Tentang Sahabat

Dwi Ratih Mega Nastri
Karya Dwi Ratih Mega Nastri Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Juli 2016
Tentang Sahabat

Siang ini ia duduk di ruang baca di kampusnya. Posisinya tepat di samping jendela. Tatapannya mengarah langsung ke sebuah gedung tujuh lantai. Sejenak ia melamun. Matanya memandang ke depan, tapi pikirannya tiba-tiba melaju ke belakang. Bangunan tinggi itu sontak membuat pikirannya melayang ke masa lalu. Sudah hampir tiga tahun, tapi kenangan itu kerapkali muncul. Mungkin terlalu indah sekaligus menyakitkan untuk dilupakan. Sahabat terbaik yang pernal ia kenal kini tinggal kenangan. Sahabat sepenanggungan dan seperantauan dari luar pulau. Sahabat jauh yang didekatkan karena kesamaan karakter diantara keduanya.

Pepatah itu benar, ada orang yang datang ke dalam hidup kita hanya sebentar, tapi kenangan dan pelajaran yang diberikan bisa terus menggema sepanjang kehidupan. Mungkin salah satunya kenangan bersama sahabatnya itu. Dan gedung itu selalu memancingnya untuk keluar. Ia tahu betapa besar perjuangan sahabatnya melawan penyakitnya disana, tanpa putus asa, bahkan keluhan sedikitpun. Operasi, kemoterapi hingga seluruh rambut dan alis rontok, dia sukses menyembunyikannya dibalik senyum dan canda tawa di depan seluruh teman-temannya. Like a drama, huh? Tak ada keluhan sama sekali selain rasa sakit dari penyakitnya, yang terkadang mungkin juga dia sembunyikan. Dia tidak ingin merepotkan orang lain, membuatnya khawatir apalagi dikasihani. Ahh,, bagaimana bisa ada orang sebaik itu? Ia teringat kata sahabatnya itu bahwa banyak orang ingin tahu tentang kita, tapi tidak semua orang peduli dengan apa yang kita rasakan. Dari sahabatnya itu pula ia belajar tentang keikhlasan, kesabaran dan semangat hidup yang luar biasa. Dia ingat sekali suatu saat sebelum kuliah dimulai, sahabatnya memintanya untuk membantu menghitamkan alis mata agar alisnya yang sudah rontok tidak keliatan.

Dia yakin Allah telah menghapuskan seluruh dosa sahabatnya itu melalui penyakitnya. Dia pasti sudah bahagia disana kan? Pikirnya dalam hati. Sekarang ia sedang berjuang untuk cita-cita dan masa depannya. Ingin rasanya mengeluh tapi malu. Malu pada Tuhannya yang masih memberikannya kesempatan waktu dan kesehatan. Meskipun terkadang ia sedih, ketika mengingat mimpi dan cita-cita yang pernah ia ukir bersama sahabatnya, termasuk janji lulus dan wisuda bersama, kini pupus sudah tinggal kenangan.


"Bad memory doesnt hurt, beautiful memory does." Bagian paling menyakitkan dari kehilangan sahabat adalah memiliki kenangan indah bersama mereka yang tidak mungkin bisa terulang lagi. Tapi ia yakin inilah jalan terbaik bagi dirinya dan sahabatnya itu. Ia ingat sebuah ayat, bahwa boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu amat baik bagi kita. Begitu juga sebaliknya. Karena Allah Maha Mengetahui sedangkan kita tidak. Allah mendengar doanya. Kini ia punya sahabat baru, bahkan lebih dari sebelumnya. Dia menikmati persahabatannya yang baru, karena ia tahu rasanya kehilangan, dan karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari... See you in heavean, dear. :)

"Your life maybe end, but your story and struggle, never!"

 

Surabaya, Juli 2016

Menjelang kelulusan