The Law of Moral Causation

Dwi Putri Setyani
Karya Dwi Putri Setyani Kategori Inspiratif
dipublikasikan 29 Januari 2016
The Law of Moral Causation

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji sawi sekalipun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar seberat biji sawi sekalipun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.? (QS. Al Zalzalah: 7-8)

?

Alkisah, di sebuah desa yang permai, hiduplah sebuah keluarga bahagia yang di rumahnya terdapat seekor tikus, ayam dan kambing. Karena mengetahui ada tikus dirumahnya, sang pemilik rumah pun membeli sebuah perangkap tikus. Mengetahui perangkap yang akan mengancam jiwanya, si tikus pun gelisah bukan main. Dia berlari kencang menuju si Ayam, berharap mendapat bantuan. ?Gawat yam gawaaat. Majikan kita naruh perangkap tikus dirumah. Namun sayang, si ayam hanya menoleh sambil menjawab, "So what? Gue mah ga peduli. Yang penting kan gue selalu jadi ayam kesayangan majikan."

Mendengar jawaban si Ayam, Tikus pun merasa sedih. Namun ia pantang menyerah. Ia berlari terengah-engah menuju si Kambing dan menceritakan masalah yang sama. ?Perangkap tikus? Ih ngerii juga ya, tapi maaf Kus itu tidak ada urusannya denganku. Pergilah, aku mau melanjutkan menyantap rumput-rumput segar ini.??

Mendengar jawaban kambing dan ayam, rasanya harapan tikus pun sirna. Kemudian ia mengurung diri di rumahnya. Ia tak pernah sedikitpun terlihat keluar karena sangat ketakutan. Suatu hari seekor ular yang sedang kelaparan, mencari keberadaan tikus. Namun sayang sungguh sayang ia gagal menemukannya. Ia pun bertanya pada Kambing, namun kambing juga sudah lama tidak melihat tikus. Kemudian, ular pun bertemu dengan ayam dan menanyakan keberadaan tikus. Ayam pun tidak tahu. Ia bilang pada ular bahwa mungkin tikus sudah mati kena perangkap sang majikan. Mendengar berita itu, ular sangat kesal. Karena ia sudah tidak kuat menahan rasa laparnya, maka ia pun melahap si Ayam sebagai gantinya.

Keesokan harinya, sang pemilik rumah murka melihat ayam kesayangannya hilang. Seisi rumah pun sibuk mencari kesana kemari namun si ayam tiada kunjung ditemukan. Sang pemilik rumah pun menduga kalau si ayam telah dimakan si ular. Lalu pemilik rumah dengan dibantu tetangga-tetangganya ramai mencari keberadaan ular tersebut. Akhirnya ditemukan dan dibunuhlah ular itu. Untuk merayakan keberhasilannya, sang pemilik rumahpun menyembelih kambingnya sebagai rasa terimakasih kepada para tetangganya karena telah membantu menemukan ular sialan yang diburunya.

Guys, itulah analogi orang-orang yang apatis dan tidak peduli dengan sekitar. Kisah itu saya dapatkan di acara Weekend bareng Hi Lo di Blackbone Coffee & Bistro sebulan yang lalu. Kebetulan saya dan dua teman saya (Alda & Bagus) diundang sebagai perwakilan dari komunitas Sobat Bumi Semarang. Narasumbernya langsung dari Pak Benny Danang, dosen Unika yang bergerak dibidang lingkungan alias environmental expert. Meskipun bahasa ceritanya tidak sama persis seperti yang beliau ceritakan, namun kurang lebihnya seperti itu hehe.

Belajar dari kisah diatas, ketika kita memutuskan untuk tidak peduli dengan urusan kecil orang lain, maka kita tidak pernah tahu bahwa boleh jadi kelak urusan kecil tersebut justru akan menjadi bumerang bagi kita. Contoh kecilnya yaitu kepedulian kita terhadap lingkungan. Seringkali kita apatis dengan lingkungan sekitar. Membuang bungkus permen dari dalam mobil / motor di jalan-jalan. "Alah itu kan cuma bungkus permen, kecil. Paling ntar juga disapu sama tukang sapu jalanan." Nah mental-mental yang kaya gini nih, yang perlu diperbaiki. Bayangin aja kalau jutaan orang Indonesia melakukan hal yang sama. Bisa jadi bungkus permen beterbangan di jalan-jalan, nyungsep ke selokan dan bikin banjir deh.

Ah bukannya kalau kita melihat bencana di daerah lain kita cuek. Banjir? Yang penting bukan daerah kita. Kebakaran hutan? Kan di Riau, jauh. Ngga nyampe sini lah. Tanah longsor? Hello, gue tinggalnya di perumahan elit kale. Bayangin aja kalau sewaktu-waktu kita yang kena bencana itu. Rumah kita kebakaran, atau kebanjiran. (Nauzubillah). Mau alibi apa lagi kita? Bukankah Allah bias melaknat kita sewaktu-waktu? Lihatlah apa yang terjadi dengan si Ayam dan Kambing yang cuek dan apatis dengan sekitar? Merekalah yang mati duluan. Sedangkan si Tikus? Dialah satu-satunya yang masih terselamatkan. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah membuka hati kita untuk mau peduli dengan urusan orang-orang di sekitar kita. Ingatlah bahwa kebaikan dan kejahatan sekecil apapun akan mendapat balasannya. Yep, the law of moral causition atau hukum sebab-akibat moral. Di agama Budha hal itu disebut sebagai karma. Sedangkan dalam Islam sudah disebutkan di surat Al-Ahzab ayat 7-8, yang intinya menceritakan bahwa Alah itu Maha Adil. Jadi, segala perbuatan manusia pasti ada balasannya, baik itu di dunia atau di akhirat. Itu ayat Alqur?an loh, sumbernya langsung dari Allah, bukan dari manusia. Bukankah janji-Nya itu pasti??

Menariknya, selain Pak Benny terdapat juga dua narasumber yang nggak kalah keren, yaitu Mas Cahyadi (Runner Up Hi Lo Green Leader 2015) dan Mba Disma (Miss Earth Indonesia ECO Friendly Costume 2014.) Ada juga Green Fashion Show, yang kostumnya terbuat dari plastik daur ulang dan bakau. Jadi nggak ngerusak alam gitu, keren kan karya anak bangsa kita? :)

?

?

  • view 162