang dapat menandingi kekuasaan Allah SWT, yaitu alam semesta ini. Sebuah bencana dahsyat terjadi di Bumi. Letusan gunung purba disertai gempa bumi menggemparkan seluruh dunia, termasuk di kota tempat tinggal Lail. Kereta bawah tanah yang ditumpanginya beserta ibunya hancur. Lail melihat langsung dengan matanya sendiri, ibunya jatuh dari tangga darurat saat mereka mencoba menyelamatkan diri. Hanya dua orang yang selamat, Lail dan seorang anak laki-laki yang berusia dua tahun lebih tua darinya, Esok. Hujan menyertai musibah besar hari itu. Hujan yang dulu selalu disukai Lail, kini berubah menjadi kenangan buruk.

Sejak kejadian itu, Lail menjadi anak yatim piatu, saat usianya masih menginjak 13 tahun. Esok juga kehilangan keempat saudaranya pada kejadian kereta itu. Namun beruntung, ibunya Esok ditemukan selamat di toko kue mereka meskipun kakinya harus diamputasi. Hanya Esok yang mengurus, memperhatian dan menghibur Lail selama di pengungsian. Bahkan, Esok menyelamatkan Lail saat akan terjadi hujan asam.

Setahun kemudian kota mulai berbenah. Infrastruktur dan rumah-rumah penduduk dibangun kembali. Pengungsian akan ditutup dan mereka akan dipindahkan ke panti sosial. Esok adalah anak yang pintar dan menonjol selama di pengungsian sehingga ada orang kaya yang bersedia menjadikannya anak angkat. Esok berat meninggalkan Lail sendirian, tapi demi pengobatan ibunya dan masa depannya, ia terpaksa menerima tawaran adopsi itu.

Di panti sosial, persahabatan Lail dan Maryam, teman sekamarnya, dimulai. Berbeda dengan Lail yang merasa hidupnya 'jatuh' setelah bencana, Maryam malah sebaliknya. Sejak dulu ia yatim piatu dan tinggal di panti asuhan. Tinggal di panti sosial dengan fasilitas yang lebih baik adalah suatu kemajuan baginya. Maryam anak yang humoris, membuat Lail merasa sangat nyaman berteman dengannya.

Setahun kemudian, Esok diterima di universitas dan jurusan terbaik di Ibu Kota. Tahun depannya Lail dan Maryam diterima di organisasi relawan sekaligus menjadi yang termuda. Bulan dan tahun berlalu, Lail dan Esok hanya dapat bertemu beberapa kali, saat Esok libur semester, walau hanya sehari karena jadwal penelitian yang padat, atau saat Lail menerima penghargaan dari organisasi relawan di Ibu Kota. Selebihnya, Lail menyibukkan diri dengan kegiatan relawan maupun tugas sekolah untuk menghilangkan rasa rindu pada sahabat kecilnya itu. Begitu seterusnya, hingga ia diterima di jurusan keperawatan.

Sudah bertahun-tahun berlalu namun akibat dari bencana dahsyat itu masih dapat dirasakan. Beberapa negara subtropis mengalami penurunan suhu signifikan terus-menerus yang menghambat seluruh aktivitas negara tersebut, sehingga pemerintahnya memutuskan melakukan intervensi pada lapisan stratosfer. Usaha ini berhasil. Namun, di daerah tropis seperti kota Lail menjadi dampaknya. Suhu menurun drastis hingga salju turun, menebal, dan mematikan sektor pertanian dan sektor lainnya.?

Penduduk yang merasa terancam melakukan demonstrasi besar-besaran mendesak pemerintah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan negara subtropis. Perdebatan terjadi karena itu sangat berbahaya, dapat mempengaruhi iklim dunia. Kalaupun berhasil, mungkin hanya untuk jangka pendek. Tapi penduduk tidak peduli. Bagaimana bisa mereka memikirkan jangka panjang kalau untuk jangka pendek saja mereka tidak bisa bertahan hidup. Akhirnya negaranya mengirimkan pesawat ulang alik untuk mengintervensi stratosfer, dan berhasil. Suhu membaik setelah itu, tidak ada lagi salju. Langit biru cerah tanpa awan. Pertanian mulai tumbuh kembali, perekonomian lancar. Penduduk sangat senang dapat hidup normal kembali tanpa takut mati kelaparan karena kehabisan pangan. Tidak butuh waktu lama hingga mereka menyadari hujan tidak akan pernah turun lagi...........

?

Sekian dulu ya reviewnya... Selanjutnya silakan baca sendiri bukunya. :) Yang pasti buku ini cukup sukses membuat imajinasi saya bermain. Alur ceritanya maju mundur. Ada banyak pelajaran tersirat dari ceritanya kalau direnungkan lebih dalam. Ide ceritanya menarik, penuh kejutan (seterkejut saja melihat buku ini tanpa daftar isi) dan membuat penasaran dengan endingnya hingga tak ada pilihan lain selain membacanya sampai tuntas. Overall, novel ini bagus dan saya rekomendasikan untuk dibaca. Sekian dan terimakasih. ^^

?

Surabaya,?02/13/2016

?


  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    11 bulan yang lalu.
    Si Tere lebay? ha ha ha. . emang sih ada terselip lebay nya. Tapi saya sangat terkesan dengan alurnya. Yang selalu sukses membuat penasaran pembaca untuk terus membuka lembar demi lembar hingga akhir.

  • arka 
    arka 
    1 tahun yang lalu.
    Buku ini memang keren

  • Ssena 
    Ssena 
    1 tahun yang lalu.
    Gak kebayang kalo novelnya dibikin film

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Hmm... Saya belum baca.
    Sama, saya kurang suka dengan tulisan Tere Liye. Tapi bagaimanapun ia penulis sukses dan berbakat.

    Reviewnya lumayan.

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Saya juga udah baca bukunya, super keren!

    • Lihat 2 Respon